In Memoriam Romo Linus Tiala Pr (1951-2022), Berkarya Sejenak di Paroji Bojong Indah KAJ, Tugas Belajar di Amerika (2)

0
296 views
RIP Romo Linus Tiala Pr, imam diosesan Keuskupan Weetebula di Sumba, NTT. Almarhum pernah berkarya sejenak di Paroki Bojong Indah, Kembang, Jakarta, sebelum tugas belajar di Amerika. (Romo Stefanus Si Pr/Keuskupan Weetebula)

PUTERA asli Pulau Sumba pertama yang menerima Sakramen Imamat dan ditahbiskah menjadi imam di Gereja Katedral Roh Kudus Keuskupan Weetebula di Sumba adalah almarhum Romo Linus Tiala Pr (1951-2022).

Weetebula di wilayah Sumba Barat Daya -di mana juga terletak Bandara Tambolaka- adalah tempat di mana dulu almarhum Romo Tiala pernah dididik dan kemudian menjadi imam.

Kisah lama terbitan tahun 1979

Pater Frans Pfister CSsR sedikit mengisahkan peristiwa tersebut di bawah ini.

“Pada hari Senin, 4 Desember 1978, Administrator Apostolik Keuskupan Denpasar Mgr. Antonius Hubertus Thiyssen SVD berkenan menahbiskan Diakon Linus Tiala sebagai imam diosesan Keuskupan Weetebula.

Uskup Mgr. Thijssen adalah Gembala Agung pertama untuk Sumba, ketika pulau itu masih berada di bawah Keuskupan Agung Ende di Flores. Waktu itu, Mgr. Thijssen datang kembali ke Sumba setelah 18 tahun berada di tempat lain.

Prosesi penerimaan Sakramen Imamat dan ditahbiskan menjadi imam diosesan Keuskupan Weetebula, Sumba, NTT. Peristiwa ini terjadi di bulan Desember 1978. (Keuskupan Weetebula via Tina Heri Siswanto)

Anak kelima kelahiran Maumere

Romo Tiala Linus Tiala Pr adalah anak kelima dari delapan bersaudara.

Ayahnya bernama Lukas Lengga Tiala berasal dari wilayah Kodi di Sumba Barat. Sedangkan ibu kandungnya malah berasal dari “luar pulau” yakni dari Bima, Pulau Sumbawa.

Karena ayahnya berprofesi sebagai polisi dan waktu itu berdias di Maumere, Flores Timur, maka almarhum Linus pun terlahir di Pulau Flores tahun 1951 .

Empat putera keluarga Tiala semuanya menyelesaikan studi dasar dan menengahnya di Seminari Kecil.

Almarhum Romo Linus Tiala Pr, Direktur Puspas Keuskupan Weetebula di Kotika Loku, Sumba Barat Daya, NTT, kurun waktu tahun 2001-2007. (Tina Heri Siswanto)
RIP Romo Linus Tiala Pr (1951-2022), imam diosesan Keuskupan Weetebula di Sumba, NTT.

Ini adalah kebiasaan Flores di mana banyak keluarga mencoba memasukkan salah satu puetra mereka ke jalur pendidikan menujuu imamat. Itu berlaku juga untuk Linus .

Ketika ayah pensiun, keluarga pindah ke Waimangura di Sumba Barat dan Linus masuk ke Seminar Menengah Sinar Buana di Weetebula. Kemudian di sebuah lembaga pelatihan guru, ia memperoleh diploma sebagai guru sekolah dasar.

Ia kemudian menyelesaikan dua tahun persiapan di Hokeng, Flores, dan kemudian melanjutkan ke Seminari Tinggi Santo Paulus di Kentungan, Sleman, Yogyakarta.

Ia berhasil menyelesaikan studinya dengan gelar doktorandus.

Setelah itu, Romo Linus memulai pekerjaan imamatnya sebagai kapelan di Waingapu pada awal tahun 1979.

