Gawai Dayak dan Kodrat Ilahi alias Semengat (3)

0
292 views
Ilustrasi: Pekan Gawai Dayak ke-33 di Pontianak. (Gatot Sutopo)

LANTAS poin-poin penting apa saja yang kemudian hendak digarisbawahi dari pemahaman suku Dayak tentang manusia yang memiliki kodrat ilahi (semengat) di dalam dirinya?

Semengat, pertama-tama, seperti yang telah dipaparkan di atas, membuat mereka selalu terarah dan terbuka pada Yang Ilahi.

Keterarahan dan keterbukaan ini nampak benderang dari beragam ritual adat yang mereka tampilkan dalam hidup sehari-hari.

Dalam tradisi berladang, misalnya, ritus-ritus adat hadir mulai dari pemilihan lokasi sampai dengan pesta tutup tahun (gawai adat).

Ritual adat dilakukan sebagai bentuk permohonan izin kepada Petara sekaligus memohonkan berkat agar pengerjaan ladang berjalan dengan lancar, serta agar mendapat hasil panen yang berlimpah.

Sekaligus juga sebagai rasa hormat, sembah dan puji kepada Jubata yang telah menganugerahkan alam sebagai tempat untuk berladang.

Semengat menggerakkan mereka untuk berbuat kebaikan terhadap ciptaan lain.

Tjilik Riwut dalam bukunya Menyelami Kekayaan Leluhur (2003) mengurai pandangannya tentang manusia. Menurutnya, manusia merupakan ciptaan yang paling mulia dan sempurna.

Sebagai ciptaan yang paling mulia dan sempurna manusia harus menjadi teladan bagi ciptaan yang lain.

Menjadi teladan dimaksudkan bahwa manusia harus selalu mengusahakan cinta kasih, perdamaian, kebenaran dan keadilan dalam hidup sehari-hari.

Manusia dalam hidupnya diharapkan senantiasa penuh kasih dan solider terhadap sesama, menghormati dan menghargai orang lain, bersikap rendah hati.

Singkatnya, manusia selalu berusaha untuk memanusiakan sesamanya.

Semengat memampukan mereka untuk menangkap dan membaca tanda-tanda kehadiran Yang Transenden dalam peristiwa atau gejala alam. 

Berkat semengat, mereka mampu membaca fenomena alam yang bisa mendatangkan berkat ataupun kutuk.

Sebuah kemampuan yang tentu saja sangat berguna terutama dalam kehidupan agraris masyarakat Dayak. Mendapatkan hasil panen yang baik dan berlimpah tentu saja menjadi keinginan setiap warga.

Akan tetapi, keinginan tersebut tidak pernah boleh mengabaikan pesan dari Yang Ilahi atau para leluhur yang hadir lewat tanda-tanda atau fenomena alam.

Lewat suara burung atau mimpi, misalnya.

Pengabaian terhadap pesan tersebut hanya akan mendatangkan bencana bagi diri sendiri, keluarga dan seluruh anggota komunitas.

Semengat memampukan mereka menjalin komunikasi dan relasi yang baik dengan sesama. 

Dari gagasan Karl Rahner soal humanisme transendental di atas dikatakan bahwa manusia selain sudah selalu terarah kepada Tuhan.

Ia juga terbuka untuk manusia yang lain dan berhakikat interkomunikatif.

Yang mau ditampilkan di sini ialah hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Setiap orang itu ada, tumbuh dan berkembang bersama dan selalu dalam relasi dengan orang lain serta alam ciptaan.

Inilah dimensi sosial manusia.

Oleh karena itu, adalah sebuah pengingkaran yang fatal terhadap kodrat sosial itu sendiri bila dalam hidup berkomunitas ada anggota yang tidak diperhatikan atau diabaikan.

Diletakkan dalam bingkai pemahaman akan manusia yang berhakikat interkomunikatif, kita kemudian bisa memahami mengapa gawai adat Dayak mesti dilaksanakan dalam semangat kebersamaan.

