Ibadat Streaming Mustahil Terjadi di Baakemoyuk, Paroki St. Maria Bunda Allah, Sanggau, Kalbar

0
187 views
Sr. Ingrid memberi pengajaran iman pada anak-anak di pedalaman di mana ibadat streaming tak mungkin bisa terjadi. (Dok. Sr. Ingrid OSA)

BAAKEMOYUK adalah salah satu stasi dari Paroki Santa Maria Bunda Allah, Sanggau, Kalimantan Barat, Kalimantan. Umat di Baakemoyuk aktif memperdalam iman akan Kristus dengan mengadakan kegiatan renungan.

Umat meminta Sr. Inggrid OSA untuk memberikan renungan pendalaman Kitab Suci pada malam hari tanggal 26 September 2020. Daerah ini masih hijau, bebas covid-19. Sehingga pertemuan pendalaman Kitab Suci dapat dilakukan seperti biasanya.

Perjalanan menuju stasi

Tanggal 26 September 2020 sore hari. Sr. Inggrid OSA bersama dua saudari -ibu perawat dan guru agama- berangkat dari komunitas suster menuju ke stasi.

Perjalanan hingga stasi ditempuh selama satu jam. Kondisi jalan agak licin, karena hujan baru saja selesai turun.

Jalan masih berupa tanah liat. Saat hujan menjadi lumpur dan berdanau-danau. Danau besar-kecil. Bila musim kemarau menjadi debu pasir yang halus.

Rasa syukur tanpa batas

Rasa syukur mereka setelah sampai di stasi. Kehadiran mereka disambut dengan hujan deras.

“Sesampai di stasi kami di sambut dengan hujan deras tapi itu tidak menghalangi saya untuk berjumpa dengan umat. Untuk berbagi cerita bersama umat karena stasi ini baru pertama kali saya berkunjung,” kata Sr. Inggrid

Pelayanan di pedalaman memang sangat mengesan. Bukan hanya situasi fisik lingkungan yang masih asli, tetapi bagaimana umat menyambut dengan hangat dan kekeluargaan.

Bercerita tentang segala hal dan minum teh hangat atau air putih hangat sudah menjadi suatu hal yang menyenangkan. Relasi yang terjalin sungguh terasa.

Sukacita bisa mengajar bahan pendalaman iman kepada kaum ibu di tengah kesibukannya di pedalaman Keuskupan Sanggau. (Dok. Sr. Inggrid OSA)

Situasi boleh terbatas namun rasa syukur mereka tak terbatas. Jalanan yang licin dan lama telah membuat mereka lelah secara fisik.

Sambutan hangat oleh salah satu keluarga menjadi obat bagi mereka. Mereka istirahat sejenak dan diberi minum sebelum memulai acara renungan.

Pendalaman Kitab Suci

Pukul 18.45 mereka menuju Gereja. Renungan pendalaman Kitab Suci dimulai pukul 19.00.

Tiba di Gereja. Umat yang sudah hadir anak-anak Sekolah Minggu. OMK dan bapak, ibu belum hadir. Mereka masih ada di lading. Sedang nugal.

Nugal adalah istilah masyarakat Kalimantan yang memiliki arti kegiatan bertanam di ladang.

Karena umat masih berkegiatan di ladang dan lain-lain, Sr. Inggrid dan dua rekannya menunggu hingga pukul 20.00. Umat mulai banyak yang hadir dan pendalaman Kitab Suci pun dapat dimulai.

Anak-anak adalah masa depan Gereja, maka sejak kecil iman mereka harus dibina. (Dok. Sr. Inggrid OSA)

Kesabaran dibutuhkan dalam pendampingan umat. Baik di daerah kota maupun di desa. Karena dalam melayani umat kita yang kita jumpai bukan sekedar orang per orang tetapi bagaimana menanamkan keimanan akan Kristus. Yang membutuhkan waktu sepanjang hidup.

Bukan sekali atau dua kali perjumpaan saja. Namun terus-menerus dibaharui.

Bangga menjadi orang Katolik

Tema pendalaman Kitab Suci waktu itu adalah “Bangga Menjadi Orang Katolik” (Kis 2; 37-47).

Pelaksanaan pendalaman ini dibagi menjadi dua kelompok. Hari Sabtu malam pendalaman untuk remaja dan orang tua. Kelompok pertama. Kelompok kedua anak-anak Sekolah Minggu. Pada hari Minggu pagi sebelum ibadat komuni.

Kegiatan pada kelompok pertama. Sabtu malam. Sebelum dimulai dibuka terlebih dahulu dengan doa pembukaan. Mohon bimbingan Roh Kudus untuk memahami Sabda Tuhan.

