Hati yang Bersih

0
555 views
Melakukan yang baik atau yang jahat, by Catholic.net

Rabu, 8 Februari 2023

  • Kej. 2:4b- 9.
  • Mzm. 104:1-2a,27-28,29bc-30;
  • Mrk. 7:14-23

YANG bisa menajiskan hidup kita ini, adalah diri sendiri, bukan sesuatu yang datang dari luar diri kita.

Segala yang keluar dari diri kita itulah yang bisa menajiskan kita, khususnya kata dan tindakan kita.

Bisa dikatakan bahwa kejahatan pun itu tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi sudah ada lebih dahulu di dalam hati manusia.

Bahkan bisa dikatakan dosa atau kejahatan itu adalah buah dari hati yang jahat.

Karena orang sering melihat orang lain dari segi lahir saja: kedudukan, pangkat, atau kekayaan, sedang hati orang tidak pernah diperhitungkan.

Ada orang yang nampaknya saleh, tetapi dari hati orang saleh itu timbul bermacam-macam kejahatan.

Ternyata orang yang nampak saleh itu telah lama menginginkan sesuatu yang tidak pantas dan tidak terpuji.

Akibatnya, dari hati yang jahat dan tersembunyi itu, lalu muncul perbuatan yang tak terpuji.

Guru agama waktu saya duduk di bangku SMP dulu, pernah memberi contoh untuk selalu menjadi orang yang jernih pikiran dan hati hingga sikap dan perbuatan pun jernih.

Pak guru mengibaratkan kesesuaian hati dan perbuatan itu seperti botol kaca yang diisi air putih, dari berbagai sisi tetap kelihatan sama, tidak ada bedanya.

Kalau botol itu diisi dengan air berwarna tertentu, maka botol kaca itu akan mengikuti jenis warna yang ada.

Demikian juga hati kita, apa yang hidup di hati kita akan terlihat dalam kata dan perbuatan kita.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Apa pun dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yag keluar dari seseorang itulah yang menajiskan.”

Dari jawaban Yesus ini, sungguh nampak jelas perbedaan pemahaman soal najis antara Yesus dengan orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat.

Orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat lebih mengarahkan diri pada hal-hal yang kelihatan atau lahiriah. Seperti sebelum makan mencuci tangan, atau juga kebisaan mencuci cawan, dan sebagainya.

Sedangkan bagi Yesus persoalan najis adalah persoalan yang menyentuh langsung aspek kehidupan manusia itu sendiri.

Bukan barang atau benda apapun yang menajiskan seseorang, tetapi sesungguhnya yang menajiskan seseorang adalah dirinya sendiri.

Dalam hal ini adalah segala perbuatan dan perkataan yang merupakan buah dari isi hati dan pikiran seseorang.

Dengan pernyataan ini, Yesus sebenarnya mau menunjukan bahwa praktik yang sedang dijalankan waktu itu sebenarnya tidak relevan dan tidak menyentuh inti terdalam dari masalah najis itu sendiri.

Apalah artinya orang mencuci tangan sebelum makan, sementara dalam hatinya tersimpan banyak kejahatan dan dendam bagi sesama.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah sikap dan perbuatanku sudah sesuai dengan isi hatiku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here