Gua Maria Bukit Pena di Mamasa, Sulbar untuk Semua Kalangan (4)

0
104 views
Perayaan liturgis di Ziarah Gua Maria Bukit Pena di Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat.

DARI refleksi alam pikiran Penginjil Yohanes ini, dapat disimpulkan bahwa spiritualitas Maria yang hidup di Bukit Ziarah Pena tidak diganti, melainkan diperlebar, diperluas.

Patung bunda berukuran besar dengan tangan yang terbuka menjadi simbol bahwa tempat ziarah ini terbuka kepada masyarakat luas; untuk semua bangsa. Spiritualitas ini juga sejalan dengan sifat Gereja yang umum, Katolik, universal.

Jika, pada awalnya, tempat ziarah ini digagas untuk kebutuhan umat setempat di Paroki Santo Petrus Mamasa atau daerah Mamasa, maka kini tempat ziarah ini adalah untuk semua orang yang merindukan damai dan persatuan.

Spiritualitas tempat ziarah ini  berkembang keluar, kemudian menjadi satu rangkaian dengan dua tempat ziarah di keuskupan ini, yaitu:

  • Ziarah Bunda Maria Pieta di Soppeng selalu diadakan pada bulan Mei.
  • Ziarah Keluarga Kudus Sa’pak Bayo-bayo di Sangalla pada bulan Juli.

Latar belakang tempat ziarah Bunda Maria Pieta Soppeng ini adalah penganiayaan kelompok ekstrim pada Komunitas Kristiani di Tanah Bugis. Maka, orang datang ke sana untuk menguatkan imannya bersama dengan keteguhan iman Bunda Maria.

Demikian juga di Ziarah Sa’pak Bayo-bayo pada bulan Juli,mengusung tema keluarga dengan latar belakang dari keluarga Bapak Uskup sendiri. Tempat itu didukung dengan sentuhan ekologi,  karena tempatnya sungguh alami dan dahulu menjadi tempat ritual agama asli orang Toraja (Aluk to dolo).

Umat Allah yang datang berdevosi di Bukit Ziarah Maria Bunda Segala Bangsa Bukit Pena pun juga dapat menimba beberapa rahmat rohani yang khas, yaitu cinta kasih, persatuan, universalitas, perdamaian, dan kemajemukan.

Lahan besar untuk umat berdoa dalam kerangka desain.

Tujuan ziarah

Kemudian, sebagai sebuah tempat ziarah, Bukit Ziarah Pena sejak awal menekankan bahwa pertama-tama tujuan orang berdoa atau berdevosi bukan untuk mendapat mukjizat, meski sudah cukup banyak mukjizat yang terjadi di tempat ini.

Kita berdoa dan berdevosi untuk menguatkan iman dan membawa segala persoalan hidup kita kepada Tuhan. Mengenai jawaban Tuhan bagaimana itu hak perogatif-Nya sebagai Sang Pencipta.

Namun dengan iman itu kita yakin bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik. Dalam sebuah devosi peziarahan ada figur iman yang diteladani, dan dalam hal ini Bunda Maria.

Dalam Luk 2:19, Maria menyimpak segala perkara itu di dalam hatinya. Iman Maria mewakili kehidupan kita manusia yang kadang sulit untuk dipahami.

Hijau dan asrinya suasana di Bukit Pena Mamasa dalam kerangka desain.

Iman yang baik sebagai seorang peziarah bagaikan tanah yang subur (Luk 8:4-15). Tanah yang subur adalah tempat yang baik bagi bertumbuhnya sabda Tuhan sehingga menghasilkan buah yang berkelimpahan.

Maria pun menjadi teladan bagaimana menjadi tanah yang subur dengan kerendahan hatinya. Kata kerendahan arti dalam bahasa Inggris adalah humility, yang berasal dari kata dasar “humus”, yang artinya subur.

Kemudian pada saat Maria diserahkan kepada Gereja, itu juga berarti bahwa Gereja senantiasa mampu bersikap seperti Bunda Maria.