Sr. Inggrid selanjutnya membacakan Kitab Suci tentang cara hidup jemaat pertama. Selanjutnya, dua kali lagi teks Kitab suci dibacakan.

  • Yang pertama beberapa orang untuk membaca teks Kitab Suci per alinea dengan suara lantang dan tidak tergesa-gesa. Peserta lain diminta untuk mendengarkan dengan penuh perhatian.
  • Yang kedua kalinya teks Kitab Suci dibaca kembali bersama.

Umat diajak untuk memahami teks Kitab Suci lebih mendalam melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.

Umat banyak sharing tentang pengalaman minder sebagai orang Katolik dengan iman dan identitasnya. Ada yang malu untuk membuat tanda salib di depan orang banyak karena takut nanti ditiru agama lain.

Maksudnya, orang yang berbeda prinsip meniru gerakan membuat tanda salib untuk menghina. Dikatakan sebagai orang Katolik hanya KTP saja, apalagi dengan pandemi ini jadi malas ke gereja.

Ada pula sharing yang memberikan motivasi yang menguatkan bahwa hidup persekutuan tidak sekedar berkumpul, tapi kita selalu saling mengasihi.

Umat Baakemoyuk sebelum pandemi, menerima komuni melalui ibadat komuni. Mulai awal masa pandemi, uskup mengimbau untuk terima komuni sesuai dengan protokol kesehatan. Sedangkan untuk mengikuti misa secara streaming itu hal yang mustahil. Karena sinyal internet di Baakemoyuk tidak ada.

Sharing umat kelompok pertama

Dari sharing umat disimpulkan berikut ini.

Kita dibaptis karena percaya kepada Allah yang menyatakan diri dalam Yesus Kristus. Dengan menerima baptisan, kita pun menjadi anggota Gereja Katolik. Tidak boleh malu dan harus bangga menjadi orang Katolik sebagai  pengikut Kristus dalam menjalani kehidupan seturut cara hidup Jemaat Perdana yakni bertekun dalam pengajaran para rasul. Seperti yang ada tertulis di dalam Kitab Suci yang sudah kita renungkan, hidup dalam persekutuan untuk saling mengasihi dan menolong sesame yang membutuhkan pertolongan kita, tidak saling membenci antara satu dengan yang lain.

“Terutama jika melihat kelebihan orang. Juga tidak mementingkan diri sendiri. Hidup dalam sukacita yakni kita bersukacita karena telah mengalami karya penyelamatan Kristus dan bersyukur atas semua yang telah dilakukan-Nya bagi kita,” kata Sr. Inggrid OSA kepada umat.

Umat begitu semangat mengikuti pendalaman Kitab Suci saat itu. Meskipun fisik letih dari ladang dan cuaca juga tidak mendukung, namun mereka tetap datang dan mau berbagi pengalaman dengan sesama.

Kerinduan untuk berjumpa dan bersatu dalam doa dan pendalaman Kitab Suci masih ada di hati mereka. Saling menguatkan dalam iman dan saling mengasihi dalam persekutuan.

Seperti Jemaat Perdana.

Sukacita bersama anak-anak di sesi kedua

Bersama anak-anak selalu membahagiakan. Kepolosannya dan ketulusan hati mereka memberi energi tersendiri bagi siapa pun yang mencintai dunia anak.

Kejujuran menjadi diri sendiri yang menjadi dominan di dunia ini.

Begitu pula dengan Sr. Inggrid, ibu guru dan ibu perawat.

Anak-anak sungguh luar biasa. Setelah malam turut pendalaman Kitab Suci namun pagi hari berikutnya tetap antusias mengikuti.

Mereka sudah datang di depan rumah keluarga tempat Sr. Inggrid dan dua saudari menginap. Mereka belum sempat sarapan, tetapi sudah menunggu di depan rumah.

Stengah jam bersama mereka dan mereka juga senang dalam pertemuan itu.

“Minggu pagi, saya memberi renungan singkat kepada anak-anak dengan tema Bangga Menjadi Anak Katolik dan bernyanyi beberapa lagu sambil menari. Anak-anak begitu antusias dengan penuh semangat dan sukacita telah mengalami karya penyelamatan Kristus,” tuturnya.

Mengalami dan menyelami cinta Tuhan

Lelah itu pasti. Tetapi kebahagiaan sejati dialami dalam pelayanan di Baakemoyuk. Kehangatan sambutan, keramahan sapaan dan sukacita membagi cerita iman tak tergantikan kebahagiaannya.

Saling menguatkan dalam iman untuk bekal menjalani hidup bermasyarakat. Saling mengasihi dalam persekutuan agar rahmat Tuhan terus mengalir dalam hidup.

Menanamkan iman untuk umat di Baakemoyuk menjadi penyemangat pelayanan. Agar Kristus menjadi milik umat turun-temurun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here