In Memoriam Pastor Yoseph Linus “Yoppy” Sumakud MSC: Masa Depan Anak-anak Aru (3)

0
273 views
In Memoriam Romo Yoseph Linus "Yoppy" Sumakud MSC.

“ANAK-anak kami musti sekolah, biarlah katong orangtua tinggal seperti binatang saja.”

Kalimat ini muncul kembali dalam ingatanku dengan gambar seorang bapak paruh umur, mata cerah, dari raut wajah yang tipis berotot dengan selubung rambut agak panjang mulai beruban, nampak kurus dengan kemeja hijau luntur yang agak longgar.

Kalimat itu mengagetkan saya, pada saat pertama mendengarnya langsung, sekitar masa Pekan Suci Paskah 1998 di sebuah stasi di Kampung Feruni, Kepulauan Aru bagian Selatan.

Apa yang membuat manusia disebut manusia dan binatang disebut binatang?

Ya, kata-kata itu diucapkan sendiri oleh seorang bapak Ketua Stasi yang rumahnya semi permanen dengan lantai tanah dan sebagian dinding masih memakai pelepah pohon sagu dan atap bercampur seng dan daun rumbia.

“Frater, mohon kiranya kalau kembali dan tiba di Dobo, sampaikan terimakasih kepada Pastor Yopi atas kepeduliannya bagi anak-anak Aru, dengan membuka asrama tinggal bagi anak-anak kami untuk bisa lanjutkan sekolah juga.”

Ya, saya jadi teringat lagi asrama anak-anak SMP dan SMA di belakang Pastoran Dobo. Setidaknya ada tiga asrama yang menampung anak-anak dari pelosok stasi yang dikelola oleh pastor dan suster di pusat paroki.

Suatu hari yang naas, salah seorang anak asrama, di belakang Pastoran Dobo, kedapatan meninggal mendadak, masih duduk di kelas satu SMP.

Pastor Yoppy sangat bersedih, dan mesti mengembalikan jenazah ke kampung di “Belakang Tanah” (sebutan untuk pelosok kampung yang jauh dari pusat kecamatan dan paroki pada waktu itu).

Pastor Yoppy yang badannya sangat perkasa dan energik penuh semangat nampak sangat berduka dan muram loyo, menghadapi peristiwa kematian anak muda yang diharapkan kelak menjadi harapan masa depan masyarakat asli Kepulauan Aru.

Seolah layu sebelum berkembang.

Apa yang akan terjadi dengan masa depan masyarakat Aru bila tidak ada yang bisa melanjutkan pendidikan lebih maju?

Jangan sampai orangtua mereka di kampung tak mau lagi mengirimkan anak mereka untuk lanjut sekolah.

Pastor Yoppy memang termasuk yang menaruh perhatian pada pendidikan anak-anak Aru ini, sampai mengurus mereka yang sudah tamat SMP dan SMA untuk studi lanjut ke Perguruan Tinggi, bahkan ada yang sampai dikirim ke Tanah Minahasa, tempat asalnya sendiri.

Maklum, kampung kelahiran Pastor Yoppy, Woloan, memang tercatat dalam sejarah sebagai tempat persemaian pertama calon-calon guru dan calon-calon pastor dalam lingkup Gereja Katolik.

Catatan tambahan untuk Desa Woloan, kampung kelahiran almarhum. Desa ini telah melahirkan banyak guru dan pastor dan sejumlah besar biarawan-biarawati.

Tahun 1905, Pastor Jesuit mendirikan sekolah guru di sana dan dilanjutkan oleh MSC saat terjadi penyerahan tahun 1920.

MSC juga mendirikan di Woloan itu Seminari Menengah tahun 1928, bahkan di samping ya ada fakultas filsafat tahun 1936, yang terpaksa para mahasiswa ya dialihkan ke Kentungan. Beberapa ditahbiskan di Yogyakarta dan kembali ke Manado dan sangat berperan di masa pendudukan Jepang, ketika semua pastor Belanda ditawan.

Di antara lulusan awal itu ada yang menjadi uskup yakni Dr. Theo Lumanauw Pr.

Menjadi misionaris

Jiwa misionaris memang terpatri jiwa seorang pendidik dan pengkader generasi muda.

Apa jadinya kalau taka ada sekolah di Woloan sejak awal?

Bisakah dibayangkan Woloan atau Keuskupan Manado seperti sekarang ini tanpa ada usaha mewujudkan segala sarana dan proses persekolahan tersebut di masa lalu?

Suatu waktu, saya sudah kembali ke Biara MSC Pineleng, berkunjung menemui asrama dari beberapa mahasiswa yang dikirim Pastor Yopy itu, dan mendengarkan kisah tentang anak-anak dari ibu asrama, kisah perjuangan jatuh bangun mereka untuk bisa beradaptasi dalam budaya dan terutama pendidikan tinggi.

Saya hanya mengulangi kata-kata Pastor Yopy, “Sayangilah mereka apa adanya, pulihkan semangat mereka, kalau pun mesti ditegur. Orangtua mereka akan sangat malu kalau mereka kembali tanpa hasil apa-apa.”

Dan tentu saja Pastor Yopy akan lebih bahagia bila mereka bisa menimba ilmu dan menjadi manusia yang berkepribadian asli Aru dan pengikut Kristus sendiri sejak mereka dibaptis dan diutus.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here