Gereja dalam bahasa Latin “berjenis kelamin” feminin – Ecclesia-ae.

Gereja adalah mempelai Kristus. Maka Gereja juga bisa bertindak sebagai seorang ibu yang senantiasa melindungi anak-anaknya. Tangan Maria yang terbuka juga menjadi lambang Gereja yang terbuka bagi semua orang.

Selama ini, para peziarah datang dari berbagai tempat ke Pena dengan membawa berbagai persoalan hidup. Dengan berdoa bersama Sang Bunda, orang tidak boleh lari dari persoalan itu.

Sering terlihat pemandangan selama peziarahan di Pena bagaimana ornag-orang datang membawa rosario mereka untuk diberkati oleh Uskup.

Deretan bangku duduk dalam kerangka desain.

Bahkan ada juga yang berusaha untuk menyentuh jubah uskup di tengah kerumunan orang banyak. Tangisan pun terdengar di dalam keheningan para peziarah yang berdoa di hadapan Bunda dengan lilin yang bernyala.

Itu semua menunjukkan bagaimana orang datang membawa persoalan hidup mereka di tempat ziarah ini.

Persoalan-persoalan yang terjadi sepanjang sejarah Mamasa sejak berdirinya tempat ziarah ini, sungguh membutuhkan doa dari Bunda.

Mulai dari persoalan-persoalan keluarga yang terjadi di Mamasa yang menjadi alasan awal pembangunan tempat ziarah ini, bencana alam banjir dan longsor besar yang pernah terjadi hingga gempa bumi pada akhir tahun 2018,  persoalan dalam masyarakat  hingga sosio-politik dalam warna kemajemukan yang kental di Mamasa.

Semua itu  sangat membutuhkan doa Bunda yang selalu ingin menyatukan anak-anaknya.

Demikian juga kini dengan spiritualitas yang diperluas kepada semua orang, kita yakin Bunda Maria dengan semangat awal yang adalah Ratu Pencinta Damai, kini menjadi Bunda Segala Bangsa, sungguh mempersatukan masyarakat di Mamasa, di negara kita, hingga seluruh dunia.

Nantinya dirancang seperti ini sesuai kerangka desain.

Per Mariam ad Iesum

Per mariam ad Iesum mendapat penekanan di tempat ziarah ini. Berkali-kali pada kesempatan ziarah, Bapak Uskup Keuskupan Agung Makassar Mgr. John Liku Ada’ menegaskan bahwa devosi kepada Bunda Maria harus berakhir pada Perayaan Misteri Paskah atau Ekaristi.

“Akan tetapi, sambil mengindahkan masa-masa liturgi, ulah kesalehan itu perlu diatur sedemikian rupa, sehingga sesuai dengan liturgi suci; sedikit banyak harus bersumber pada liturgi, dan menghantar Umat kepadaNya; sebab menurut hakikatnya hal besar liturgi memang jauh unggul dari semua ulah kesalehan itu” (SC. 13).

Liturgi, khususnya yang berpuncak pada Perayaan Misteri Kristus dalam Ekaristi, menjadi akhir dari ziarah bersama Bunda Maria.

Perayaan Ekaristi di Bukit Pena Mamasa sekali waktu di zaman dahulu.

Per Mariam ad Iesum ini sangat sejalan dengan spiritualitas Maria Bunda Segala Bangsa yang bersumber pada peristiwa salib.

Bapak Uskup menjelaskan bahwa tradisi ziarah dalam Gereja Katolik dapat direfleksikan  sebagai salah satu tugas murid murid  Kristus  mengambil  bagian  dalam tri munera Christi,  yakni:

  • Mewartakan: nabi, guru.
  • Menguduskan: imam.
  • Menggembalakan: gembala, pastor.

