Homili Paus: Satu-satunya Nilai Bertahan adalah Allah dan Sesama

0
310 views
Paus Fransiskus dan kaum papa. (Ist)

Homili Paus Fransiskus di Misa Yubelium untuk Orang-orang Telantar Secara Sosial

13 November 2016

Bacaan Ekaristi : Mal 4:1-2a; Mzm 98:5-6,7-8,9a,9bc; 2Tes 3:7-12; Luk 21:5-11

“Bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya” (Mal 4:2).

Kata-kata Nabi Maleakhi, yang kita dengar dalam Bacaan Pertama, menjelaskan Yubileum hari ini. Kata-kata tersebut datang kepada kita dari perikop terakhir nabi Perjanjian Lama. Mereka adalah kata-kata yang ditujukan kepada orang-orang yang percaya kepada Tuhan, yang menempatkan harapan mereka di dalam Dia, yang melihat di dalam diri-Nya kebaikan terbesar kehidupan dan menolak hidup hanya untuk diri mereka sendiri dan kepentingan-kepentingan mereka sendiri.

Bagi mereka yang secara jasmani miskin tetapi kaya di dalam Allah, surya keadilan akan terbit. Inilah orang-orang miskin di hadapan Allah, yang kepadanya Yesus menjanjikan kerajaan surga (bdk. Mat 5:3) dan yang kepadanya Allah, melalui kata-kata Nabi Maleakhi, menyebut “milik kesayangan-Ku” (Mal 3:17).

Nabi mempertentangkan mereka dengan orang-orang yang angkuh, orang-orang yang mencari kehidupan yang aman dalam kecukupan diri mereka dan harta benda duniawi mereka. Perikop terakhir Perjanjian Lama ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang menantang tentang makna utama kehidupan : di mana saya mencari keamanan? Dalam Tuhan atau dalam bentuk keamanan lainnya yang tidak menyenangkan Allah? Ke manakah kehidupanku tertuju, kepada apakah hatiku rindu? Tuhan kehidupan atau hal-hal fana yang tidak bisa memadai?

Pertanyaan-pertanyaan serupa muncul dalam Injil hari ini.

Yesus berada di Yerusalem untuk perikop terakhir dan terpenting dari kehidupan duniawi-Nya : kematian dan kebangkitan-Nya. Ia berada di Bait Allah, “yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan” (Luk 21:5).

Orang-orang sedang berbicara tentang indahnya bagian luar Bait Allah, ketika Yesus berkata : “Akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” (ayat 6). Ia menambahkan bahwa di sana perseteruan, kelaparan, kekacauan di bumi dan di surga tidak akan berkurang. Yesus tidak bermaksud menakut-nakuti kita, tetapi memberitahu kita bahwa segala sesuatu yang kita lihat sekarang pasti akan berlalu. Bahkan kerajaan-kerajaan yang paling kuat, bangunan-bangunan yang paling suci dan kenyataan-kenyataan yang paling pasti di dunia ini tidak bertahan selamanya; cepat atau lambat mereka jatuh.

Sebagai tanggapan, orang-orang segera mengajukan dua pertanyaan kepada Sang Guru : “Bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?” (ayat 7). Bilamanakah dan apakah … Kita terus-menerus didorong oleh rasa ingin tahu : kita ingin tahu bilamanakah dan kita ingin melihat tanda-tanda. Namun Yesus tidak peduli akan rasa ingin tahu tersebut.

 

Sebaliknya, Ia mendesak kita untuk tidak terbawa oleh para pengkhotbah apokaliptik. Mereka yang mengikuti Yesus tidak mengindahkan para nabi kiamat, omong kosong horoskop, atau khotbah-khotbah yang menakutkan dan prakiraan-prakiraan yang mengalihkan perhatian dari hal-hal yang benar-benar penting.

Di tengah hiruk-pikuk begitu banyak suara, Tuhan meminta kita untuk membedakan antara apa yang berasal dari-Nya dan apa yang berasal dari roh palsu. Hal ini penting : membedakan kata hikmat yang Allah katakan kepada kita setiap hari dari teriakan orang-orang yang berusaha dalam nama Allah menakut-nakuti, memelihara perpecahan dan ketakutan.

Yesus dengan tegas mengatakan kepada kita untuk tidak takut akan pergolakan-pergolakan di setiap rentang sejarah, bahkan dalam menghadapi cobaan-cobaan dan yang paling serius dan ketidakadilan yang menimpa murid-murid-Nya. Ia meminta kita untuk bertekun dalam kebaikan dan menempatkan seluruh kepercayaan kita pada Allah, yang tidak mengecewakan: “Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang” (ayat 18). Allah tidak melupakan orang-orang-Nya yang setia, milik-Nya yang berharga. Ia tidak melupakan kita.

Tetapi, hari ini, Ia menanyakan kita tentang makna kehidupan kita. Menggunakan sebuah gambar, kita bisa mengatakan bahwa bacaan-bacaan tersebut berfungsi sebagai sebah “saringan” yang melaluinya kehidupan kita bisa dicurahkan : mereka mengingatkan kita bahwa segala sesuatu di dunia ini hampir lenyap, seperti air mengalir. Tetapi ada kenyataan-kenyataan berharga yang tinggal, seperti batu berharga dalam sebuah saringan. Apa yang bertahan, apa yang memiliki nilai dalam kehidupan, kekayaan apakah yang tidak hilang?

