In Memoriam Emanuel Suharjendra (1939-2017), Penulis Sastra dan Bahasa Jawa

0
606 views
RIP Emanuel Suharjendra (1939-2017) by St. Widihasto W. Putra

Pengantar Redaksi

Pastor Yohanes “Santo” Dwiharsanto Pr sebagai anak sulung almarhum Pak Jendra sekaligus mewakili keluarganya dengan ini mengucapkan banyak terima kasih atas perhatian segenap kalangan berupa ungkapan duka cita dan bantuan lainnya saat berlangsung misa requiem dan prosesi pemakaman ayah kandungnya: almarhum Emanuel “Jendra” Suharjendra.

Ucapan terima kasih ini diungkapkan menyapa para rekan imam Keuskupan Agung Semarang dan para imam lainnya, bruder, suster dan segenap umat dan masyarakat lainnya atas perhatian dan doanya bagi almarhum Pak Jendra yang telah meninggal dunia di Yogyakarta, Minggu petang tanggal 19 Februari 2017 lalu.

Pastor Santo juga memohon maaf atas segala kekurangan keluarga duka dalam menanggapi perhatian segenap kalangan di atas. Acara misa requiem dan prosesi pemakaman telah berjalan lancar berkat doa-doa dan bantuan segenap umat.

Redaksi Sesawi.Net juga menerima naskah berisi data penting tentang almarhum Pak Jendra dari Romo Santo Pr dan kini kami merilisnya dalam bentuk In Memoriam.

————————-

NAMA Pak Jendra –nama panggilan akrab almarhum Emanuel Suharjendra (1939–2017) mulai dikenal public, setidaknya ketika namanya ikut ‘mengudara’ melalui cetakan Majalah Praba di tahun 1970-an. Majalah katolik berbahasa Jawa ini keluar dari dapur redaksinya di Jl. Bintaran Kidul 5, Yogyakarta. Duduk sebagai dewan redaksinya adalah almarhum Pastor I. Wahjasudibja Pr (imam diosesan Keuskupan Agung Semarang), Pastor A. Soemandar SJ (Jesuit), dan beberapa tokoh awam katolik lainnya seperti mendiang Pak Jendra yang dibesut sebagai  Pembantu Khusus bersama FJ Basuki.

Emanuel Suharjendra atau yang lebih dikenal dengan sebutan E. Suharjendra lahir di Jogonalan Lor, Yogyakarta, pada 28 Desember 1939. Bersama keluarganya hingga meninggalnya pada hari Minggu tanggal 19 Februari 2017, almarhum tetap tinggal di Jogonalan Lor 151, Yogyakarta 55181.

Ayahnya bernama B. Widji Notoharsono, kelahiran Bantul, 10 Maret 1919; sedangkan ibunya bernama M. Jumilah, juga kelahiran Bantul, 1 Januari 1923.

Pak Jendra  menikahi E. Isbaryati pada 27 Juni 1970. Namun, istrinya pergi menghadap Tuhan pada tahun 1989 setelah merajut hidup bersama selama 19 tahun itu meninggal pada 1989.

Pada tahun 1990,  E. Suharjendra menikah lagi dengan M. Sri Suparmi.

Suharjendra mengawali pendidikannya di SD Jarakan, Bantul, lulus tahun 1953. SLTP Negeri II, Yogyakarta, lulus tahun 1956. Sekolah Guru Agama (SGA) Negeri Yogyakarta, lulus tahun 1959. Selepas SGA ia menjadi guru di Wates, Bantul, Yogyakarta. Selama mengajar di SD itulah, Pak Jendra   melanjutkan kuliah Program D3 di IKIP Yogyakarta, lulus tahun 1965. Setahun kemudian, ia menyelesaikan sarjana muda jurusan publisistik di Universitas Pajajaran Bandung (1966).

Menjadi wartawan dan editor

Selain berprofesi sebagai guru, E. Suharjendra juga pernah berprofesi sebagai wartawan dan editor di sebuah surat kabar harian (1966-1975).  Selanjutnya, mulai  tahun  1975,  ia menjaga dapur Majalah Praba sebagai Pemimpin  Redaksi. Selain itu, ia juga didapuk menjadi editor buku Panggugah (10 judul “Bunga Rampai Wacan Bocah”) terbitan Dinas Pendidikan dan Pengajaran Yogyakarta (2000).

