Iman Katolik: Agama Itu Candu? Ketika Orang Mabuk Agama

4
394 views
Ilustrasi -- Fundamentalisme dan kekerasan by Engaging Peace

SAYA sudah lama babtis Katolik. Saya sering mendengar orang bilang: Agama itu candu masyarakat. Sebenarnya, saya tidak suka atau malah tidak senang dengan ungkapan itu.

Sepertinya agama saya itu jelek. Tetapi sejujurnya saya belum mengerti maksudnya dengan istilah candu itu.

Dapatkah saya dijelaskan sedikit apa maksud ungkapan tersebut?

Candu adalah sesuatu yang menjadi kegemaran. Di sini bisa benar, bahkan benar sekali, bahwa saya gemar dengan agama saya. Agama itu bagai candu buat saya. 

Namun demikian, candu itu beda dengan kecanduan.

Kecanduan artinya memang negatif. Kecanduan berarti keranjingan sekali sehingga melupakan yang lain. Bahkan yang lebih bernilai. Kecanduan main game bisa membuat anak lupa sekolah, atau bahkan lupa ibunya sendiri.

Sebenarnya,  apa pun dapat membuat kita kecanduan. Makanan, minuman, hobi, bahkan obat-obatan. Karenanya, HP juga bisa membuat kita kecanduan. Yakni, bila HP telah membuat kita lupa akan yang lain, yang lebih penting.

Karena HP kita lantas jadi lupa anak, lupa isteri. Demikian pula dengan agama.

Mabuk agama

Agama dapat membuat kita kecanduan. Karena agama, kita lantas lupa akan yang lain. Seperti masih saja berlangsung sampai hari ini. Karena orang tidak mau ikut agama yang diyakininya, lantas ia merasa berhak membunuh sesamanya manusia yang berbeda keyakinan dengan agamanya.

Contoh lain, adalah hanya karena beda agama dengan kita, lantas kita merasa berhak menghukumnya, mematikan rezeki atau kariernya, atau bahkan menyingkirkannya.

Atau, karena karena keyakinan agama kita, kita menjadi buta, tidak peka bahwa kita dipakai, diperalat oleh kekuatan politik tertentu dan tega pada sesama, teman atau saudara sendiri. 

Contoh lain lagi, misalnya karena agama, lantas Tuhannya justru dilupakan. Tuhan yang mau disembah, mau dimuliakan lewat tatanan agama malah dilupakan. Omongannya sih memuji Tuhan, tetapi kelakukanya menyakiti hati Tuhan.

Bagaimana itu bisa terjadi?

Ya bisa. Yakni, ketika agama yang kita kedepankan, kita agungkan melebihi Tuhan. Menyembah apa pun melebih Tuhan sama artinya dengan menyembah berhala. Berhala itu maksudnya menomorduakan Tuhan.

Menomorsatukan agama

Ketika yang nomor satu agama, di atas Tuhan saat itulah agama jadi “berhala”. Agama juga bisa jadi “berhala”, bila agama diposisikan melebihi kuasa Tuhan.

Agama justru kehilangan eksistensi-nya, ketika Tuhan tidak lagi disembah dan dimuliakan. Sebab agamalah mengenalkan manusia akan adanya Tuhan.

Sebelum ada agama, orang menyembah animisme-dinamisme, sebab orang belum mengenal Tuhan.

Kalau “patung” dianggap berhala, itu tak seberapa. Tetapi kalau “menyembah agama” itu justru merupakan berhala yang jauh lebih berbahaya. Bisa merusak tatanan hidup bersama di masyarakat. Dalam arti ini, jelas bahwa agama sungguh bisa menjadi candu masyarakat.  Contohnya gampangnya adalah teroris.

Dia bukan hanya merasa bersalah, tetapi justru malah merasa bangga dengan kelakuannya menteror, membunuh sesama manusia, karena ia yakin bahwa itu adalah perintah agama.

Contoh lain adalah perang agama.

Perang yang didasarkan pada keyakinan agamanya. Kalau mata lahir dan mata batin kita tidak lagi bisa melihat sesamanya adalah manusia, dia sudah kecanduan agama. Agamanya sudah jadi candu baginya.

Sebab agama yang benar, tak pernah meniadakan sesama manusia, apalagi  meniadakan kuasa Tuhan. Agama yang dihayati dengan benar, mestinya memuliakan Tuhan, menjunjung martabat manusia, menghargai ciptaanNya. Tidak memusnakan karya cipta Tuhan.

