Imam Misionaris Pastor Gazali SX Ukur Jalan Hutan Pekanbaru-Pasir Pangarayan Sejauh 181 Km

0
313 views
Iustrasi: Kondisi jalan utama di pedalaman Ketapang by Sr. Elisa Petra OSA

BAPERAN – BAcaan PERmenungan hariAN

Hari Minggu Biasa XV, 11 Juli 2021.

Tema: Jalan indah misi.

  • Bacaan Am. 7: 12-15.
  • Ef 1: 3-14.
  • Mrk. 6: 7-13.

AKULAH pribadi yang diutus. Sebuah rahmat agung dan kesadaran yang dibangun dalam penerimaan Sakramen Krisma.

Paulus dalam keyakinan berkata, “Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi.” ay 9.

Memang tidak mudah memahami, walau tidak mengurangi keteguhan iman. Kita selalu diajari dan diingatkan, iman merupakan bagian dari salib Yesus, yang kadang tidak dapat kita mengerti.

Kenapa harus susah?

Romo Gazali SX

Saya kemudian ingat Romo Gazali SX, romo paroki saya saat itu di Pekanbaru, Provinsi Riau.

Imam misionaris dari Italia ini berkata, “Harus sabar mendampingi iman umat dari hari ke hari supaya imannya  tak gampang hilang.”

“Mau ikut ke stasi besok? Kan sekolah libur tiga hari?,” ajaknya.

“Mau Romo,” jawabku sebagai remaja bahagia.

“Bilang ke orangtuamu dulu ya. Kita ke daerah Pasir Pangarayaan. Harus bermalam menginap di sana,” terang pastor.

Beberapa tahun kemudian baru saya tahu, jarak tempuh dari Pekanbaru ke Pasir Pangarayan itu sungguh super jauh. 

Tercatat ada 181,45 km. Harus melalui hutan lebat dan sebagainya.

Awal perjalanan sungguh menyenangkan. Naik mobil jip buatan Inggris dengan merek Land Rover penuh sembako untuk umat. Makan kecil dan minum selama perjalanan berlimpah. 

Ada misdinar lain dan seorang bapak yang menemani.

Selama perjalanan banyak hal yang belum pernah saya lihat.

Sungguh-sungguh telah membuka cakrawalaku sebagai seorang anak remaja.

Ada banyak lutung bergelantungan di cabang-cabang pepohonan. Aneka burung berkicau di jalanan: perkutut, jalak, punai. Juga burung lainnya yang bahkan beraneka warna suka berjemur di tengah jalan yang kering.

Juga bisa melihat kura-kura rawa, rombongan babi hutan menyeberang jalan, kancil, landak yang melintas.

Namun, beberapa jam kemudian, saya mulai merasa lelah, capai, dan mengantuk. Badan terasa sakit, mual karena dampak goncangan mobil.

Rasa takut mulai mengisi hatiku. Terutama saat memasuki hutan lebat, sepi, dan juga pernah tidak ketemu orang sama sekali.

Saya mulai pegangan besi bangku kencang karena goncangan mobil.

Apes, tapi terberkati.

Saya lihat romo misionaris Xaverian dari Italia ini tetap berfokus menyetir. Berusaha serius agar bisa menghindari kubangan.

Namun alamak. Yang terjadi kemudian, roda belakang selip. Mobil tidak bisa bergerak sama sekali.

Romo dan bapak yang juga ikut dalam perjalanan ini lalu mengambil lempengan besi baja panjang dua meteran. Meletakkannya di samping bodi mobil agar mobil berjalan lagi.

Juga dipakai sebagai penguat bila mobil harus melewati jembatan kecil yang meragukan.

Kelihatannya seperti yang ada di kesatuan Zeni TNI.

“Apa itu romo?” tanyaku super kepo.

“Lah, barang ini malah pemberian dari ayahmu. Lempengan baja untuk jembatan darurat,” kata romo.

Aku baru ngeh seketika bahwa ayahku memang seorang serdadu TNI AD dari satuan Zeni Tempur.

Perjalanan semakin menjenuhkan. Rasa ngantuk dan lelah. Goncangan kadang keras. 

Malu bertanya, karena perjalanan memang masih jauh. Juga takut sekaligus “gengsi” anak tentara.

Untuk mengusir sepi, romo sering bergumam lalu suka nyanyi-nyanyi sendiri. Romo bertanya kepada kami apakah mau ikut nyanyi.

Ia kelihatan hepi, tanpa pernah mengeluh.

Sebulan sekali, pastor datang mengunjungi umatnya dan ber-Ekaristi bersama.

Berkat tak terduga

Di suatu tempat ban kempes. Mobil mau tak mau ya harus berhenti. Terdengar burung berkicau silih berganti. Sesekali beberapa monyet melintas dari satu pohon ke pohon yang lain.

Romo dan bapak itu mengambil dongkrak dan ban cadangan. Sambil menukar ban itu, romo berkata, “Saya ini sudah tua. Suatu saat akan mati. Siapa yang mau menggantikan saya?”

Begitu saya mendengar, kendati hanya jongkok melihat romo kerja, saya berkata, “Saya mau Romo.”

“Betul? Sini datang lebih dekat, kamu berlutut,” ajaknya.

Saya berlutut. Romo berdiri. Ia berdoa, menumpangkan tangannya yang kotor itu ke atas kepalaku.

“Romo akan mendoakanmu. Nanti kalau pulang kamu sering jumpa Romo ya,” katanya kemudian.

Beberapa tahun, kemudian Romo Gazali SX itu pindah tugas pastoral dan kemudian saya tidak pernah bertemu lagi.

Kenangan indah itu kuamini sebagai awal berkat pengutusanku. Pengalaman iman itu diyakini sebagai kasih Allah yang menyelamatkan.

Sejak saat itu, saya tidak ragu dan tidak membuang banyak waktu untuk mengamininya.

Tuhan, semoga ketidak-sempurnaan kami, tidak menjadi alasan untuk menghindar bahkan menolak perutusan-Mu.

Jaga dan berkatilah keluarga kami, agar penerusan iman tidak terputus. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here