Harapan Lebih dari Sekadar Optimisme, Pesan Penting Bedah Buku “Harapan, Daya Hidup Manusia”

0
220 views
Suasana peluncuran dan bedah buku "Daya Hidup Manusia” di kampus Unika Atma jaya Yogyakarta, September 2022. (Ist)
  • Judul buku: Harapan, Daya Hidup Manusia.
  • Penulis: Yoachim Agus Tridiatno, dengan Kata Sambutan dari Ignatius Kardinal Suharyo.
  • Penerbit: PT Kanisius, Yogyakarta 2022.

“HARAPAN lebih dari sekedar optimisme…” Kata-kata sambutan Uskup Keuskupan Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo terucapkan secara tertulis di dalam buku berjudul Harapan, Daya Hidup Manusia.

Buku baru karya Yoachim Agus Tridiatno itu banyak dikutip oleh para pembicara dan ditanyakan peserta dalam peluncuran dan bedah buku tersebut.

Acara itu diselenggarakan oleh Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) di kampus UAJY bekerjasama dengan penerbit PT Kanisius dan Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Cabang Yogyakarta, Sabtu 10 September 2022.

Dalam sambutan pembuka acara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UAJY Susharjanti Felasari Ph.D mengatakan, buku ini sangat relevan untuk masyarakat kita, khususnya dunia pendidikan tinggi yang pernah dilanda pandemi Covid-19.

Dengan harapan itulah, dunia pendidikan tinggi dapat terus menyesuaikan diri dengan tantangan-tantangan baru pasca-pandemi.

Ketua ISKA Cabang Yogyakarta, Drs. Yulius menyambut baik buku ini, karena selaras dengan misi ISKA. Yakni, ingin mendorong para sarjana Katolik mengabdikan diri untuk tanahair dan Gereja. Hal sama juga diutarakan oleh perwakilan penerbit PT Kanisius.

Ki-ka: Warek Bidang Akademik UAJY Susharjanti Felasari Ph.D, Ketua ISKA Yogyakarta Drs. Yulius Hernondo MM.

Sekali memilih harapan, segalanya mungkin terjadi

Dalam sambutan pengantar, penulis buku menyatakan bahwa harapan banyak diucapkan oleh banyak orang. Dikatakan untuk memberi nasihat pada orang-orang yang sedang terpuruk atau terkena bencana.

Apa sebenarnya pengertian harapan itu? Selalu diandaikan, orang sudah mengetahui maknanya. Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2022 mengambil tema “Allah Sumber Harapan”. Namun, dalam buku panduan renungan BKSN sama sekali tidak dijelaskan apa arti “harapan” atau “pengharapan” itu.

Semua orang dianggap sudah mengetahuinya.

Makna harapan

Buku Harapan, Daya Hidup Manusia ini menjelaskan pengertian “harapan” secara jelas, dengan membandingkannya dengan makna kata-kata lain, seperti optimisme, mimpi (dream), keinginan (wish), cita-cita, dan rencana.

Dengan pembandingan tersebut, makna “harapan” dapat dimengerti dengan jelas dan diketahui posisinya di antara kata-kata yang lain.

Buku ini juga menguraikan dimensi-dimensi harapan, yaitu harapan konkret tertentu (particular hope), kebiasaan berharap (habits of hope) dan sikap penuh harapan (hopefulness) yang ketiganya saling berkait.

Penyerahan buku “Daya Hidup Manusia” secara simbolis dari penerbit PT Kanisius kepada penulis, Yoachim Agus Tridiatno.(Ist)

Di samping itu juga dipaparkan pandangan pelbagai agama tentang harapan, sehingga buku ini dapat dijadikan sarana dialog lintas-iman.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang rentan bencana, buku ini juga menyajikan cara-cara untuk menghidupkan dan menumbuhkan harapan dalam masyarakat.

Lebih dari semuanya, buku ini menegaskan bahwa harapan adalah keutamaan adikodrati, yaitu keutamaan yang tidak bisa diupayakan oleh manusia sendiri.

Keutamaan seseorang untuk terus memiliki harapan dapat dicapai oleh karena bantuan rahmat Allah.

Maka sikap penuh harapan sebenarnya sama dengan sikap beriman.

Penulis mengatakan bahwa dengan buku ini ia berusaha agar sikap penuh harapan dapat disosialisasi kepada semakin banyak orang, agar semakin banyak orang tidak mudah putus asa, tetapi selalu memandang masa depan yang cerah.

Semoga buku ini menemani pembaca menyongsong Yubelium 2025 bertema The Pilgrims of Hope (peziarah harapan). Harapan adalah daya hidup manusia. Manusia hanya bisa hidup karena memiliki harapan.

“Once you choose hope, anything’s possible. Sekali Anda memilih untuk berharap, maka segala sesuatu menjadi mungkin.”

Influencer harapan

Para narasumber dalam acara bedah buku tersebut menanggapi secara positif terbitnya buku Harapan, Daya Hidup Manusia ini.

Di samping isi buku selaras dengan kondisi masyarakat saat ini, demikian Romo Mutiara Andalas SJ sebagai narasumber acara ini, memang konten harapan belum didalami secara mendalam oleh agama-agama.

Romo Mutiara Andalas SJ menyatakan saat ini dibutuhkan para influencer harapan. Maka di hadapan para peserta bedah buku yang sebagian besar mahasiswa, ia sangat memotivasi orang-orang muda yang sangat dinamis, meskipun didera tantangan-tantangan yang mengatasi kapasitas mereka. 

