In Memoriam Romo Vincentius Markus Marlon MSC: Yang Suka Buat Gaduh (7)

0
148 views
Romo Markus Marlon MSC dalam kesempatan kunjungan umat tanggal 2 Agustus 2020. Foto ini dikirim sendiri oleh almarhum Romo Marlon MSC kepada penulis.

“MAS, minta tolong buatkan proposal dalam bahasa Inggris,” begitu pesan pendek yang masuk dalam layar ponsel.

Tak segera dijawab. Masih mengajar di Seminari Menengah Marianum, Probolinggo, di suatu sore di Jumat terakhir bulan Juli 2003.

Setelah makan malam, baru dijawab. “Ini pasti proposal untuk Kongregasi Propaganda Fide-The Society of St. Peter the Apostle.”

“Betul, Mas,” balas beliau.

“Saya baru selesai membuat untuk Seminari Marianum, Keuskupan Malang. Kirimi alamat email, lalu saya kirim.”

Beberapa bulan kemudian, sekitar Oktober, saat makan malam, Rektor Seminari Menenganh Marianum di Probolingo Romo Winuryanto Pr bercerita:

“Belum lama, Bapa Uskup sedikit dimarahi Nuntius. Proposal dari Marianum kok bisa sama dengan dari Merauke. Anggaran dan rencana gambar sama. Tetapi, Bapa Uskup berkeras bahwa yang benar adalah yang Marianum. Karena Seminari Marianum akan merehab bangunan ruang tidur yang rusak ditimpa pohon trembesi.”

Saya hanya diam di seribu bahasa. Tak terucap bagaimana kirim salinan ke Merauke. Dalam hati, yakin bahwa sahabat sejak di Seminari Mertoyudan pasti bisa mengatasi.

Bertahun kemudian, 2017, saat Romo Marlon mengunjungi keluarga kami di Tanggul, Jember, hal pertama yang di tanyakan adalah ‘proposal-gate’.

“Mas, sebagai orang baru dalam bidang keuangan, panik. Tak tahu siapa yang dimintai tolong. Di detik akhir, lagi kelingan kowe, baru ingat kamu. Dan menolong. Memang, terus gaduh. Saya dimarahi Uskup. Tapi, terus diperbaiki. Yang penting, saya belajar,” jawabnya sambil terkekeh.

Kegaduhan lain dibuat pada saat masa pastoral.

“Saat berjalan menuju sebuah stasi di Merauke, Frater Marlon tiba-tiba tersungkur. Ia kena panah. Tahu Frater Marlon tersungkur, pintu kapel segera dibuka.

Seluruh umat di kapel segera menghambur ke luar. Menghampirinya dan membawa masuk kapel untuk diobati. Dan beberapa orang memburu si pemanah.

Dalam erangan sakit, Marlon masih berteriak, “Jangan bunuh.Jangan bunuh. Jangan bunuh. Ia dikira musuh,” demikian dikisahkan Tri Danang, yang bersama-sama menempuh pendidikan di Skolastikat MSC.

Kegaduhanmu, sepertinya meninggalkan pesan.

Jatuh untuk belajar dan membuka pintu pengampunan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here