Ignatius Melintas Padang Gurun menuju Pembebasan (4)

1
1,597 views

[media-credit name=”google” align=”alignleft” width=”300″][/media-credit]SAAT menginjak umur 32 tahun, Inigo memutuskan meninggalkan rumah dan sanak-saudaranya. Ia ingin bertobat menjadi ”manusia baru”.  Inigo “si manusia lama sebagai seorang kapten yang gagah berani, yang suka bergaul dengan para penjudi dan banyak perempuan, memulai hidupnya secara baru karena ‘merasakan adanya suatu dorongan yang kuat untuk mengabdi Tuhan’ (Autobiography, No. 11).

Setelah sejenak berdoa di Montserrat, Inigo lalu romo untuk mengaku dosa. Kepada romo bapa pengakuan  ini, Inigo menumpahkan semua rentetan dosa yang pernah ia lakukan sepanjang 32 tahun itu. Sebelumnya, ia butuh waktu tiga hari untuk bisa mengingat-ingat rentetan dosa yang pernah ia lakukan sepanjang 32 tahun itu.

Pada malam menjelang Hari Raya Santo Perawan Maria Menerima Kabar Sukacita di bulan Maret 1522, Inigo berjaga dan berdoa sepanjang malam di depan patung Bunda Maria.  Iin dia lakukan dengan kadang kala mengambil posisi berlutut atau berdiri. Pagi-pagi benar, dia sudah meninggalkan Monserrat menuju Barcelona. Agar tidak dikenali orang, ia sengaja mengindari jalanan ramai dan memilih jalan-jalan simpang melewati pedesaan di Manresa.

Manresa menjadi tempat persinggahan Inigo selama setahun berikutnya.

Di sini, Inigo mengalami perubahan sangat besar dalam hidupnya. Kali ini, ia memulai sesuatu hal yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya yakni hidup dengan cara minta-minta sedekah alias mengemis. Ia melakukan pantang dengan tidak makan daging dan tidak minum anggur. Ia hanya mau minum anggur pada hari Minggu, ketika ada orang melakukan derma dan memberinya minum anggur.

Ketika masih muda, Inigo suka memelihara rambut dan ia suka menghabiskan banyak waktu untuk merawat mahkota hitam di kepalanya ini dan merawat kuku. Di Manresa inilah, Inigo melakukan hal kebalikannya: membiarkan rambutnya tumbuh tak terawat dan kukunya menjadi panjang.

Tak lupa, Inigo menghadiri ekaristi tiap hari. Selama misa, ia tak lupa membaca Kisah Sengsara Yesus. Ia juga mendarasakan doa Vesper (sembahyang sore hari) dan doa penutup pada petang hari. Semua kegiatan rohani itu memberinya penghiburan sangat-sangat besar. (Bersambung)

Romo Ignatius L. Madya Utama SJ, pastor Yesuit dan dosen teologi di STF Driyarkara Jakarta dan Pusat Pastoral Yogyakarta.

Photo credit: Courtesy of Google.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here