Orang-orang muda mesti menjadi influencer harapan. Dengan ilustrasi gambar-gambar dan tokoh film, kutipan-kutipan ajaran Paus Fransiskus, dan spiritualitas Bunda Maria, paparan Romo Mutiara sangat menarik perhatian peserta.

Narasumber Dr. MD Susilawati, dosen UAJY, memaparkan dan menegaskan butir-butir penting dalam buku.

Ia mengatakan, “Buku Harapan, Daya Hidup Manusia ini menarik. Harapan adalah ciri khas manusia yang hidup di lingkungan tertentu dalam kebersamaan dengan sesamanya manusia dan sesembahannya yakni Tuhan yang maha Esa. Gambar sampul yaitu tangan yang bergenggaman memperjelas makna harapan yang tidak selalu cerah.”

Romo Andriaus Maradiyo Pr, (Laurentius Sukamta)

Romo Andrianus Maradiyo Pr Vikaris Episkopalis Yogyakarta Timur merupakan pembicara kunci pada acara bedah buku ini.

Ia menyampaikan gerakan-gerakan konkret dari gereja menghidupkan harapan masyarakat selama masa pandemi.

Ia menceritakan usahanya memberi harapan pada masyarakat yang terpuruk selama masa pandemi dengan membagikan ribuan bibit singkong, pengolahan paska-panen, dan usaha-usaha lain bekerjasama dengan pelbagai pihak, termasuk dengan masyarakat Muslim.

Dengan pelbagai contoh itu, ia juga menegaskan sikap Gereja tentang harapan dengan mengutip pelbagai sumber ajaran Gereja antara lain Gaudium et Spes yang menyatakan di awal bahwa kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga.

Penulis buku “Harapann Daya Hidup Manusia” bersama kaum muda influencer di panggung medsos. (Ist)

Harapan dan Optimisme

Pada sesi tanya jawab, seorang peserta menyampaikan syering tentang pengalamannya menumbuhkan harapan setelah ia terpuruk, karena suaminya meninggal terkena Covid-19.

Ibu Restituta yang aktif di Wanita Katolik Republik Indinesia (WKRI) menceritakan pengalamannya ditinggal suaminya menghadap Bapa karena tertapar Covid-19.

“Bulan Mei 2021, saya dan suami dinyatakan terkena Covid-19. Suami saya, Cornelis Guling harus dirawat di RS Panti Rapih, sedangkan saya sendiri harus isolasi mandiri di RS Siloam. Hari pertama sampai hari ke 11,saya tetap ada komunikasi dengan suami, meskipun hanya lewat video call.

Saya berharap suami saya bisa sembuh karena sudah mendapatkan donor plasma. Doa pun setiap hari; bahkan mungkin setiap jam, menit detik saya lakukan. Kaena banyak waktu yang bisa saya lakukan untuk berdoa, karena saya ada di RS.

Bu Restituta syering pengalamannya menumbuhkkan harapan saat suaminya meninggal dunia karena Covid 19.

Hari ke 12, suami mengalami gagal nafas dan harus mendapatkan ventilator. Hari ke-13, tepatnya 5 Juni 2021 inilah yang membuat jantung saya berdetak cepat dan hari seperti gelap. Pukul 12.45 WIB, Tuhan memanggil suami.

Tulang seperti tidak ada lagi di daging saya, semua hilang, badan menjadi lemas.

Itulah hari paling terpuruk yang saya alami, karena orang yang saya kasihi dan cintai kini sudah tidak ada lagi. Sedih dan sakit rasanya.

Selanjutnya, hari-hari saya lalui tanpa suami. Tapi saya tetap bersyukur, masih ada anak-anak dan cucu yang selalu ada menemani.

Saya tidak mungkin mengurung diri di dalam kamar seharian, karena Tuhan tidak mungkin lagi akan membangkitkan suami saya dari tidur panjangnya.

Dari situlah, akhirnya, saya harus bangkit. Saya punya cucu, punya anak, bahkan punya karyawan dan staf yang harus tetap terjaga untuk kelangsungan hidupnya.

Saya harus bangkit untuk mereka, apa pun kata orang, saya tidak peduli lagi,

Saya mulai masuk di kantor yang suami saya tinggalkan. Semua itu saya lakukan, karena iman saya. Saya yakin dan percaya bahwa hidup mati adalah milik Tuhan.

Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah Nama Tuhan. Saya harus punya keberanian menyikapi hidup. Senang secukupnya, sedih pun secukupnya.

Saat itu, anak saya masih kerja di EY Jakarta. Anak pertama sudah tinggal bersama sama dengan saya. Saya berdoa kepada Tuhan. Hari-hari saya serahkan pada Tuhan dan Bunda Maria.

Puji Tuhan. Akhirnya Tuhan menunjukkan jalan, anak saya mengundurkan diri dari EY, dan boleh pulang untuk  melanjutkan karya almarhum Cornel, suami, yang selama ini telah dia jalankan dan saya mendampingi.

Tuhan menjawab doa saya. Harapan yang selama ini saya mohonkan. Tuhan menjawabnya. Indah pada waktunya. Semua itu karena ikhlas saya jalankan dan karena kasih cinta saya. Saya harus menghidupi beberapa staf karyawan yang ditinggalkan Pak Cornel. Terima kasih.”

Banyak pertanyaan dan tanggapan lain berkaitan dengan “harapan dan optimisme.”  

Para narasumber memberikan penjelasan tentang hal itu. Jawaban selengkapnya tentu saja dapat dibaca di buku Harapan, Daya Hidup Manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here