Garam Keluarga Vinsensian di Sekolah Mardi Waluya Bogor

0
355 views
Pertemuan Garam Keluarga Vincensian di Sekolah Mardi Waluya Bogor. (Ist)

KELUARGA Vinsensian Indonesia se Jabodetabek dan Bandung baru saja menyelenggarakan pertemuan secara daring dan luring dengan tema “Garam Keluarga Vinsensian”. Acara diselenggarakan di aula Sekolah Mardi Waluya Bogor.

Pemapar materi acara adalah Koordinator Keluarga Vinsensian Indonesia: Romo Ignatius Suparno CM.

Acara diawali dengan kata sambutan dari Dr. Juanli selaku Koordinator Tim Systemic Change Kevindo. Ia berharap pertemuan yang dihadiri tujuh puluhan Vinsensian itu dapat menjadi sesuatu yang bisa saling menguatkan kembali untuk mengisinya dengan karya pelayanan lebih baik lagi.

Mengawali pemaparannya, Romo Parno CM menjelaskan sifat garam adalah mengasinkan dan ‘menghidupi’.

Demikian pula para Vinsensian diharapkan terus menghidupi semangat dan teladan Santo Vinsensius a Paulo. Inilah sosok imam yang sangat peduli pada orang miskin; baik secara fisik, mental dan spiritual.

Pengikut semangat Santo Vincentius a Paolo

Vinsensian merupakan sebutan bagi para pengikut keteladanan Santo Vinsensius a Paulo. Mereka mewadahi komunitasnya dengan sebutan Keluarga Vinsensian.

Anggota Keluarga Vinsensian di Indonesia terdiri dari para klerus, bruder, frater Kongregasi Misi (CM). Dari kalangan para suster ada yang dari Kongregasi PK, KYM, PMY, SCMM, SdC, PI dan Alma.

Para frater datang dari Kongregasi CMM, BHK, HHK,FC, FIC, Alma, Komunitas KKM, SSV, KKYM, YKBS, Kevinlo, AIC dan MaVi.

Sebutan istilah “Keluarga Vinsensian” dipilih karena memiliki ikatan mendalam untuk saling mendukung dan menguatkan dalam karya pelayanan.

Membumikan semangat belarasa terhadap kaum miskin papa dan terpinggirkan sesuai semangat rohani warisan Santo Vincentius a Paolo. Dikatakan saat berlangsung pertemuan di aula Sekolah Mardi Waluyo Bogor di antara para penggiat Keluarga Vinsensian. (Ist)

Membangun solidaritas

Satu tubuh dalam keluarga Vinsensian mengandung pesan alkitabiah yaitu saling merasakan sukaduka, kecemasan dan harapan anggota keluarganya.

Maka solidaritas menjadi penanda semangat satu keluarga. Terlebih terhadap para anggota yang sedang berjuang di tempat lain untuk melawan kemiskinan; bangkit kembali setelah tertimpa bencana dan karya belas kasih.

Lapisan tubuh dari Keluarga Vinsensian terdiri dari tarekat dan kelompok awam yang hidup berdasarkan semangat Vinsensius.

Mereka yang didampingi adalah para mantan anggota tarekat yang tetap berniat mau melestarikan semangat Santo Vinsensius, para alumni dari tempat karya dan para penerima manfaatnya seperti murid dan asuhan.

Vinsensius, “garam” Gereja pada zamannya

Santo Vinsensius lahir dari sebuah kampung kecil Pouy (Berceau) di Perancis. Misionaris Kongregasi Misi ini menjadi “Santo Agung di Abad yang Agung’ menurut Pier Coste, seorang sejarawan.

Menurutnya, mengerjakan karya belas kasih bukan untuk sekedar berbuat baik. Namun tentang untuk menghadirkan buah dari kontemplasi akan wajah Kristus.

Pencerahan Salamanca

Pada tahun 1972, studi Vinsensian dilakukan di Salamanca, Spanyol. Dengan inti kajian pada Kristus yang diimani Santo Vinsensius.

Seorang penulis bernama Jose Maria Ibanez mengungkapkan, bagi Vinsensius “jeritan orang miskin adalah suara Tuhan.”