Inilah rinciannya:

  • Tugas mewartakan  mewujud nyata pada Liturgi Sabda malam di depan Gua Maria dan Liturgi Sabda dalam Perayaan Ekaristi; 
  • Sedangkan tugas menguduskan pada Salve dan Liturgi  Ekaristi dalam Perayaan  Ekaristi;
  • Tugas menggembalakan tentu saja dalam seluruh rangkaian kegiatan ziarah (Perarakan Patung Bunda Maria, Doa Rosario, Salve, Jalan Salib dan Perayaan Ekaristi).

Tradisi ziarah di dalam Gereja Katolik mempunyai peran penting dalam hidup iman umat.

Ziarah menggambarkan kehidupan umat beriman yang sedang berziarah di dunia ini. Dan,  Bunda Maria, Bunda iman kita, adalah teladan dan pendamping utama dalam doa, dalam menapaki ziarah kehidupan ini.

Dalam Injil diungkapkan tradisi ziarah yang juga dilakukan oleh Bunda Maria, “tiap-tiap tahun orangtua Yesus berziarah ke Yerusalem pada Hari Raya Paskah.” (Luk 2:41).

Bahkan, Bunda Maria menyertai perjalanan salib Puteranya dari istana Pilatus sampai ke puncak Kalvari.

Kondo Sapata Wai Sapalelean

Menarik juga bahwa teologi Maria Bunda Segala Bangsa yang menekankan persatuan seluruh bangsa juga sejalan dengan falsafah budaya Mamasa.

Semboyan untuk menyebut Mamasa secara keseluruhan adalah Kondo Sapata Wai Sapalelean. Semboyan ini berarti: “Hamparan sawah yang besar yang menjadi satu karena satu sumber mata air”.

Nama lainnya adalah ‘limbong kalua’ yang berarti kolam yang luas.

Kedua nama ini mengacu pada keberadaan air yang melimpah dan kesuburan tanah. Unsur kesatuan ini sangat kuat dalam falsafah budaya Mamasa.

Orang Mamasa selalu ingin bersatu dengan mengatakan “Mesa Kada Dipotuo Pantan Kada Dipomate”  yang artinya  “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”.

Mengarak patung Maria oleh para frater dalam sebuah kegiatan tahun 2019.

Konteks budaya lokal

Mamasa sendiri sejak awal sejarahnya merupakan kesatuan dari beberapa daerah. Daerah-daerah itu disebut Pitu Ulluna Salu, Karua Ba’bana Minanga, yang kemudian bersatu dalam satu pemerintahan. Istilah tersebut artinya wilayah tujuh kepala adat yg mendiami tujuh hulu sungai, sebagai lambang dari tujuh pemimpin yang  menguasai tujuh hulu sungai atau Pitu Ulluna Salu.

Ini dimulai dari:

  1. Tabulahan
  2. Aralle
  3. Mambi
  4. Bambang
  5. Rante Bulahan
  6. Matangnga
  7. Tabang. 

Sedangkan wilayah lainnya terdiri dari delapan muara di hilir: Karua Babana Minanga atau sering juga disebut Karua Tiparitikna Wai.

Yaitu:

  1. Messawa
  2. Ulumanda
  3. Panetean,
  4. Mamasa
  5. Orobua
  6. Osango
  7. Malabo
  8. Tawalian.

Pembagian wilayah

Istilah ini merupakan simbol pembagian wilayah dan kekuasaan yang mempunyai fungsi berbeda dan ini harus dihormati.

Pembagian wilayah tersebut dibuat oleh Pongkapadang, seorang tokoh mitologis yang merupakan nenek moyang Orang Mamasa yang datang dari Timur (Sa’dan Toraja).

Ke-7 anak dan 11 cucu Pongkapadang inilah yang konon kabaranya menempati wilayah Pitu Ulunna Salu Karua Ba’bana Minanga yang akhirnya berkembang dan beranak pinak. Bahkan masing-masing telah membentuk komunitas sendiri-sendiri, tapi tetap dalam satu kesepakatan yang adil.

Itu karena mereka berasal dari satu keluarga yakni semua adalah keturunan Pongkapadang.

