Imam Agung

0
120 views
Yesus menyembuhkan mertua Simon Petrus. (Ist)

AGAMA samawi (Yahudi, Kristen dan Islam) mengenal dan memiliki tokoh yang disebut imam. Mereka berperan baik dalam bidang agama maupun di ranah sekuler.

Para imam antara lain bertugas memimpin doa, mewakili umat di hadapan Tuhan dan membawa persembahan umat kepada Tuhan.

Beberapa dari mereka disebut pemimpin. Misalnya, seorang ayah atau suami menjadi imam bagi keluarganya.

Oleh karena tugasnya itu, mereka dipandang dan diharapkan menjadi orang yang suci. Bukan hanya dituntut bersih dari dosa tetapi siap mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan.

Di samping itu, bersedia juga “terpisah” dari orang-orang lain. Bukankah suci bermakna dikhususkan bagi Tuhan?

Kerap kali peranan dan statusnya itu membuat mereka terasa atau tampak jauh dari umatnya. Ada bahaya bahwa mereka tidak mengenal dan merasakan kesulitan dan derita dari umatnya. Hal ini tentu menghambat tugas dalam mewakili umat.

Bagaimana bisa mewakili kalau tanpa mengenal yang diwakilinya?

Berbeda dari imam-imam yang demikian, Sang Imam Agung yang ditunjuk oleh Allah. Lebih dari mengenal umat-Nya, Dia menjadi satu dengan mereka, mengambil darah dan dagingnya (Ibr 2: 14). Sama dengan mereka, kecuali dalam hal dosa.

Tujuannya, agar sebagai Imam Agung Dia dapat merasakan (berempati) kepada manusia dan dapat mewakili mereka di hadapan Allah (Ibr 2: 17).

Lebih dari itu, Dia datang untuk membebaskan manusia dari kuasa dan sengat dosa, yakni kematian (Ibr 2: 14).

Peranan itu nyata dalam apa yang dikatakan dan diajarkan. Dia menjamah dan menyembuhkan ibu mertua Simon yang sedang sakit demam (Mrk 1: 31).

Ketika banyak orang sakit dan kerasukan setan dibawa ke rumah ibu mertua Simon, mereka semua disembuhkan dan dibebaskan (Mrk 1: 32.34).

Ketika Dia sedang berdoa sendirian, Simon dan kawan-kawannya datang, memberitahu bahwa semua orang mencari Dia. Namun Dia berkata, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang. Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.” (Mrk 1: 38-39).

Dari kenyataan di atas orang bisa belajar tiga hal.

Pertama, imam yang sejati itu memahami dan merasakan kehidupan umatnya. Berada di tengah-tengah mereka; bukan terasing, terisolasi atau jauh dari umatnya.

Kedua, imam itu menggembalakan dan memperhatikan umat dalam kesulitan dan penderitaan mereka.

Ketiga, imam itu bersifat universal, non-diskriminatif dan melayani semua orang lintas batas.

Sulit menemukan imam yang demikian itu. Mengandalkan kekuatan diri sendiri atau tanpa rahmat Allah tentu sulit.

Karena itu, para imam itu memang perlu didoakan agar dalam menjalankan tugasnya mereka selalu menimba daya roh dari Sang Imam Agung.

Shek O, Hong Kong, 13 Januari 2021
(Arsip renungan tahun lalu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here