Hari Doa Sedunia bagi Perlindungan Ciptaan

0
228 views
Hari Doa Sedunia untuk Kelestarian Ciptaan (Ist)

TANGGAL 1 September sampai tanggal 4 Oktober, pada Pesta Santo Fransikus Assisi, menjadi momen doa bersama bagi perlindungan dan keutuhan ciptaan. Perayaan akan ciptaan, mohon doa agar senantiasa menghormatinya sebagai ciptaan Tuhan. N

amun juga berbuat seturut gaya dan cara agar planet tempat manusia bekerja dapat semakin dihormati dan dijaga kelestariannya.

Hari Doa Sedunia bagi perlindungan ciptaan membawa dalam dirinya sendiri roh yang menyatukan seluruh Gereja dengan denominasinya dalam satu nafas yang unik. Paus Fransiskus dalam Angelus 31 agustus 2020 mengingatkan peristiwa penting ini:

“Dari tanggal 1 September sampai tanggal 4 Oktober, kita akan mereyakan bersama saudara-saudara Kristen lain dari berbagai Gereja dan tradisi, Yubileum akan Bumi untuk mengingat kembali pengukuhan 50 tahun yang lalu Hari Bumi”.

Dari tahun 2015, Paus mendirikan bahwa 1 September sebagai Hari Doa Sedunia bagi perlindungan ciptaan. Sebuah peristiwa untuk merefleksikan tentang rumah bersama, syukur atas Laudato Si’, ensiklik yang dipublikasikan lima tahun lalu.

Refleksi akan planet yang berada dalam bahaya. Juga atas ketimpangan sosial yang semakin meningkat. Termasuk juga atas pengerukan yang tidakk sehat atas sumber-sumber alam yang mengakibatkan banyaknya kemiskinan di berbagai bangsa dan melahirkan kesulitan memperoleh air dan terganggunya ekosistem yang ada.

Perayaan tahun ini bersamaan  pandemi

Perayaan yang berlangsung tahun ini bersamaan dengan peristiwa yang mengguncang dunia karena covid-19 tidak menghentikan. Di banyak negara, keputusan lockdown telah membuat kesadaran akan kekuatan dari pencipta dan di waktu yang sama, virus telah menampakkan kelemahan dari model-model ekonomi, yang sering kali berbeda terhadap perlindungan rumah bersama.

Paus Fransiskus dalam katekese umum yang diarahkan kepada pandemi telah menegaskan akan pentingnya untuk berpikir kembali bagaimana “mengelola harta benda, bukan menguasainya.”:

“Jika kita mengambil langkah untuk perlindungan bagi harta benda yang pencipta hadiahkan, jika kita menggunakan cara bahwa tidak seorang pun kekurangan, maka dari itu sungguh-sungguh kita mendapatkan inspirasi akan harapan untuk menghadirkan satu dunia yang lebih sehat dan lebih adil.”

Doa dengan semangat Laudato Si. (ist)

Pandemi sebagai “panggilan untuk menghormati rumah bersama” sebagaimana dikatakan dalam pesannya bagi hari, Caritas Internasional dan  menegaskan bahwa sebagaimana virus telah menampakkan kerapuhan dari sistem sosial yang tidak adil.

Dari sini  berharap pada “bentuk-bentuk solidaritas baru” untuk menjawab sanitas yang darurat dengan “pandemi kasih”.

Dalam pesannya pada Hari Doa bagi keutuhan alam tanggal 1 September, Patriarkat Ekumenis Ortodoks  menjadi jelas sebagaimana berikut:

”Keanekaragaman hayati rusak dan keseimbangan iklim menurun mengharapkan satu aksi bersama dari setiap pribadi dan pemerintah,“ pengembangan ekonomi –  tulisnya- tidak bisa tinggal sebagai satu mimpi buruk bagi ekologis”.