Asal kata

Kata “Mamasa” sendiri berasal dari kata Toraja “Mamase” yang artinya “bersikap baik terhadap orang lain”.  

Ketika orang-orang mulai mendiami lembah Sungai Mamasa, mereka kagum akan kesuburan tanahnya serta banyaknya binatang buruan. Orang-orang ini menamai dirinya dengan tomamase, ‘seseorang yang memperoleh belas kasih’.

Nama ini mengungkapkan dua arti:

  • Orang-orang ini datang sebagai pengembara yang miskin, namun menjadi makmur karena belas kasih dari tanah;
  • Buah-buahan yang berlimpah di negeri itu.

Dengan latar belakang mereka sebagai orang miskin yang menjadi makmur di daerah itu, maka orang-orang Mamasa wajib menyambut  para pengunjung dan pendatang baru melalui keramahtamahan dan pertolongan.

Dengan demikian, orang-orang Mamasa ini hakikinya sungguh menginginkan terciptanya suasana yang bersatu dan penuh cinta kasih.

Kegiatan ziarah tahun 2019.

Dari telaah budaya ini dapat disimpulkan bahwa Maria Ratu Pencinta Damai yang menjadi awal tempat ziarah ini dan Maria Bunda Segala Bangsa yang menjadi namanya saat ini sangat relevan bagi Mamasa.

Maka dari itu, Bunda Maria sangat mungkin untuk dihadirkan dalam konteks budaya Mamasa sebagai ibu yang senantiasa mengasihi dan menyatukan anak-anaknya.

Perantara rahmat

Ada juga hal merarik dari budaya Mamasa yang bisa dikaji lebih dalam terkait peran Maria sebagai perantara rahmat Allah.

Dalam budaya asli masyarakat Mamasa, kaum perempuan juga dapat menempati peran sebagai pemimpin sebuah upacara adat. Maka dari itu ada imam perempuan atau Toburake.

Bahkan hanya Toburake yang berhak mengucapkan doa dalam upacara umum yang berhubungan dengan kehidupan di dunia, dia ditahbiskan menjadi perantara antara dewata dan manusia, dan meminta berkat untuk kehidupan manusia di dunia.

Konsep ini mungkin dapat mengantar masyarakat Mamasa pada pemahaman bahwa Bunda Maria sebagai seorang perempuan yang dipilih Allah juga dapat menjalankan fungsi sebagai Toburake, khususnya jika berdoa di tempat ziarah tersebut.

Bapak Uskup, Imam, dan segenap anggota panitia pembangunan Gua Maria Ziarah Bukit Pena di Mamasa.

Harapan-harapan dari Doa Sang Bunda

Penetapan gelar Maria Bunda Segala Bangsa sebagai nama tempat ziarah Pena akhirnya membawa begitu banyak harapan, baik oleh umat di Paroki Mamasa, maupun keuskupan ini pada umumnya.

Rancangan pembenahan dan pembangunan saat ini dalam tahap pembuatan grand design, dan diharapkan dapat dibuat berdasarkan kisah tempat ini serta spiritualitas Maria Bunda Segala Bangsa, dengan sentuhan budaya Mamasa.

Dengan demikian, akan ada kekhasan dari tempat ziarah ini yang sungguh memiliki spiritualitas dan refleksi yang mendalam.

Semoga tempat ziarah ini menjadi tempat berlabuhnya doa umat, yang merindukan persatuan dan cinta kasih. Dan semoga tulisan ini boleh menjadi refleksi untuk kelanjutan pembangunan tempat ziarah ini.

Semoga Allah yang telah memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (Flp 1: 6). Amin. (Berlanjut)

PS: Bahan artikel ini disiapkan oleh tiga imam diosesan Keuskupan Agung Makassar yakni:

  • Romo Oktoavianus Tandilolo Pr, sekarang Pastor Paroki Mamasa.
  • Romo Antonius Pabendon Pr, sekarang tengah tugas belajar di Filipina.
  • Romo Faranskuo Endyto Midun Pr yang pernah berkarya di Paroki Mamasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here