Iman yang Terus Disempurnakan

0
223 views
Iman Kristus yang mampu menyelamatkan umat manusia.

PERUBAHAN itu niscaya dalam kehidupan ini. Iman dan religi tidak terkecuali. Religi perlu diperbarui dan iman mesti dikembangkan. Bagai sel-sel tubuh yang terus diperbarui. Menciptakan yang baru tidak berarti sama sekali menghapus yang lama.

Gereja, dalam arti tertentu, melanjutkan tradisi agama Yahudi yang termuat dalam Perjanjian Lama. Yesus menegaskan bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya (Matius 5:17).

Yesus itu Musa yang baru.

Menggenapi bisa berarti menyempurnakan. Hal-hal yang mendasar tidak diubah. Taat kepada hukum Taurat dipertahankan. Yesus menegaskan, “Siapa yang meniadakan salah satu perintah Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga.” (Matius 5:19).

Gereja juga terus membenahi dan memperbarui diri (Ecclesia semper reformanda). Bergerak maju secara kreatif menuju cara-cara baru dalam memahami dan menghayati iman.

Gereja melanjutkan tradisi tanpa terjebak di dalamnya, melainkan menghayatinya sesuai dengan tanda-tanda zaman.

Ajaran Konsili Vatikan II adalah salah satu contohnya.

Tradisi bisa dipahami dalam dua cara: sebagai kepercayaan mendasar yang telah ada sejak awal dan sekadar sesuatu yang diulang-ulang dalam waktu yang lama.

Bersama Yesus, Gereja terus berubah. Ketika ada yang bertanya, “Kapan Gereja berhenti berubah?”

Jawabannya, “Tidak akan pernah.” Yang menutup diri terhadap perubahan menyongsong kematian. Santo Paulus juga menegaskan pelayanannya yang baru (2 Korintus 3:6). Itu dilakukan berkat Roh Kudus (2 Korintus 3:6).

Pembaruan sejati mesti dibimbing oleh Roh Kudus.

Kardinal John Newman menegaskan, “Hidup berarti berubah; menjadi sempurna berarti sering berubah.”

Dia tidak hanya mengatakan hal itu, melainkan secara konsisten melakukannya. Itu dibayar mahal, yakni dengan berubah dari seorang Anglikan menjadi Katolik.

Dalam beriman, sejauh mana aku siap berubah?

Apakah aku berkembang dan menghayati iman sesuai dengan kebutuhan dan tanda-tanda zaman?

Rabu, 14 Juni, 2023

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here