Home BERITA Hari Persaudaraan Umat Manusia: Merawat Harta Persaudaraan

Hari Persaudaraan Umat Manusia: Merawat Harta Persaudaraan

0
Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Sheik-Ahmad-el-Tayeb di Abu Dhabi UEA, 4-Februari 2019-by Paul Haring.

Mari kita tegaskan kembali komitmen kita untuk menjembatani perpecahan, memupuk pemahamankeagamaan dan kerjasama di antara orang-orang dari semua budaya dan kepercayaan. Bersama-sama,mari kita membangun jalan menuju dunia yang lebih damai, adil dan harmonis bagi semua orang.

António Guterres, Sekretaris Jenderal PBB.

PADA tanggal 21 Desember 2020, melalui resolusi 75/200 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan Hari Persaudaraan Umat Manusia. Ini dirayakan setiap tanggal 4 Februari.

Peringatan ini mendorong dipromosikannya budaya toleransi antar manusia dari beragam budaya dan agama. Dalam kerjasama dengan pemerintah Mesir dan Uni Emirat Arab, peringatan ini juga disertai dengan penetapan Penghargaaan Zahed untuk Persaudaraan Umat Manusia (Zayed Award for Human Fraternity).

Ini diberikan sebagai pengakuan atas pribadi atau lembaga yang berkontribusi bagi terpeliharanya persaudaraan antar umat manusia.

Peringatan ini pertama kali diadakan tanggal 4 Februari 2021 dan peringatannya didukung oleh berbagai pemimpin dunia: Paus Fransiskus; Sheikh Ahmed el-Tayeb, Imam Besar Al-Azhar; dan Presiden Amerika Serikat Joe Biden.

Sebuah inisiatif demi perdamaian

Dipilihnya tanggal 4 Februari sebagai hari peringatan ini tidak lepas dari peristiwa ikonik yang terjadi pada 4 Februari 2019. Saat pemimpin dua agama besar bertemu dan menandatangani dokumen yang kemudian dikenal sebagai Dokumen Persaudaraan Umat Manusia atau lebih familier dikenal sebagai “Dokumen Abu Dhabi.”

Kedua pemimpin agama tersebut adalah pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Ahmed Al-Tayeb. Dalam dokumen tersebut, kedua pihak menegaskan penolakan terhadap penggunaan kekerasan atas nama agama untuk menyakiti sesama manusia. Juga mendorong ditegakkannya Hak-hak Asasi Manusia, termasuk di dalamnya kebebasan dalam beragama.

Berikut tiga hal penting yang bisa disarikan dari dokumen tersebut. Harapannya, tiga hal penting ini membantu kita untuk memaknai peringatan Hari Persaudaraan Umat Manusia tanggal 4 Februari.

Kemanusiaan yang terancam

Dokumen ini dibuka dengan mengungkap keprihatinan atas situasi dunia yang tidak sedang baik-baik saja. Di mana-mana orang kehilangan sensitivitas terhadap hal-hal yang melawan persaudaraan. Di sana dikatakan:

“Atas nama hidup manusia yang tidak bersalah, yang telah dilarang Allah untuk dibunuh, dengan menegaskan bahwa siapa pun yang membunuh seseorang, orang itu bagaikan seseorang yang membunuh seluruh umat manusia, dan siapa pun yang menyelamatkan seseorang, orang itu bagaikan seseorang yang menyelamatkan seluruh umat manusia.

Atas nama orang miskin, orang melarat, orang yang terpinggirkan, dan mereka yang paling membutuhkan, yang bagi mereka Allah telah memerintahkan kita untuk membantu sebagai tugas yang dituntut dari semua orang, terutama orang kaya dan berkecukupan.

Atas nama anak yatim, para janda, para pengungsi dan mereka yang diasingkan dari tanah air dan negara mereka; atas nama para korban perang, penganiayaan dan ketidakadilan.

Atas nama mereka yang lemah, mereka yang hidup dalam ketakutan, para tawanan perang, dan mereka yang disiksa di setiap bagian dunia mana pun, tanpa perbedaan.

Atas nama orang-orang yang telah kehilangan keamanan, kedamaian, dan kemungkinan untuk hidup bersama, karena menjadi korban kehancuran, malapetaka, dan perang.

Atas nama persaudaraan manusia yang merangkul semua manusia, menyatukan mereka dan menjadikan mereka setara.

Atas nama persaudaraan ini yang terkoyak oleh kebijakan-kebijakan ekstremisme dan perpecahan, oleh sistem keuntungan tak terkendali atau oleh kecenderungan ideologis penuh kebencian yang memanipulasi tindakan dan masa depan perempuan dan laki-laki.

