Filosofi Bakpao dan Rengginang: Jangan Tergoda Ingin Kaya, Baktikan Hidupmu untuk Sesama (3)

0
260 views
Mica bersama Liem Tjay yang berdiri di kanan. (Koleksi keluarga Liem Tjay)

BEBERAPA hari yang lalu, kita melepaskan kepergian Ibu Theresia. Ini peristiwa yang sangat membekas bagi keluarga.

Tidak mudah memang melepaskan kepergian untuk selama lamanya orang yang dicintai.

Sungguh tidak mudah.

Setiap kali saya memberi Sakramen Perminyakan Suci kepada orang sakit, posisi telapak tangan selalu terbuka agar dapat diolesi minyak suci.

Ketika Raja Aleksander Agung mangkat, tangannya terbuka. Dikatakan Aleksander tidak mau menggenggam erat erat yang bukan menjadi miliknya, yakni nafas kehidupan.

Hidup kita ini hanya pemberian dari Tuhan. Maka benar kata Ayub: “Tuhan yang memberi, Tuhan jugalah yang mengambil” (Ayub 1:21).

Sulit untuk memahami apa yang dilakukan oleh Ayub. Kita yang mempunyai keterikatan batin dan emosi, tidak mudah mengiklaskan orang yang tercinta pergi selama lamanya.

Dalam hal ini adalah ibu yang tercinta. Seorang ibu keluarga adalah orang yang mampu menghadapi berbagai macam penderitaan. Apalagi selama sakit

Apa yang dicatat di hati Liem Tjay?

  1. Tanggal 25 Agustus, mereka itu sama-sama dijemput Tuhan dengan status bukan MKC (Meninggal Karena Corona), melainkan RIP (Requiescat in Pace).
  2.  Sejenak bersama Santa Monika.

Karena ketekunan dan keuletan doa Santa Monica sebagai ibu, Augustinus akhirnya bertobat. Peristiwa pertobatan merupakan puncak dari segala kebahagiaan hidup Santa Monica.

Santa Monica, bakpao, dan rengginang. (Ist)

Hal ini terlukis di dalam kesaksian Agustinus sendiri perihal percakapan mereka tentang perjalanan kembali ke Afrika:

“Kami berdua terlibat dalam pembicaraan yang sangat menarik, sambil melupakan liku liku masa lalu dan menyongsong hari depan.

Kami bertanya– anya, seperti apakah kehidupan para suci di surga. Dan akhirnya dunia dengan segala isinya ini tidak lagi menarik bagi kami.

Ibu berkata: “Anakku, bagi ibu sudah ada sesuatu pun di dunia ini yang memikat hatiku. Ibu tidak tahu untuk apa mesti hidup lebih lama. Sebab, segala harapan ibu di dunia ini sudah terkabul.”

Dalam tulisan lain, Augustinus mengisahkan pembicaraan penuh kasih antara dia dan ibunya di Ostia Roma:

“Sambil duduk di dekat jendela dan memandang ke laut biru yang tenang, ibu berkata: “Anakku, satu–satunya alasan yang membuat aku masih ingin hidup sedikit lebih lama lagi ialah aku mau melihat engkau menjadi seorang Kristen, sebelum aku menghembuskan nafasku.

Hal itu sekarang telah dikabulkan Allah, bahkan lebih dari itu, Allah telah menggerakkan engkau untuk mempersembahkan dirimu sama sekali kepada-Nya dalam pengabdian yang tulus kepada-Nya. Sekarang apa lagi yang aku harapkan?”

Beberapa hari kemudian, Monika jatuh sakit. Kepada Agustinus, ia berkata: “Anakku, satu–satunya yang kukehendaki ialah agar engkau mengenangkan daku di altar Tuhan.”

Perempuan luar biasa ini wafat pada tahun 387 M di Ostia, Roma. Kisah hidupnya membuktikan kepada semua bahwa doa yang tak kunjung putus akan selalu didengarkan Tuhan.

Pengaruh ibuku

Ibuku menjadi sumber sebagai inspirasi yang membuatku mengerti tentang arti kepedulian terhadap sesama.

Satu hal penting yang membuatku begitu kagum pada ibu.

Ibuku ini berbeda dengan ibu-ibu lainnya yang mungkin mengharapkan anaknya sukses secara materiil. Tidak. Ibuku sama sekali tidak pernah menginginkan anaknya hanya sukses secara materiil.

Ibuku tidak pernah meminta anaknya untuk menjadi  seorang yang kaya raya dan mampu membelikan rumah, mobil, pakaian, makanan yang mewah dan juga membiayai namun tak mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya.

Satu yang ibu minta dariku, dia seringkali berpesan padaku, “Buat ibu, kamu bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk umat, agama dan Tuhanmu itu sudah lebih dari cukup. Itu yang mampu menyelamatkan kamu dan orangtuamu diakhirat nanti.”

Kata-katamu akan selalu kuingat, Bu.

Tepian Serayu, Banyumas

Nico Belawing Setiawan OMI

(Selesai)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here