Tentunya kedua kekayaan ini: Tuhan dan sesama kita. Kedua kekayaan ini tidak hilang. Inilah kekayaan yang terbesar; ini yang dikasihi.  Segala sesuatu yang lain – langit, bumi, semua yang paling indah, bahkan Basilika ini – akan berlalu; tetapi kita seharusnya tidak pernah menelantarkan Allah atau orang lain dari kehidupan kita.

Hari ini, meskipun, ketika kita berbicara tentang penelantaran, kita langsung memikirkan orang-orang yang nyata, bukan benda-benda yang tidak berguna tetapi orang-orang yang berharga. Pribadi manusia, yang ditetapkan oleh Allah di puncak penciptaan, sering tercampakkan, terkesampingkan mendukung hal-hal fana. Hal ini tidak bisa diterima, karena di mata Allah manusia adalah hal yang paling berharga. Alamat buruk kita sedang tumbuh menggunakan penolakan ini. Kita harus khawatir ketika hati nurani kita terbius dan kita tidak lagi melihat saudara atau saudari yang sedang menderita di samping kita, atau mencermati masalah-masalah serius di dunia kita, yang menjadi sebuah pengulangan yang hanya akrab dengan berita-berita utama pada berita sore.

Saudara dan saudari terkasih, hari ini adalah Yubileum kalian. Kehadiran kalian di sini membantu kita membiasakan diri dengan panjang gelombang Allah, melihat apa yang Ia lihat. Ia melihat tidak hanya penampilan (bdk. 1 Sam 16:7), tetapi memalingkan pandangan-Nya kepada “orang-orang yang tertindas dan patah semangat” (Yes 66:2), kepada banyak Lazarus zaman kita yang miskin. Apa salahnya kita melakukan untuk diri kita sendiri ketika kita gagal memperhatikan Lazarus, orang yang terlantar dan terusir (bdk. Luk 16:19-21).

Berpaling dari Allah sendiri. Gejala sklerosis rohanilah ketika kita hanya tertarik pada benda-benda yang dihasilkan bukan pada orang-orang yang dikasihi. Inilah asal mula kontradiksi tragis zaman kita : ketika kemajuan dan kemungkinan-kemungkinan baru meningkat, yang merupakan hal yang baik, makin sedikit orang yang mampu mendapatkan keuntungan dari mereka. Inilah ketidakadilan besar yang harus menjadi perhatian kita jauh daripada sekedar mengetahui bilamana atau bagaimana dunia akan berakhir. Karena kita tidak bisa melakukan usaha kita secara diam-diam di rumah sementara Lazarus berada di depan pintu. Tidak ada kedamaian di rumah-rumah orang-orang kaya raya selama tidak ada keadilan di rumah setiap orang.

Hari ini, di katedral-katedral dan tempat-tempat suci di seluruh dunia, Pintu-pintu Kerahiman sedang ditutup. Marilah kita memohonkan rahmat untuk tidak menutup mata kita kepada Allah yang melihat kita dan kepada sesama kita yang meminta sesuatu dari kita.

Marilah kita membuka mata kita kepada Allah, memurnikan mata hati kita akan gambar-gambar yang memperdaya dan menakutkan, dari ilah kekuasaan dan balas jasa, penonjolan kesombongan manusia dan ketakutan. Marilah kita memandang dengan kepercayaan Allah kerahiman, dengan kepastian bahwa “kasih tidak berkesudahan” (1 Kor 13:8).

Marilah kita memperbaharui harapan kita dalam kehidupan yang sesungguhnya yang kepadanya kita dipanggil, kehidupan yang tidak akan berlalu, dan yang menanti kita dalam persekutuan dengan Tuhan dan dengan orang lain, dalam sebuah sukacita yang akan berlangsung selamanya, tanpa akhir.

Dan marilah kita membuka mata kita kepada sesama kita, terutama kepada saudara dan saudari kita yang terlupakan dan terlantar, kepada “Lazarus” di pintu kita. Itulah tempat kaca pembesar Gereja diarahkan.

Semoga Tuhan membebaskan kita dari memalingkannya ke arah diri kita sendiri. Semoga Ia memalingkan kita dari perangkap-perangkap yang mengalihkan perhatian kita, dari kepentingan-kepentingan dan hak-hak istimewa, dari keterikatan terhadap kekuasaan dan kemuliaan, dari tergoda oleh roh dunia. Bunda Gereja kita melihat “terutama pada sebagian umat manusia yang sedang menderita dan menjerit, karena ia tahu bahwa orang-orang ini miliknya oleh hak injili” (Paulus VI, Wejangan pada Pembukaan Pertemuan Kedua Konsili Vatikan II, 29 September 1963).

Oleh hak tetapi juga oleh kewajiban injil, karena itulah tanggung jawab kita untuk merawat kekayaan yang sesungguhnya yakni orang-orang miskin. Dalam terang permenungan-permenungan ini, saya menginginkan hari ini menjadi “hari orang miskin”. Kita diingatkan akan hal ini oleh tradisi kuno yang berdasarkannya martir Roma Santo Laurensius, sebelum menderita kemartiran yang kejam karena kasih Tuhan, membagikan harta benda jemaat kepada orang-orang miskin, yang ia gambarkan sebagai harta Gereja yang sesungguhnya. Semoga Tuhan menganugerahkan agar kita sudi memandang tanpa rasa takut kepada apa benar-benar penting, dan mengubah hati kita kepada harta kita yang sesungguhnya.

Ref: http://pope-at-mass.blogspot.co.id/2016/11/homili-paus-fransiskus-dalam-misa_14.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here