Atas nama kebebasan, yang telah dianugerahkan Allah kepada semua manusia dengan menciptakan mereka secara bebas dan menjadikan mereka berbeda berkat rahmat ini.

Atas nama keadilan dan belas kasihan, fondasi kemakmuran dan landasan iman; Atas nama semua orang yang berkehendak baik yang ada di setiap bagian dunia.”

Kedua pemimpin agama itu mengingatkan kita tentang pentingnya menjaga persaudaraan yang merangkul bukan yang memukul; yang mencintai bukan yang membenci; yang menerima bukan yang menolak. Sayangnya, yang jahat sudah dianggap wajar.

Dokumen ini mengingatkan kita kembali akan pentingnya merawat nurani manusia yang pada dasarnya ingin bersaudara.

Memperkuat kerjasama

Setelah menyadari situasi dunia yang tidak baik-baik saja, dokumen ini mengajak kita untuk membuka diri kepada jalan dialog yang memungkinkan orang untuk mengalami perjumpaan dan perjuangan untuk kemanusiaan. Dalam teks tersebut dikatakan: 

“Dalam nama Allah dan segala sesuatu yang dinyatakan sejauh ini; Al-Azhar al-Sharif dan umat Muslim dari Timur dan Barat, bersama-sama dengan Gereja Katolik dan umat Katolik Timur dan Barat menyatakan untuk menerima budaya dialog sebagai jalan; kerjasama timbal balik sebagai kode etik; saling pengertian sebagai metode dan kriteria.

Kami, yang percaya pada Allah dan pada perjumpaan akhir dengan-Nya dan penghakiman-Nya, berdasarkan tanggungjawab agama dan moral kami, dan melalui dokumen ini, menyerukan kepada diri kami sendiri, kepada para pemimpin dunia serta para pembuat kebijakan internasional dan ekonomi dunia:

  • untuk bekerja keras menyebarkan budaya toleransi dan hidup bersama dalam damai;
  • untuk ikut campur tangan selekas mungkin untuk menghentikan pertumpahan darah dari orang-orang yang tidak bersalah serta mengakhiri peperangan, konflik, kerusakan lingkungan dan kemerosotan moral dan budaya yang dialami dunia saat ini.”

Artinya:

  • persaudaraan bukan lagi pekerjaan orang lain;
  • persaudaraan bukan lagi tanggungjawab orang lain;
  • permusuhan dan konflik tidak lagi bisa ditanggungkan pada orang lain;
  • tiap-tiap orang bertanggungjawab untuk memperjuangkan damai di negeri ini.

Mewarisi budaya damai

Dunia kita memang sedang dilanda oleh isu-isu permusuhan di mana orang dengan tenang saling menyakiti dan tidak merasa bersalah ketika orang lain terluka oleh tindakannya. Kalau ini terus menerus terjadi, dikhawatirkan bahwa masyarakat kita akan tumbuh menjadi masyarakat yang menganggap wajar perang dan permusuhan.

Itulah sebabnya, dokumen ini mendorong masyarakat untuk berani mengusahan perdamaian dan mengajarkan budaya damai bagi generasi berikut.

Di dalam teks tersebut dikatakan:

“Kami juga menegaskan pentingnya membangkitkan kesadaran beragama dan perlunya membangkitkan kembali kesadaran ini di dalam hati generasi baru melalui pendidikan yang sehat dan kepatuhan pada nilai-nilai moral dan ajaran agama yang benar. Dengan cara ini, kita dapat menghadapi kecenderungan yang individualistis, egois, saling bertentangan, dan juga mengatasi radikalisme dan ekstremisme buta dalam segala bentuk dan ungkapannya.”

Rasanya, tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa perdamaian dan persaudaraan adalah unsur yang tidak bisa dipisahkan dari hidup bersama sebagai warga dunia. Sekali kita kehilangan persaudaraan, kita kehilangan kesempatan hidup dalam damai. Itulah sebabnya, peringatan 4 Februari ini menjadi penting.

***

Makna Hari Persaudaraan Umat Manusia menjadi semakin relevan bagi masyarakat kita hari ini. Peringatan tanggal 4 Februari adalah panggilan bersama untuk merenung, memahami sejarah, dan berkomitmen untuk membangun dunia yang diwarnai oleh keragaman, toleransi, dan persaudaraan kemanusiaan.

Dalam perjalanan panjang ini, kita diajak untuk melihat masa depan dengan harapan, di mana persatuan dan kepedulian adalah pilar utama dalam membangun masyarakat yang adil dan damai.

Salam perdamaian umat manusia.

Romo Martinus Joko Lelono Pr

Imam diosesan Keuskupan Agung Semarang; pengajar Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version