Ikut Perayaan Ekaristi Sambil Doa Rosario

2
370 views
Ilustrasi: Berdoa untuk bisa mengambil keputusan tepat benar. (Ist)

BAPERAN-BAcaan PERmenungan hariAN.

Sabtu, 13 November 2021.

Tema: Ikatan batin.

  • Keb. 18: 14-16, 19: 6-9.
  • Luk. 18: 1-8.

KEGEMBIRAAN batin kadang tercermin dalam ketenangan dan keheningan hidup. Dengan cermat dan mendalam, ia mencecap semua perkara-perkara hidupnya.

Ia berusaha menyatu dengan kehendak Allah secara bersahaja sesuai dengan kemampuannya pikiran dan merasa.

Melewati hari demi hari dengan sebuah keyakinan yang tak tergoyahkan, seseorang dapat menikmati hidup dalam kedamaian batin.

Ia memandang kebaikan di luar dirinya. Karena, ia mengalami kebaikan. Orangtuanya mengajari soal ketekunan dan keteguhan.

Ia bergeming dengan apa yang terjadi. Perkembangan-perkembangan baru yang mempengaruhi, tidak menggoyangkan imannya.

Ia diajari hidup sederhana. Hidup baik, tidak mau menyusahkan orang lain. Bahkan tidak merepotkan anak-anak yang sudah berkeluarga.

Ia tetap sendiri dan sederhana. Ia menggantungkan hidupnya pada kasih Allah yang ia percaya.

Selain rajin dan rutin ikut ekaristi dan kadang persekutuan, ia tidak lupa satu-satunya doa yang diajarkan sejak kecil.

Doa pada Bunda Maria. Butir-butir doa dalam untaian Rosario hafal. Setiap pekan, ia sudah hadir setengah jam sebelum ekaristi dan langsung berdoa Rosario sampai ekaristi selesai.

Salahkah? Tapi, ya memang doa itulah yang jadi sumber kepuasan batinnya.

Hadir dalam perayaan ekaristi, namun hatinya terfokus pada Bunda Maria.

Ia tidak tahu banyak dan tidak mengerti aneka macam doa-doa di dalam Gereja. Hanya satu untaian doa yang diyakininya bahwa ia adalah seorang Katolik: doa Rosario.

Rosario adalah doa Gereja yang mempribadi.

Saya tidak bisa menghakimi atau mengoreksi cara doanya. 

Dengan cara itu, ia menghidupi imannya.

Saya melihat betapa hidupnya sungguh terberkati.

Tidak ada seorang pun yang membicarakan kekurangannya, kecuali ketekunan berdoa, kebersediaan diminta tolong sejauh bisa.

Ia terbuka dan gembira kalau ada yang berkunjung di rumahnya. Rumahnya sering menjadi tempat perjumpaan iman di komunitasnya.

Anak-anak senang ikut dalam doa dan persekutuan bersama di rumahnya, karena pulangnya pasti diberi sesuatu, makanan kecil.

Sebuah ungkapan cinta. Anak-anak menyapanya, “eyang”.

“Romo, saya tidak kuat berlutut kalau di gereja. Saya hanya berdiri dan duduk saja. Berdosakah ya Romo?”

Hati saya trenyuh mendengarnya.

“Untuk seumur eyang ya tidaklah. Eyang telah membayar dengan doa-doa eyang bagi Gereja; bagi kami semua. Seandainya tidak kuat berdiri, duduk pun juga tidak apa-apa,” hiburku.

“Saya pulang pergi naik becak. Sudah menjadi langganan, seperti saudara sendiri. Dan kalau ada sesuatu dengan diri saya, ia yang menghubungi anak-anak saya. Mampirlah Romo, jika ada waktu dan berkenan,” pintanya.

“Kapan Romo, bisa ya beritahu saja. Mang becak akan antar jemput Mo,” katanya.

Itulah percakapan singkat setelah misa.

Beberapa pekan kemudian.

 “Met pagi eyang. Sedang apa?” sapaku sengaja membuat kejutan.

“Eh..Romo. Met pagi juga. Ini sedang mendangir tanah di pot. Yah, sedang cari hiburan Romo, sambil olahgerak,” jawabnya mantap.

“Eyang tinggal sendirian?”

“Iya Romo. Anak-anak sudah berkeluarga. Mereka tinggal di luar kota. Sebulan sekali bergantian mengunjungi. Anak saya empat, Romo. Tiga laki-laki di Jakarta dan satu, yang bontot, perempuan di Semarang.

Kalau bulan ini anak yang pertama, bulan kedua anak yang kedua, dan terus begitu Romo. Mereka memperhatikan saya dengan memasang CCTV.

Dari HP mereka mereka bisa melihat apa yang terjadi di rumah ini.

Begitulah Romo, anak-anak zaman sekarang, mengatur orangtua dari jauh he…. Tanda cinta mereka kepada orangtuanya.

Ada bibi yang membantu kok. Datang pagi dan pulang sore. Isteri mang becak,” jelasnya lengkap.

“Berapa umur sekarang eyang?”

“Baru 78 tahun Romo. Suami sudah meninggal 20 tahun yang lalu,” jawabnya ringkas.

Tak ada kesedihan tersirat dari rona  wajahnya. Sendirian dan hidup bahagia.

Menjadi pendoa bagi semua. Tugas keibuannya sudah selesai. Cucu bukan urusannya lagi. Ia mengajari anak-anaknya bagaimana membangun rumahtangga yang baik; merawat kehidupan cucu-cucunya.

Ia kini menikmati hidup bersama Tuhannya.

Yesus menghibur, “Berdoalah dengan tidak jemu-jemu. Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?” ay 1, 7a

Tuhan ajari kami bertekun dalam doa dan berani belajar berserah. Amin.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here