“Hermeneutika Keadilan” ; Ambruknya Teologi Istana (3)

1
735 views

Kisah kemanusiaan, baik lisan maupun tulisan, menjadi pintu masuk bagi korban-penyintas dalam membaca dan menafsirkan teks-teks Kitab Suci. Dalam bahasa kajian kitab suci, dunia di depan teks (world before text) menjadi pembuka dialog dengan dunia di dalam teks (world of text), dunia di belakang teks (world behind text), dan teks KS.

Korban-penyintas bergumul untuk memaknai penderitaannya, bahkan sebagian traumatik, dalam terang kisah-kisah dan teks-teks suci. Mereka berangkat dari kepercayaan akan kuasa teks KS sebagai pegangan mereka dalam kedukaan. Teks Kitab Suci juga memberikan kekuatan kepada korban-penyintas dalam memperjuangkan kasus mereka. Korban-penyintas lebih membaca teks-teks suci dengan hati, dan membiarkan teks-teks tersebut menyentuh relung terdalam kehidupan mereka. Tanpa mengesampingkan pentingnya, pengetahuan tafsir Kitab Suci sekunder bagi mereka.

Maria Katarina Sumarsih, yang puteranya ditembak aparat keamanan dalam tragedi Semanggi I, menemukan teks-teks KS memberinya ketabahan dalam penderitaan.

Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah… Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.[11]

Jika pernyataan-pernyataan aparat negara yang mengambil paksa hidup rakyatnya mendikte korban-penyintas untuk menghentikan tuntutan hukum, teks-teks KS membantunya untuk mengarahkan langkah berkaitan dengan perjuangan demi keadilan korban. Sebagaimana dikisahkan Maria Katarina Sumarsih, ia mengalami Tuhan sebagai “yang menyalakan lilin untuk menerangi langkah hidupnya.”[12]

Ayat-ayat itu yang menuntun bila aku [Maria Katarina Sumarsih] menghadapi pergumulan untuk menentukan langkah. Aku melakukan sesuatu atau tidak, Wawan tidak akan hidup lagi. Di sisi lain, aparat negara begitu mudah menghilangkan nyawa manusia. Tetapi Tuhan Yesus mencintai dan mengasihi umat-Nya. Aku berserah diri, biarlah Tuhan yang mengatur kemana hati, pikiran, dan kakiku harus melangkah. Doa, puasa, dan air mata mengiringi hidupku.

Keadilan bagi korban-penyintas di Indonesia mensyaratkan nafas panjang gerilyawan-gerilyawatinya. pejuangnya. Teks KS meneguhkan mereka akan kesucian hidup korban dan kesucian perjuangan mereka untuk keadilan korban dan pemanusiaan Indonesia. Mereka juga menemukan dalam Kitab Suci kekerasan dan perenggutan paksa kehidupan ciptaan-ciptaan ekologis merupakan dosa berat kepada Allah.

Wawan ditinggikan dihadapan umat-Nya dan dibawa pulang dengan penuh kemuliaan-Nya. Dalam kotbah misa requiem, Bapak Uskup Jakarta waktu itu, Kardinal Julius Darmaatdja SJ mengatakan bahwa Wawan ditembak ketika sedang menolong seorang korban yang terkena tembakan di halaman kampus Universitas Atma Jaya. Beliau mengulangi ayat dalam Injil Yohanes 15, 13 “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”[13]

Teks Kitab Suci dapat membantu korban-penyintas memurnikan perjuangan mereka untuk keadilan korban. Dalam perjalanan waktu, korban-penyintas menemukan keadilan itu sekurang-kurangnya memiliki dua sisi. Pertama, ia memberi keadilan korban yang direnggut kemanusiaannya bahkan sampai pada titik kematian. Kedua, perjuangan keadilan itu memanusiakan Indonesia, terutama mereka yang terlibat dalam pelucutan kemanusiaan korban. Kitab Suci Ibrani memiliki gambaran yang sangat indah mengenai tata ciptaan baru dengan menggunakan bahasa fabel:

Serigala akan tinggal bersama domba

Dan macan tutul akan berbaring

Di samping kambing.

Anak lembu dan anak singa akan

makan rumput bersama-sama,

Dan seorang anak kecil akan

menggiringnya.[14]

1 COMMENT

  1. Kutipan menariknya adalah: Teks Kitab Suci dapat membantu korban-penyintas memurnikan perjuangan mereka untuk keadilan korban. Dalam perjalanan waktu, korban-penyintas menemukan keadilan itu sekurang-kurangnya memiliki dua sisi. Pertama, ia memberi keadilan korban yang direnggut kemanusiaannya bahkan sampai pada titik kematian. Kedua, perjuangan keadilan itu memanusiakan Indonesia, terutama mereka yang terlibat dalam pelucutan kemanusiaan korban.

    Silakan berkunjung http://tongthink.blogspot.co.id/

    Kita punya ketertarikan yang sama dalam berteologi…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here