Gejala dan Perilaku Star Syndrome, Momok Menakutkan di Panggung Medsos (1)

0
146 views
Ilustrasi: Melihat cermin by Romo Antonius Suhud SX.

MARI masing-masing diri kita bisa temukan Bintang Sejati kita di era digital. Karena,“Dia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil.” Yohanes 3:30.

Catatan pengalaman pribadi

Paparan berikut ini berangkat dari pengalaman pribadi. Kebetulan, tugas kerasulan saya saat ini adalah menjadi anggota tim pendampingan anak-anak dan remaja di Rumah Retret Syalom, Bandungan, Ambarawa, Kabupaten Semarang.

Materi harus selalu di-update. Keharusan ini memaksa dan senantiasa menantang saya untuk selalu menemukan materi yang relevan dengan anak zaman now.

Saya bersyukur menjalani tugas pelayanan bimbingan retret ini. Itu karena selain wawasan menjadi semakin luas. Ternyata juga menemukan banyak butir-butir nilai spiritual. Terjadi setiap kali saya mempersiapkan materi dan kemudian harus mengolahnya.

Lalu perlahan saya sadari, tambahan wawasan hidup spiritual itu bisa mengalir di dalam diri saya. Pada gilirannya, semua temuan reflektif pada akhirnya menjadi energi batin yang terus menerus mampu mengubah dan mengembangkan kualitas hidup.

Star syndrome

Tuhan hadir di dalam segala zaman. Juga hadir di dalam setiap generasi; lengkap dengan segala tantangannya. Salah satu tantangan di era digital ini adalah munculnya godaan yang muncul di dunia media sosial. Namanya adalah star syndrome.

Star syndrome adalah istilah untuk menggambarkan orang yang merasa dirinya sudah amat sempurna. Lebih parah lagi, ia juga merasa diri lebih baik dari orang lain.

Zaman dulu mungkin hanya orang-orang tertentu yang mengalami syndrome jenis ini. Mereka yang dulu rentan dengan gejala ini adalah kaum selebriti. Orang-orang yang ngetop di jagad pergaulan sosial. Juga mereka yang merasa diri jadi terkenal. Hanya karena sering muncul di televisi. Pendek kata, mereka adalah selebriti.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, pengguna media sosial pun dapat mengalami star syndrome. Terjadi, setelah merasa diri punya banyak follower. Ketika hal ini berhasil mereka capai, maka ini bisa memicu gejala awal munculnya star syndrome.

Orang-orang yang mengalami hal ini, biasanya sering menganggap dirinya seperti bintang yang mengagumkan serta terkenal. Merasa dirinya adalah sosok yang paling hebat, tidak mau kalah dengan orang lain.

Biasanya seseorang yang mengalami syndrome ini butuh perhatian serta rasa kagum dari orang lain yang berlebihan. Karena kebutuhan inilah, mereka menjadi sulit berempati pada orang-orang sekitarnya.

Pamer by Faultable

Gejala perilaku

Lalu gejala  apa yang tampak dalam kehidupan sehari-hari sehingga seseorang mengalami star syndrome ini?

Saya mencoba mencari tahu dari orang-orang yang berpengalaman. Agar saya sendiri juga “waspada” dengan bahaya terkena jebakan gejala terhinggapi star syndrome.   

Kata mereka, gejala star syndrome tampak di dalam kecenderungan berperilaku yang suka memilih-milih dalam berteman. Jika tidak sefrekuensi dengannya, maka dengan berbagai cara berusaha untuk disingkirkan. 

Teman yang dipilih hanya orang-orang tertentu yang dianggap selevel dan bisa patuh dan tunduk kepadanya.  Selain itu, munculnya perilaku arogan. Karena ingin selalu ingin dihormati dan menjadi “nomor satu”. Ini disebabkan, karena mereka merasa menjadi orang yang paling hebat. Hasilnya, begitu persepsinya, juga harus selalu sempurna.

Gejala lain dari orang yang mengalami star syndrome ini adalah hanya mau terlibat dalam pembicaraan yang memiliki tema kelas tinggi. Mereka biasanya memiliki standar yang mengkategorikan materi pembicaraan  seperti yang termasuk di dalam citarasa kelas tinggi. Tentu saja, hal itu menjadi benar karena harus sesuai dan menurut versi dirinya. Atau harus sesuai dengan citranya.

Hal ini mereka lakukan untuk mendapatkan perhatian, rasa kagum atau bahkan rasa hormat dari orang lain atas dirinya. Akhirnya, terjadi kecenderungan untuk selalu ingin merendahkan orang lain. Dan perilaku asosial ini nantinya perlahan-lahan akan menjadi gaya hidupnya yang baru.

Tanpa disadarinya, sikap dan perilaku merasa diri “top” itu perlahan-lahan akan membuatnya kehilangan emosi empati terhadap orang lain. Orang yang tidak selevel  dengannya akan dianggap tidak bermutu.

Demikian itu menurut persepsi versi dirinya. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here