Geng Mafia Narkoba Mexico Masuk Gereja, Tembak Tewas Dua Pastor Jesuit dan Pemandu Wisata (1)

0
143 views
Dua imam Jesuit tewas ditembak oleh geng mafia narkoba Mexico (Vatican News)

NAMA kawasan itu adalah Tarahumara. Berupa kawasan permukiman penduduk dengan tekstur wilayah bergunung-gunung.

Terletak di Cerocahui, Negara Bagian Chihuahua – sekitar 12 jam perjalanan darat dengan mobil dari Ibukota Mexico City. Jaraknya kurang lebih sekitar 567 km jauhnya dari Negara Bagian Texas, Amerika Serikat.

Di kawasan Tarahumara, Negara Bagian Chihuahua inilah, dua orang imam Jesuit dan seorang pemandu wisata telah tewas ditembak oleh geng anggota mafia perdagangan narkoba Mexico, hari Sabtu tanggal 20 Juni 2022.

Kedua pastor Jesuit yang tewas itu adalah Romo Javier Campos Morales (79) dan Romo Joaquín César Mora Salazar (80).

Sedangkan, nama pemandu wisata yang diburu geng mafia narkoba itu adalah Pedro Eliodoro Palma Gutiérrez.

Kawasan terpencil namun terkenal

Kawasan terpencil ini dikenal tidak jauh dari Copper Canyon, di mana para turis asing suka mendatangi kawasan ini dengan naik kuda atau sekadar menikmati pemandangan alam – jauh dari wilayah perkotaan dan hanya dihuni oleh para penduduk asli lokal saja. Mereka mendatangi kawasan ini dengan naik KA yang legendaris: El Cheppe.

Mencari pemandu wisata, Jesuit ikut jadi korban

Kisahnya dimulai, ketika gerombolan mafia narkoba ini menguntit dan mengejar seorang pemandu wisata yang kedapatan bersembunyi di sebuah gereja di kawasan permukiman pegunungan tersebut.

Kehadiran seorang pemandu wisata ini dianggap “membahayakan” praktik ilegal memproduksi heroin yang secara diam-diam selalu dilakukan oleh mafia narkoba Mexico.

Mereka sering memanfaatkan kawasan terpencil di wilayah pegunungan agar tidak diendus oleh aparat keamanan lokal.

Malang tak dapat ditolak oleh kedua pastor Jesuit.

Ketika pemandu wisata itu ketahuan bersembunyi di dalam bangunan sebuah gereja, maka para pengedus itu datang merangsek masuk gereja.

Tak ayal, kedua pastor Jesuit sepuh itu pun kena tembakan dan tewas seketika di TKP. Karena dianggap menghalangi upaya pencarian pemandu wisata yang tengah diburu oleh geng mafia narkoba ini.

Kedua pastor Jesuit -Romo Javier Campos Morales (79) dan Romo Joaquín César Mora Salazar (80)- tewas di dalam gereja di mana mereka telah “terjebak” berada di radius jarak tembak.

Ikut tewas dalam penggrebegan yang dilakukan geng mafia narkoba ini adalah Pedro Eliodoro Palma Gutiérrez – nama pemandu wisata yang malang itu.

Otororitas Ordo Serikat Jesus Provinsi Mexico sedang mengusahakan agar kedua jenazah pastor Jesuit yang malang itu bisa segera dievakuasi untuk kemudian dimakamkan secara layak.

Tanggapan otoritas Gereja Lokal

Berita tewasnya dua imam Jesuit dan seorang tour guide di Sierra Tarahumara itu jangan hanya dilihat dengan sebelah mata. Sebagai satu insiden “kecelakaan” semata yang “berdiri sendiri”. Melainkan, kata otoritas Gereja Lokal, mesti dilihat dalam sebuah bingkai persoalan sosial yang lebih luas dan dalam.

Yakni, semakin merebak luasnya praktik ilegal memproduksi heroin secara massif di tempat-tempat terpencil. Dengan memanfaatkan kondisi alam yang jauh dari “pengintaian” aparat keamanan. Juga memperkerjakan penduduk asli lokal. Yang tentu saja juga di bawah ancaman: kalau mau selamat, ya harus mau kerja untuk mafia narkoba ini.

“Sama seperti kasus-kasus lain sejenisnya di seluruh kawasan Mexico, Sierra Tarahumara juga tak pernah bebas dari kekerasan bersenjata dan penderitaan mereka kurang mendapat perhatian,” demikian suara protes dari otoritas Gereja Lokal.

“Setiap hari, banyak warga lokal dengan brutal dibantai oleh geng narkoba. Termasuk yang baru saja menimpa dua anggota Jesuit kami,” komentar petinggi Ordo Serikat Jesus Provinsi Mexico.

Menurut SJ, terbunuhya kedua pastor SJ itu tentu saja bukan merupakan satu insiden peristiwa yang “berdiri sendiri”, terpisah dari rentetan peristiwa lainnya.

Sebelum pernyataan ini bisa terjawab, kasus itu telah memicu “ketegangan” di jajaran pemerintahan, kelompok-kelompok pejuang HAM dan tentu saja Provinsi SJ Mexico. Mereka “marah” atas terjadinya insiden penembakan yang makan korban tewas sebanyak tiga orang di dalam gereja.

“Pemerintah harus segera mengusut tuntas kasus ini,” demikian cuitan Alejandro Mereno dari kelompok oposisi.

Ia juga menuduh kasus-kasus pembunuhan oleh mafia geng narkoba ini semakin mengikis kepercayaan publik atas ketidakmampuan Pemerintah Mexico menggilas habis kelompok preman narkoba.

Dalam sebuah konferensi pers di Mexico City yang digelar hari Minggu petang kemarin, Presiden Mexico Andrés Manuel López Obrador menyebutkan, ketika geng itu merangsek masuk gereja untuk memburu pemandu wisata, mendadak kedua imam Jesuit itu muncul dan tertembaklah keduanya.

Presiden mengaku pemerintahnya sudah mengindentifikasi para penyerbu itu, namun tidak mengungkapkan lebih detil. Juga tidak mau menyebut alasannya mengapa mafia geng narkoba itu terkesan sangat berkepentingan memburu Palma Gutiérrez – sang pemandu wisata itu.

Namun, publik sangat tahu bahwa kawasan Negara Bagian Chihuahua itu memang sejak lama sudah jadi “sarang” geng mafia narkoba.

Pastor Jesuit ketiga selamat

Yang menarik, geng preman itu tidak sampai menembak pastor Jesuit ketiga yang juga berada di dalam gereja. Demikian menurut penutuuan Narce Santibáñez, humas Provinsi SJ Mexico.

Kedua pastor Jesuit itu ditembak dari jarak dekat. Ketika dimintai agar kedua jenazah imam Jesuit itu sebaiknya ditinggalkan saja di gereja, demikian penurutu Narce, geng preman itu menolak permintaan pastor Jesuit ketiga yang selamat.

Tindakan ini sangat dikecam oleh Keuskupan Tarahumara.

Perang total aparat keamanan Mexico terhadap geng-geng mafia narkoba sudah dimulai sejak tahun 2006. Namun sampai sekarang, aksi penegakan hukum itu rupanya belum tuntas membuahkan hasil gemilang.

Hal yang sama juga terjadi di Filipina. Presiden Duterte berani melakukan “perang total” terhadap geng-geng mafia narkoba di Filipina. Namun, upaya “peradilan jalanan” ini telah ditentang oleh otoritas Gereja Katolik Filipina dan kelompok pejuang HAM.

Karena dianggap melanggar HAM dan meniadakan proses peradilan yang selayaknya. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here