Pertanyaan yang datang di tengah pesan membuat berhenti dan merefleksikan: “Seberapa banyak lagi waktu alam akan bertahan dalam diskusi dan konsultasi yang gagal dan setiap penundaan lebih lanjut dalam mengambil tindakan tegas bagi perlindungannya?” adalah satu pertanyaan yang tidaklah mungkin berkeliling dan atasnya Patriarkat Konstantinopel, Bartolomeus I menyuarakan pesannya bagi Hari Doa Sedunia untuk perlindungan ciptaan.

Sebuah kategori imperatif

Pertanyaan didahului oleh sebuah pemerikasaan yang dihasilkan oleh realisme: “adalah keyakinan berbagi, sebagaimana ditulis Bartolomeus I, bahwa pada masa kita ini, lingkungan alam terancam sebagaimana tidak seperti sebelumnya dalam sejarah kemanusiaan.”

Dan entitas dari ancaman menjadi jelas, katanya, bahwa  sebagaimana yang terjadi, taruhannya bukan lagi tentang kualitas tetapi tentang perawatan akan kehidupan planet kita”.

Kita sedang melihat, daftar, “akan pengrusakan lingkungan alam, keanekaragaman hayati, flora dan fauna, akan tercemarnya sumber-sumber air dan atmosfer, perkembangan yang menurun cepat terhadap keseimbangan iklim” dan akses lainnya.

Sebuah situasi yang kompleks, sebagaimana Bartolomeus I, yang menunjukkan bagaimana “keutuhan alam”.

Hendaknya “kategori imperatif” bagi kemanusiaan masa kini. Dan bahwa semuanya tidak disambut dan diperlakukan sebagaimana semestinya sebagai mereka yang bermakna pada setiap jenjangnya.

Ilusi alam penyembuhan diri sendiri

Sementara, pada tataran personal, kelompok dan organisasi datang dalam satu lompatan “kepekaan yang besar dan tanggungjawab ekologi”, bukan sebagaiman sebaliknya terjadi, lanjut Patriarkat Konstantinopel, jika pandangan bergerak atas administrator publik.

“Bangsa-bangsa dan pelaku ekonomi tidak sanggup, atas nama ambisi geopolitik dan akan “otonomi ekonomi”, untuk mengadopsi keputusan-keputusan yang benar bagi perlindungan ciptaan” adalah konstatasi Patriarkat Ortodoks dan bahkan menanamkan “ilusi” bahwa “lingkungan alam memiliki kekuatan untuk membaharuinya sendiri.”

Tidak lagi mimpi buruk

Krisis karena covid menegaskan, sebaliknya telah menunjukkan peristiwa aktivitas manusia terhadap ciptaan, dengan menurunnya pencemaran sebagaimana tercatat selama berlangsungnya lockdown.

Maka dari itu, ini adalah keyakinan Bartolomeus I, jika industri-industri pada hari ini, transportasi-transportasi, sistem ekonomi yang didasarkan pada “keuntungan yang maksimal” maka akan memiliki satu “dampak negatif terhadap keseimbangan lingkungan”, sebuah “perubahan arah menuju satu ekonomi ekologis yang mendirikan satu kepentingan teguh”.

Tidak eksis satu perkembangan benar yang didasarkan pada perusakan lingkungan alam. Adalah tidak terbayangkan, penegasan kembali bahwa pengadopsian keputusan-keputusan ekonomi tanpa berpikir juga akan konsekuensi ekologisnya. Perkembangan ekonomi tidak dapat berdiam pada satu mimpi buruk bagi ekologi.

Gereja “ekologis aplikatif”

Dalam bagian akhir pesan, Bartolomeus I mengingatkan tugas besar dari Partiarkat ortodoks bagi tema-tema ekologis dan pentingnya berkolaborasi dengan semua pihak di bidang ini.

Pada akhirnya, sebagai penutup, “hidup Gereja pada dirinya adalah sebuah ekologis aplikatif”.

Sakramen-sakramen Gereja, semua hidup kultusnya, askese dan hidup komuniter, hidup harian dari kaum beriman, menampakkan dan melahirkan kekedalaman akan penghormatan terhadap ciptaan.

Sumber: Vatican News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here