In Memoriam Mgr. Hubertus Leteng: Nasarudin, Sosok Imaginatif Favoritnya (1)

1
996 views
RIP Mgr Hubertus Leteng (Keuskupan Bandung)

SAYA mengenang almarhum Uskup Emeritus Mgr. Hubertus Leteng sebagai sosok pribadi yang jujur.

Beberapa kali, kami saling kontak di format Messenger; biasanya setelah saya membaca sepintas renungan yang dibuatnya setiap hari di laman Facebook-nya.

Seminari Tinggi Ritapiret

Seperti biasa, renungannya sopan dan tidak banyak gaya.

Saya pernah dididik almarhum Mgr. Hubertus saat beliau masih menjadi pastor pembina di Seminari Tinggi Ritapiret di Flores, NTT.

Beberapa kata kunci Mgr. Hubertus adalah kata-kata berikut ini: Nasarudin, papaya, jalan kaki, dan kejujuran intelektual.

Nasarudin tentu saja adalah tokoh rekaan. Dibuat untuk ilustrasi kotbahnya. Nasarudin tidak pernah selalu protagonis atau pun antagonis. Kadang juga, Nasarudin hanya hadir  sebagai cameo. Muncul sekejap dan hanya mampir lewat saja.

Suka pepaya

Almarhum Mgr. Hubertus penyuka buah pepaya. Beliau menanam sejumlah pohon pepaya di kintal Ritapiret.

Jika saatnya berbuah dan hampir matang, beliau memantaunya setiap hari.

Dugaan saya, mungkin beliau ingin pencernaannya selalu lancar. Karena, maaf, Mgr. Hubert mempunyai bobot berat badan yang besar.

Setiap sore, Mgr. Hubertus sering melakukan olahraga berjalan kaki; kadang sampai ke luar batas Seminari Tinggi Interdiosesan itu. Berjalan kaki hingga ke Pasar Nita, Wairpelit, bahkan Koting.

Mgr Hubert tidak banyak berolahraga yang lain. Mungkin sesekali bermain basket. Namun, jalan kaki adalah olahraga favoritnya.

RIP Mgr Hubertus Leteng (Dok. KWI)

Pembelajar yang tekun

Kamar saya di Seminari Ritapiret dulu –saat tingkat I, tingkat III dan IV- letaknya berdekatan dengan kamar Mgr. Hubertus.

Beliau adalah pembelajar yang tekun. Sore setelah mandi, beliau akan membaca atau menulis. Kamarnya dibiarkan sedikit terbuka. Jika melintas di depannya, kita bisa melihat wajahnya muncul di antara buku-buku.

Kompetensi utamanya di teologi spiritualitas. Disertasi doktoralnya tentang hubungan para imam.

Beliau menulis sebuah buku tebal tentang tema itu yang saya ingat di judulnya ada kata: “Motor…”.

Saya tidak pernah baca buku itu secara serius.

Sebuah tulisan beliau yang saya baca secara serius adalah artikelnya di salah satu seri jurnal Ledalero yang merumuskan dengan indah hubungan antara ilmu filsafat dan teologi spiritualitas.

Beliau membuat titik temu, titik pisah, dan saling hubung yang harus dirancang antara kedua hal itu.

Mgr. Hubertus mempunyai kejujuran yang kadang bikin saya tersenyum sendiri.

Beliau tidak segan-segan mengutip tulisan kita -para muridnya- yang hanya mendapatkan publikasi di majalah dinding atau pun majalah tak ber-ISSN.

Dikutipnya untuk mendukung tulisannya di jurnal atau buku pentingnya.

Jika sedang menunggu jam makan malam, Mgr. Hubertus akan berdiri di depan majalah dinding depan refter membaca tulisan-tulisan para muridnya. Jika ada yang bagus, beliau akan mencatatnya.

Jenazah Mgr. Hubertus Leteng disemayamkan di Gereja Katedral Santo Petrus Keuskupan Bandung. (Ist)

Tetap kagum

Itulah pemandangan yang bikin saya kagum padanya.

Saat beliau diangkat menjadi uskup, saya ikut bangga. Saat beliau mendapatkan masalah saat menjabat sebagai uskup, saya mengirim pesan penghiburan kepadanya.

Saya sempat menulis sesuatu di Sacebook yang kemudian mendapatkan banyak respons dari teman-teman di Manggarai.

Saya sangat paham reaksi mereka. Saya hanya ingin menulis kesaksian saya tentang sosok beliau ini.

Mgr. Hubertus mengakui kesalahannya.

Sekali lagi, saya mengenangnya sebagai orang jujur. Toh, siapakah anak manusia yang tidak pernah salah?

Mgr Hubert mengakui kerapuhannya dan kejatuhannya, lalu mengambil sikap menarik diri dan melanjutkan hidupnya.

Rasa-rasanya, saya tidak mempunyai hak untuk menghakiminya lebih jauh.

Hingga hari kematiannya, saya tetap mengenangnya sebagai orang jujur.

Mungkin beliau telah bertemu dengan Nasarudin, tokoh rekaannya yang tidak protagonis mutlak dan bukan antagonis 100%.

Mereka bisa saja sedang berjalan kaki bersama, sambil sesekali berhenti menikmati buah pepaya di taman kiri-kanan lintasan ziarah mereka.

Nasarudin itu mungkin juga bukan pribadi eksternal, tetapi inti diri Mgr. Hubertus sendiri, ‘seorang penonton/hakim di dalam dirinya yang tidak berpihak’ (impartial spectator) yang bisa menilai dengan adil setiap pikiran dan tindakan.

Bisa saja itulah suara hatinya, yang menunjukkan yang benar dan juga bisa keliru.

Selamat jalan, Mgr. Hubertus Leteng.

1 COMMENT

  1. Mohon maaf, untuk semua saja, mungkin ke depan tidak perlu menampilkan foto jenazah almarhum/almarhumah di laman publik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here