Majalah Praba atau kemudian berganti nama menjadi Majalah Peraba adalah majalah berbahasa Jawa yang terbit sejak tahun 1953. (Ist)

Pengalaman berorganisasi ia jalani, antara lain, sebagai Sekretaris OPSJ (1966-1980),  Sekretaris II di Javanologi, Gambir Sawit (1984), Ketua II Yayasan Notokarsono atau Yasna (1995), dan Ketua I Yayasan Yasna (1997).

Nama samaran

Dalam karya-karyanya, terutama cerbung, Suharjendra sering menggunakan nama samaran, antara lain seperti Dhik Hardje pada tulisannya di Majalah Cendrawasih, dan E. Widji Putra atau Emmanuel pada karyanya di harian Kedaulatan Rakyat dan Majalah Praba. Saat menulis artikel bernuansa agamis (katolik), Pak Jendra sering menggunakan nama E. Widjiputra atau Emanuel Sj.

Suharjendra mulai menekuni dunia  tulis-menulis mulai tahun 1957.

Karya fiksi pertamanya, berupa cerita anak berjudul Katalompen dan tulisan itu terbit di Majalah Cendrawasih ada tahun yang sama.  Sejak  itu  ia  banyak  mengirimkan  karya-karyanya berupa cerpen, cerbung, roman sejarah, dan artikel lainnya  ke berbagai media seperti Praba, Jaya Baya, Penjebar Semangat, Mekar Sari, Kedaulatan Rakyat, dan Harian Bernas.

Karyanya  cukup  banyak,  tetapi  sampai  sekarang almarhum Pak Jendra belum sempat   menginventarisasi, baik judul maupun penerbitnya.

Penghargaan yang pernah ia terima di antaranya ketika ia menjadi juara II dalam Lomba Mengarang Esai Berbahasa Indonesia untuk Guru SD se-DIY (1974). Salah satu cerpennya berjudul Ngrahabi masuk dalam buku Bunga Rampai Sastra Jawa Mutakhir (Ras, 1985) dan cerpennya lainnya berjudul Paguron Telu pernah dipakai sebagai bahan lomba sandiwara daerah untuk guru-guru SD se-DIY pada tahun 1982.

Emanuel Suharjendra, pengasuh Majalah Praba

Sebagian karya (roman sejarah) E. Suharjendra yang muncul di Majalah Mekar Sari, di antaranya Salatiga (15 Maret 1961), Macan kang Mangsa Gogore Dewe (15 Maret 1964), Gandrung Brana Nusantara (1 Maret 1965), Baron Sekeber Nemu Tanding (10 Maret 1965), Asmara ing Randualas (20 Maret 1965), Sayembara ing Segara Blenderan (1 April 1965), Mburu Brana Kelangan Nyawa (10 April 1965).

Sementara karyanya berupa cantara lain: Kali Praga Isih Mili (di Majalah Praba, 1979), Kang Padha Tinimbalan (1979), dan Kembang Sepasang (Asco, 1990). Tahun 2002 Pak Jendra mendapat apresiasi dari pemerintah berupa Penghargaan Budaya Kabupaten Bantul,. Pada tahun 2011 ia mendapatkan anugerah budaya dari Pemerintah Provinsi DIY.

Tahun 1999 mendirikan Badan Pelestari Kebudayaan Jawa “Bebana” yang memberikan pengajaran menulis huruf Jawa, melantunkan tembang Jawa,  dan berpidato dalam bahasa Jawa. Ia suka mendendangkan  Injil dalam tembang Jawa.

Harian The Jakarta Post edisi 2 Oktober 2009 menulis artikel berjudul All thing Javanese tulisan Simon Sudarman mengenai kiprah mendiang Pak Jendra mencintai dan melestarikan sastra dan bahasa Jawa.

Kini, Pak Jendra sudah menghadap Tuhan untuk selamanya. Karya-karyanya yang sangat beragam mulai dari cerpen, cerbung, dan artikel lainnya –dalam bahasa Jawa—merupakan dokumen sastra yang penting dalam khasanah sastra dan bahasa Jawa.

Requiescat in pace.

PS: Naskah asli artikel ini ditulis dan disediakan oleh keluarga almarhum Pak Jendra dan dikirim ke Redaksi oleh Romo Yohanes “Santo” Dwiharsanto Pr.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here