Gereja belajar dari sejarah

Syukurlah, Gereja kita sudah mau belajar dari sejarah. Khususnya sejarah Perang Salib dulu. Ketika dulu, Paus sebagai pemimpin Gereja Katolik justru terlibat dalam Perang Salib ini. Gereja kemudian juga menjadi sadar bahwa sesungguhnya agama cuma jadi alat politik belaka.

Begitulah perang yang ditunggangi kepentingan politis, dipicu oleh keyakinan agama, dan hasilnya lebih menimbulkan kesengsaraan daripada kebahagiaan bagi manusia. Karena itu, sekarang Gereja tidak lagi melakukan tindakan bodoh: memerangi agama lain demi superioritas agamanya sendiri.

Konsili Vatikan II

Syukur pula sudah ada perubahan teologi Gereja dengan Konsili Vatikan II. Ketika Gereja meyakini bahwa keselamatan juga terjadi tidak hanya di dalam Gereja.

Extra ecclesia salus est. Di luar Gereja ada kesalamatan. Maka sejak Konsili Vatikan II, Gereja tidak punya alasan lagi untuk mendesak orang lain, yang berbeda berkeyakinan, di luar Gereja, untuk punya keyakinan sama dengan keyakinan Gereja.

Tuhan dengan caranya dan sesuai waktunya mampu menyelamatkan setiap manusia, apa pun agamanya.

Bahaya berikutnya

Apakah dengan demikian, kemungkinan agama menjadi candu di Gereja kita, sudah hilang? Sudah berkurang, tetapi tidak berarti hilang juga.

Masih saja ada saja orang yang menempatkan hal-hal agama melebihi nilai lain, yang lebih penting.

Seorang bapak keluarga misalnya, tanggungjawabnya adalah mensejahterakan keluarga, isteri dan anak-anaknya. Nah kalau karena keyakinannya, ia menjadi sangat (terlalu) aktif di gereja (baca: kegiatan parokial atau kelompok kategorial lainnya).Sampai-sampai tidak punya waktu untuk keluarga, nah ini keliru besar.

Apalagi kalau karena aktifivitasnya di kegiatan agamanya, sampai ia tidak peduli pada keluarganya, baginya, ia mungkin telah kecanduan agama. Itu kalau cuma seorang yang kecanduan.

Bila yang kecanduan agama itu sekelompok orang. Misalnya kalau terjadi sekelompok masyarakat melakukan teror pada seseorang, sekelompok orang yang beda dengan keyakinan agama yang dianutnya, itu berarti agama benar-benar telah jadi candu masyarakat.

Lebih tepat malah harus disebut ada masyarakat yang kecanduan agama. Semoga tidak akan pernah terjadi pada orang-orang beragama Kristen. Sebab Yesus Kristus, jangankan beda dengan Dia, yang salah, yang menyalibkanNya pun diampuniNya. Kalau kita pengikutNya, mestinya kita juga mengikuti teladanNya.

Jadi, supaya tidak kecanduan agama, sebaiknya kita menghayati agama kita secara mendalam, tetapi jangan sampai fanatis buta.

Yang lebih penting adalah bagaimana agama dalam menginspirasi dan memotivasi kita untuk hidup lebih baik di tengah masyarakat.

Menambah kebaikan bagi lingkungan sekitar kita dan dunia tempat kita hidup dan berkarya.

Jika penghayatan agamamu membuat orang di sekitarmu tidak hidup damai dan bahagia, atau malah resah dan gelisah, sudah pasti kelirulah penghayatan agamamu saat itu. 

Semarang, 26 Juli 2020

4 COMMENTS

  1. Extra Ecclesiam nulla salus masih ada pak wid, dan akan terus ada sampai akhir jaman. Baiknya tidak memahami KV II SETURUT MAU nyapak wid saja, tpi seturut yang sebenar benarnya
    Dignitatis Humanae art 1, salah sati dokumen KV II jelas menyatakan bahwa

    “Kita percaya bahwa Satu satunya agama yang benar itu berada dalam Gereja Katolik dan apostolik,”

    Apakah dengan demikian Para Santo di KV II menuhankan agama?

  2. berarti ada agama lain yg bisa diselamatkan Tuhan Yesus?? atau gimana sih?? apakah dogma extra ecclesia salus est itu adanya di deep web?? kok saya cari di google gak ada yaa?? mohon pencerahannya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here