Harus mengundang sanak keluarga dan kerabat kenalan untuk turut serta menikmati hasil jerih payah dalam berladang.

Salah satu stand pameran kerajinan khas Dayak di Gawai Dayak Pontianak. (Br. Kasta MTB)

Dinikmati banyak orang

Bagi masyarakat Dayak, hasil bumi yang mereka peroleh tidak pernah boleh hanya dinikmati seorang diri.

Karena itulah, setiap tamu yang datang ke rumah harus dipersilakan untuk menyantap hidangan yang telah mereka siapkan.

Inilah bentuk ungkapan syukur atas berkat yang sudah diterima dari Tuhan. Sekaligus sebagai wujud doa agar Tuhan Yang Mahakasih senantiasa melimpahkan hasil ladang yang baik dan berlimpah.

Kemurahan hati tuan rumah ini tak boleh ditolak oleh tetamu. Penolakan selain dilihat sebagai bentuk ketidaksopanan, juga dapat dilihat sebagai bentuk penyangkalan terhadap hidup itu sendiri.

Harap diingat, nasi merupakan berkat dari Sang Pemberi Kehidupan dan sumber kehidupan bagi manusia. Diperlukan kerja keras untuk mendapatkannya.

Menolak berkat dan sumber kehidupan itu sama saja dengan manusia tidak mensyukuri hidup yang telah dianugerahkan oleh Yang Mahakuasa.

Di sini menggema apa yang menjadi falsafah hidup bersama orang Dayak, yang dalam suku Dayak Desa dikenal dengan semboyan: “Kalau abis sama ampit”.

Yang artinya kurang lebih: “Kalau habis, maka itu berarti semuanya sudah mendapat bagian”.

Sebuah falsafah hidup yang mau mengajarkan setiap orang untuk rela berbagi dengan sesama.

Dengan mau berbagi, maka ikatan kekeluargaan dan persaudaraan yang menjadi sumber kekuatan dalam hidup berkomunitas akan selalu terjaga.

Semengat memampukan manusia untuk merawat alam serta mengolahnya dengan penuh hormat dan beradat. 

Alam memiliki jiwa tersendiri, bersifat sakral dan kerap dipersonifikasi sebagai wujud yang mengatasi kuasa manusiawi, yang kepadanya manusia harus menyesuaikan diri, memberikan hormat dan sembah.

Pandangan hidup yang demikian mendorong manusia untuk mengembangkan sikap harmoni terhadap alam.

Agar tidak terjadi bencana dan malapetaka (chaos), maka keharmonisan itu harus terus dijaga.

Gereja Lokal hadir dalam kehidupan para peladang

Ketika membaca kembali Buku Kenangan 50 Tahun Keuskupan Sintang (1961-2011), kenangan akan masa kanak-kanak kembali muncul dalam ingatan saat mata saya tertuju pada nama Pastor Kees Smit SMM.

Beliau adalah misionaris berkebangsaan Belanda. Datang di Indonesia pada tahun 1969. Dari tahun 1974-1995, beliau bertugas sebagai pastor di Paroki Lebang.

Pastor Smit SMM dikenal sebagai pastor yang sangat akrab dengan umat dan sangat rajin turne ke kampung-kampung.

Keakraban itu beliau ciptakan dengan ikut serta dalam berbagai aktivitas harian umat. Dan salah satu aktivitas yang kerap kali beliau ikuti ialah menanam padi (nugal) di ladang.

Apa yang dilakukan oleh Pastor Smit SMM ikut nugal di ladang umat, hingga hari ini masih dilakukan oleh para pastor yang berkarya di Keuskupan Sintang.

Hal ini bisa terjadi mengingat sebagian besar masyarakat Dayak yang ada di Keuskupan Sintang, yang tersebar di tiga wilayah Kabupaten (Sintang, Melawi dan Kapuas Hulu) masih meneruskan tradisi berladang.

Karena itu bukan hal yang mengherankan bila musim berladang tiba, bukan hanya para peladang yang sibuk, para pelayan pastoral juga turut sibuk.

