“Gundhul-gundhul Pacul”, Semangat Kere Memangku Jabatan Gerejani (4)

0
354 views
Lagu "Gundhul-gundul Pacul", Semangat Kere Memangku Jabatan Gerejani. (Romo Koko MSF)

SPIRITUALITAS kere (miskin akut) telah menggerakkan nurani Romo Suyatno Pr alias Tuyet (alm) dan Romo Liem Tjay OMI untuk terampil menembus “keterbatasan” wong cilik Gunung Merapi dan masyarakat pedalaman di Kalimantan Timur. Dengan tekun hati dan tinggal bersama mereka.

Dengan spritualitas “kere” yang meng-hamba bukan men-jabat kursi kekuasaan, Tuyet dan Liem Tjay terampil menemani dan menjadi sahabat bagi mereka sampai mentas (bebas, berdikari) dan tuntas.

Keterampilan

Keterampilan itu membutuhkan proses yang panjang, yang tidak didapat secara instan, seperti yang dimaksudkan Swandaru Geni, kakak Sekar Mirah murid Ki Tanu Petir.

Swandaru –tutur penulis SH Mintardjo (1933-1999)– ingin ilmunya langsung tinggi, supaya bisa segera menjadi “Pahlawan Sangkal Putung”.

Namun, sang guru berkata, “Pelan-pelan, kita harus mulai dari dasar. Suatu saat nanti kamu akan mencapai puncak.”

Mirip seperti yang dikatakan Ovidius, “Seris venit usus ab annis” – keterampilan itu akan tercapai selama bertahun-tahun (Markus Marlon MSC)

Inikah makna jabatan di dalam Gereja?

Liem Tjay ingat akan lagu dolanan ketika dia masih kecil saat bermain-main dengan teman-teman di kampung Solo.

Gundul-gundul Pacul dinyanyikan secara santai sambil bermain, ternyata ada makna filosofi yang mendalam.

Liem Tjay merasa mendapat pencerahan untuk mengemban tugas jabatan.

Lagu “Gundhul-gundhul Pacul”. (Ist)

Filosofi Gundul-Gundul Pacul

(Mengutip sebuah tulisan di Kompasiana edisi 6 Februari 2014 dan diperbarui 24 Juni 2015)  

“Gundul-gundul pacul-cul…, gembelengan…

Nyunggi-nyunggi wakul-kul…, gembelengan…

Wakul ngglimpang segane dadhi sak latar…”.

Tembang Jawa ini konon katanya diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja dan mempunyai arti filosofis yang dalam dan sangat mulia.

  • Gundul adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Jadi gundul adalah kehormatan tanpa mahkota.
  • Pacul adalah cangkul, yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Jadi pacul adalah lambang kawula rendah, kebanyakan petani.
  • Gundul pacul artinya adalah bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota, tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya/orang banyak.

Orang Jawa: pacul adalah papat kang ucul (4 yang lepas).

Kemuliaan seseorang tergantung pada empat hal, yaitu bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga, dan mulutnya.

1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat/masyarakat/orang banyak.

2. Telinga digunakan untuk mendengar nasihat.

3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.

4. Mulut digunakan untuk berkata adil.

Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya.

  • Gembelengan artinya besar kepala, sombong, dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.
  • Gundul gundul pacul cul artinya jika orang yang kepalanya sudah kehilangan empat indera itu mengakibatkan gembelengan (congkak, sombong).
  • Nyunggi nyunggi wakul kul (menjunjung amanah rakyat, orang banyak) dengan gembelengan (sombong hati dan main-main), akhirnya wakul ngglimpang (amanah jatuh tak bisa dipertahankan), segane dadhi sak latar (berantakan sia-sia, tak bermanfaat bagi kesejahteraan orang banyak)

Orang yang “buta”, tak bisa melihat dengan indera matanya, ternyata mampu melihat dengan mata hatinya.

Orang buta yang sederhana minta supaya melihat (Mrk 10:51).Tapi orang yang terhormat justru minta kedudukan yang lebih tinggi lagi. (Mrk 10:37)


Menjadikan diri “gundul pancul” butuh proses. Begitukah Liem Tjay, kaum berjubah, walau sipit tapi tetap “melek” memangku jabatan?

Banyumas, 23 Oktober 2021

Tepian Serayu

Nico Belawing Setiawan OMI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here