Itulah yang memberi cara pandang baru dalam memandang Kristus, Gereja, dan kaum miskin.

Titik balik iman Vinsensius

Menurut Abelly, titik balik dalam krisis iman Vinsensius terjadi ketika ia memutuskan untuk menghidupi perintah Kristus. “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk saudara-Ku yang paling hina ini, telah kau lakukan untuk Aku.” (Mat 25:40)

Dasar perintah itu menjadikan Santo Vinsensius menghormati Kristus dan mengikuti-Nya secara lebih sempurna dari sebelumnya dan memberikan seluruh hidupnya untuk melayani kaum papa miskin. (Abelly 111,115-116).

“Crucified Lord is in the crucified peoples” mengartikan Tuhan yang tersalib dalam wajah saudara-saudari yang tersalib oleh kemiskinan zaman ini.

Sejarah kelam yang selalu ada adalah sejarah  tentang kaum miskin. Mereka selalu ada.

Yesus berkata, “Orang-orang miskin selalu ada padamu.” (Mat 26:11)

Para pelaku semangat belarasa warisan rohani Santo Vincentius a Paolo dari berbagai kalangan; baik dari tarekat religius maupun kaum awam profesional. (Ist)

Kristus

Dalam kacamata Ibanez, Vinsensius berkeyakinan kuat bahwa Kristus adalah Sang Anak Allah yang berinkarnasi dalam sejarah, Allah yang turun dari surga untuk menyelamatkan kemanusiaan.

Kasih Allah dan penderitaan umat manusia menjadi alasan dasar pengosongan diri Allah dan memilih menjadi manusia.

Teologi bagi Vinsensius tak hanya bicara tentang transendensi dan keilahian Allah, tetapi berhubungan dengan Tuhan yang berinkarnasi dengan menjadi manusia hina.

Menyelami mistik Vinsensius

Dalam cinta Kristus yang penuh belas kasih dan rendah hati, Vinsensius menemukan martabat yang mendalam akan diri mereka yang miskin juga nilai berkat yang secara unik mereka miliki demi kerajaan Allah dan sesama.

Wajah Kristus berbicara kepada Vinsensius tentang wajah Allah yang tanpa batas dan cinta Allah yang penuh belas kasih dan mengutamakan martabat kaum miskin.

Menurutnya, kaum miskin adalah anggota Tuhan kita. Maka, melayani kaum miskin sama dengan melayani Tuhan.

Menutup paparannya, Romo Parno CM mengharapkan para Vinsensian untuk terus menghidupi Karakter Pelayanan Kevindo yaitu:

Attentive: Memberi perhatian penuh dan melakukan karya karitatif dan mengusahakan pelayanan terbaik bagi kaum miskin, tersingkir dan difabel. Antara lain dengan mau mendengarkan keluhan kaum papa, mendoakan, menolong yang tertindas dan sebagainya.

Responsif: menanggapi dan membantu memberikan pelayanan bagi kaum papa.

Collaboratif: berusaha bekerjasama dan bersinergi dengan komunitas di dalam gereja, dan komunitas organisasi di masyarakat sehingga tercipta formatio, Gereja yang berguna dan ‘menggarami’ sesama.

“Jadilah Vinsensian yang berjiwa misionaris memiliki misi yang jelas dengan berani keluar dari diri sendiri untuk membawa sukacita dan harapan bagi sesama,” imbuhnya.

Sekretaris Kevindo Sr. Marselina PK berharap dengan pertemuan ini dapat terus menghidupi karya pelayanannya bagi kaum papa.

Acara dilanjutkan dengan misa konselebrasi bersama Romo Ignatius Suparno CM, Romo Adi Sapto Widodo CM, dan Romo Antonius Yuni Winarta CM.

Dalam homilinya, Romo Adi CM mengajak para Vinsensian untuk merefleksikan ‘siapa saya di hadapan Allah’ dan terus berbuat kebajikan bagi kaum miskin, tertindas dan difabel dengan ketulusan dan kerendahan hati seturut teladan Santo Vinsensius a Paulo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here