In Memoriam Romo Thomas Ketut Switra OCSO: Sosok Pendiam, Baru Hidup Saat Mengolah Tanah (4)

0
119 views

ADA empat seminaris asal lulusan Seminari Tuka, Cangu–Bali, yang diterima sebagai murid baru Kelas Persiapan Pertama (KPP) Seminari Mertoyudan pada awal Januari 1978. Mereka adalah Herry Ketut Respatia, Ambrosius Adiwijaya, I Nengah Galang, dan Thomas Ketut Switra. Kini, dua di antara mereka telah mendahului: Galang dan Switra.

Galang, putra asal Cangu, meninggal dunia lima tahun lalu. Ia sempat menjadi imam religius Serikat Sabda Allah (SVD) dan pernah menjalani karya misi di Afrika Tengah yang berbahasa Perancis. Sementara itu, Thomas Ketut Switra OCSO—putera asal Gumbrih, Kabupateb Jembrana di Bali—sampai akhir hiduonya setia mengabdikan hidupnya sebagai rahib Trappist.

Usai lulus Seminari Mertoyudan Juni 1982, Switra langsung masuk Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae (OCSO). Bersama dia, saat itu bergabung pula Yohanes Mujita (Paroki Delanggu, Klaten) dan Willibrordus Jauhari (Paroki Kemakmuran, Jakarta Barat). Mujita kini juga sudah meninggal dunia, sementara Willy Jauhari beralih profesi sebagai pemandu wisata rohani ke Tanah Suci dan Eropa.

Pulang, sakit, dan beristirahat di tanah kelahiran

Romo Thomas Switra OCSO meninggal Minggu dinihari, 16 November 2025, di Bali—sekitar dua tahun setelah ia memutuskan pulang karena kondisi kesehatannya yang terus menurun. Dalam perjalanan panjangnya sebagai rahib Trappist, almarhum sempat hidup di Pertapaan Rawaseneng, kemudian beberapa tahun di Lamanabi, Flores, sebelum akhirnya menetap hampir dua dekade di Biara Trappist Onze Lieve Vrouw van Koningshoeven di Tilburg, Belanda.

Yen ora dituthuk, blas ora muni

Sifat super pendiam Romo Switra sudah tampak sejak masa seminari. Dibandingkan ketiga rekan seangkatannya dari Bali—Respatia yang aktif dan selalu ingin tahu, Galang yang “cerewet” sehingga jadi mudah akrab, serta Ambrosius yang gampang tersulut emosi—Switra begitu berbeda. Ia ibarat kenthongan: takkan berbunyi bila tidak diketuk.

Namun, ada satu kesamaan yang menonjol antara mereka berempat: semuanya penggila sepakbola.

  • Galang adalah gelandang tim IFO (In Finem Omnia).
  • Ambrosius juga bermain sebagai gelandang.
  • Respatia menjadi penyerang bersama almarhum Trias “Dinuk” Dwinugroho dan Ancelmus Molly Paher.

Switra? Ia hampir selalu ditempatkan sebagai bek. Tubuhnya tinggi besar, fisiknya kuat, dan tenaganya seperti tak ada habisnya memang cocok menjadi penjaga garis belakang sebelum “musuk” masuk bisa masuk zona gawat di depan kiper.

Lebih hidup di kebun daripada di keramaian

Switra memang tak banyak bicara dan tak terlalu akrab dengan para seminaris asal Jawa. Namun ini tak pernah menimbulkan kesan ia tak mau bergaul; ia memang hanya “hidup” dalam dunianya sendiri: pekerjaan harian, kebun, dan tugas-tugas besar rumahtangga seminari.

Satu kenangan yang sangat membekas bagi penulis adalah ketika di kelas II Medan Madya, almarhum mendapat tugas dari Pamong MM2, almarhum Romo Yohanes Pudjasumarta Pr (kelak Uskup Bandung dan kemudian Uskup Agung Semarang) untuk mengelola taman dan pekarang di depan Gua Maria. Taman itu sebelumnya tampak tak terawat. Sore demi sore, Switra setia mencangkul, menata, menanam bunga—hingga taman itu menjadi lebih rapi dan hidup.

Kenangan-kenangan kecil seperti ini yang paling melekat tentang sosoknya selama 4,5 tahun bersama di Mertoyudan (1978–1982). Selebihnya, tak ada yang benar-benar tahu perjalanan batin seorang pemuda Bali yang super pendiam ini—hingga akhirnya banyak teman seangkatan terperangah ketika ia memilih bergabung dengan para rahib Trappist di Rawaseneng pada pertengahan 1982.

38 tahun tak bersua

Angkatan TuLus—alumni Seminari Mertoyudan KPP78 dan KPA81—menggelar reuni pertama mereka di Batu, Malang, akhir Juni 2016. Pastor Kepala Paroki Batu saat itu, Romo Michael Agung Christiputro O.Carm menjadi promotor acara besar ini. Yang paling membahagiakan: Romo Switra OCSO datang jauh-jauh dari Belanda untuk hadir – kebetulan saat cuti besar.

Ia datang dengan tampilan yang tak pernah berubah: sangat sederhana, tenang, dan tetap pendiam. Ia mengenakan kaus T-Shirt lusuh dan sandal jepit—jauh dari kesan seorang rahib yang telah bertahun-tahun menetap di Eropa.

Namun kenangan mengenai Romo Thomas Switra OCSO kembali memudar, karena sorotan perhatian di acara kala itu lebih tertuju pada pasangan Danu Susilo–Eni yang merayakan ulang tahun perkawinan, serta kehadiran Ancelmus Molly Paher bersama isteri dan puterinya, Angelika Muras dari Ketapang, Kalbar.

Beberapa tahun kemudian, Danu Susilo meninggal dunia karena sakit. Romo Switra OCSO segera kembali ke Belanda. Beberapa tahun kemudian, ia kembali muncul lagi dalam memori kolektif alumni seminari, ketika hampir selama tiga tahun “terperangkap” harus menetap di Bali karena protokol pandemi Covid-19 membuatnya tak bisa segera kembali ke Tilburg. Pada masa itu, ia kembali menekuni hobinya: merawat kebun dan sawah keluarga di Gumbrih, Jembrana.

Gunawan—alumnus KPP77- sekali waktu di tahun 1986-87 dan sebagai frater MSF mampir di Pertapaan Santa Maria Rawaseneng. Ia mendapat kamar tidur di salah satu kamar di Pertapaan Trappist – di Wisma Nazareth yang letaknya dekat pabrik kopi.
Frater Thomas Switra OCSO saat itu menjadi bidel ternak non sapi.

“Kesederhanaannya luar biasa,” kenang Gunawan. “Saat bertemu sesama sebagai alumni Seminari Mertoyudan, ia tak mau dipanggil Frater. Ia ingin tetap dipanggil Switra saja,” kenang Gunawan. (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here