Kisah Pastor Smit SMM dan para pastor yang berkarya di Keuskupan Sintang hendak menampilkan kehadiran Gereja Katolik di tengah suku Dayak.

Secara khusus dalam kehidupan para peladang.

Liturgi

Melalui kehadirannya itu, Gereja mau mengingatkan umat kalau Pesta Tutup Tahun ini bukanlah hanya sekadar untuk makan, minum, menari-nari, dll.

Gereja mau mengajak umat untuk sungguh menyadari kalau hasil panen yang mereka terima merupakan anugerah dari Tuhan yang sudah sepatutnya mereka syukuri dan tidak untuk dinikmati seorang diri.

Oleh Gereja, rasa syukur itu diungkapkan dalam dan lewat perayaan liturgi. Secara khusus dengan menggelar Misa Syukuran Gawai Dayak.

Gawai Dayak.

Mengapa mesti dirayakan dalam perayaan liturgi?

Sebab liturgi adalah kenangan akan karya keselamatan Allah dalam sejarah umat manusia, juga sekaligus melalui liturgi Allah mengerjakan karya keselamatan-Nya, sehingga dengan merayakannya umat beriman memandang kehadiran serta karya Yang Ilahi.

Konsili Vatikan II dalam dokumen Konstitusi tentang Liturgi Suci (Sacrosanctum Concilium) no.10, menegaskan: “Liturgi itu puncak yang dituju oleh kegiatan Gereja, dan serta-merta sumber segala daya kekuatannya.”

Akan tetapi, liturgi bukan hanya sebatas perayaan saja, melainkan dari perayaan liturgi diharapkan tumbuh kehendak untuk berbuat kebaikan.

Dalam dokumen yang sama ditandaskan, “Liturgi mendorong umat beriman, supaya sesudah dipuaskan dengan sakramen-sakramen Paskah sehati-sejiwa dalam kasih, supaya mereka mengamalkan dalam hidup sehari-hari apa yang mereka peroleh dalam iman.”

Dalam perayaan misa syukuran ini, biasanya juga secara simbolik diadakan pemberkatan atas benih padi dan alat-alat pertanian.

Benih padi diberkati dengan harapan agar kelak ketika ditanam bisa menghasilkan buah yang baik. Sehingga hasil panen akan berlimpah ruah.

Sementara itu berkat dimohonkan atas alat-alat pertanian bukan bertujuan untuk menjadikannya sebagai jimat yang sakti.

Melainkan agar Tuhan berkenan memberkati dan melindungi saat mereka bekerja serta menggunakan alat-alat pertanian itu melulu demi kemuliaan-Nya saja.

Begitulah.

Gawai Dayak dengan cara sedemikian rupa menjadi momen dan ruang bagi manusia Dayak dalam mengekspresikan dirinya sebagai makhluk religius sekaligus makhluk sosial.

Ekspresi diri tersebut bermuara pada satu tujuan, yakni membangun dan memelihara relasi yang harmonis dengan Yang Kuasa, dengan sesama, dengan leluhur dan dengan alam.

Dari pihak Gereja lokal. Kehadirannya semata-mata dilandasi oleh keyakinan, sebagaimana ditandaskan oleh Konsili Vatikan II dalam dokumen Konstitusi Pastoral tentang “Gereja di Dunia Dewasa ini” (Gaudium et Spes) no. 58:

“Sebab Allah, yang mewahyukan diri-Nya sepenuhnya dalam Putera-Nya yang menjelma, telah bersabda menurut kebudayaan yang khas bagi pelbagai zaman.

Aneka ragam budaya manusia sungguh dapat menjadi medan pewartaan Gereja menyebarluaskan dan menguraikan pewartaan tentang Kristus, untuk menggali dan semakin menyelaminya, serta untuk mengungkapkannya secara lebih baik dalam perayaan liturgi dan dalam kehidupan jemaat beriman yang beraneka ragam”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here