Gereja Katolik Lokal Keuskupan Weetebula di Sumba senang dengan hadirnya imam diosesan keempat. Ia minta semua teman di Sumba doa-doa mereka untuk semakin banyak imam pribumi mau menjadi imam diosesan.

Itulah yang ditulis oleh Pater Franz Pfister CSsR dalam majalah Ikan edisi Februari 1979.

Paroki Bojong Indah KAJ dan tugas belajar di Amerika

Setelah berkarya di Waingapu, kemudian Romo Linus bersama dengan Romo Herman Josep May CSsR berkarya di Pusat Pastoral dan Sosial di Katiku Loku, Sumba Barat Daya.

Selanjutnya, Romo Linus berangkat ke Amerika Serikat atas jasa baik Kelompok Marryknol, untuk melayani komunitas orang Indonesia di AS. Sekalian juga tugas belajar di sana.

Namun sebelum berangkat ke USA, Romo Linus sempat melayani di Paroki Bojong Indah KAJ, Kembangan, Jakarta Barat, untuk beberapa waktu selama masa transit sembari menanti visa masuk USA.

Gereja Katedral Roh Kudus Keuskupan Weetebula, Sumba Barat Daya, Pulau Sumba, NTT. (Mathias Hariyadi)

Setelah menyelesaikan pelayanan dan juga studinya di USA, Romo Linus lalu dibenum menjadi Pastor Paroki Katedral Weetebula.

Almarhum Romo Linus Tiala Pr, imam diosesan Keuskupan Weetebula, Sumba, NTT. (Tina Heri Siswanto)

Beberapa waktu kemudian dia diangkat menjadi Vikjen keuskupan Weetebula. Tentu sebuah tugas yang tidak ringan baginya. Tugas sebagai pastor paroki 1990-2000.

Purna tugas di Gereja Katedral Weetebula, Romo Linus kembali lagi ke Puspas. Kali ini, ia diangkat sebagai direktur Puspas kurun waktu tahun 2001-2007.

Sesudah melayani beberapa tahun di Puspas di Kotika Loku, ia mendapat pengutusan baru ke Paroki Santo Yosep Pekerja Manola kurun waktu tahun 2007-2015.

Saat melayani di Manola, Romo Linus sudah mulai mengalami kesulitan dengan indera penglihatannya.

Rektor Seminari Menengah St. Fransiskus Assisi Sinar Buana

Kemudian Romo Linus memenuhi panggilan awalnya sebagai guru dengan mendapat penugasan di Seminari Menengah St. Fransiskus Assisi Sinar buana, Weetebula. Di sini dia menjadi Rektor.

Pada saat yang sama, ia juga diminta mengajar sebagai dosen di STKIP Weetebula kurun waktu tahun 2015-2021.

Setelah menyelesaikan tugas pelayanannya di Seminari Menengah Sinar Buana, Romo Linus kemudian pindah ke Rumah Unio Para Imam Diosesan keuskupan Weetebula.

Seminari Menengah St. Fransiskus Assisi Sinar Buana di Weetebula, Sumba Barat Daya, Sumba, NTT (Mathias Hariyadi)

Kondisi kesehatannya memburuk

Beberapa pekan lalu, kondisi kesehatannya mulai memburuk.

Setelah dirawat di RS Karitas, ia kemudian dirujuk ke RSU Umbu Rara Meha di Waingapu, Sumba Timur.

Pada hari Jumat, 24 Juni 2022, tepat pada Hari Raya Hati Kudus Yesus, Romo Linus Tiala Pr kembali kepada Sang Penebus yang dia wartakan dengan setia.

Terima kasih Romo Linus.

Dirimu telah menjadi rekan se-Peziarahan bagi kami umat Katolik dan masyarakat Sumba selama 44 tahun imamatmu.

Kini, beristirahatlah di dalam damai Tuhan.

Requiescat in pacem et vivat ad vitam aeternam. (Berlanjut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here