In Memoriam Sr. Sisilia TMM: Meninggal Tenggelam di Laut Arafura Agats Asmat

9
8,889 views

MARILAH kita tundukkan kepala mengheningkan cipta mendoakan almarhumah Sr. Sisilia TMM yang berjuang mempertahankan hidupnya di tengah ganasnya ombak Laut Arafura setelah speedboat yang dinaikinya rusak dan terbalik ditelan ombak.

(RIP Sr. Cicilia TMM di Agats)

Dari jaringan PUKAT KAJ, Redaksi mendapat informasi kurang lebih sebagai berikut.

Bersama anggota komunitas para suster Tarekat Maria Mediatrix (TMM) di Bayun yang berlokasi di  tepian Laut Arafura, Keuskupan Agats-Asmat, almarhumah Sr. Sisilia TMM ditemani Sr. Labok TMM dan Pastor Paroki Bayun RD Sipri Koten melaju dengan  speedboat menuju ‘pusat kota’ di Agats. Perjalanan panjang menuju Agats ini terjadi pada hari Senin tanggal 30 Januari 2017 dengan pastor Sipri berada di belakang kemudia sebagai motoris.

Rombongan speedboat berukuran mini (biasanya hanya terdiri dari 4 orang penumpang saja) melaju menuju Paroki Atsj sebagai titik peristirahatan menuju Agats. Jarak Agats dengan Atsj masih perlu waktu sekitar 4-5 jam perjalanan menyusuri sungai dengan lebar bisa mencapai 500-1.000 meter.

Jauh sebelum berhasil menjangkau Atsj, speedboat yang ditumpangi dua suster TMM dan pastor paroki mengalami kerusakan mesin dan kemudian mogok. Usaha untuk menghidupkan mesin gagal.

Biasanya, seturut pengalaman penulis mengikuti perjalanan turne bersama Bapak Uskup Keuskupan Agats Mgr. Aloysius Murwito OFM dan rombongan kecil Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK) tahun 2013 lalu, jenis speedboat yang digunakan adalah bermesin ganda.

Kita belum bisa mendapatkan kepastian, apakah speedboat malang yang dipakai dua suster TMM dan pastor itu bermesin tunggal atau ganda.

Karena speedboat mogok dan tak berhasil menghidupkan mesin, akhirnya kapal motor ukuran mini tersebut hanyut oleh ombak lautan hingga sampai Primapun, Basin dan kemudian sampai terhanyut lagi menuju Sikaratan, Ocenep, dan Omasenep.

Harap dimengerti bahwa koneksi sinyal HP di kawasan Agats ini luar biasa susah alias kadang tidak ada sama sekali. Maka bisa dimengerti usaha SOS tidak bisa dilakukan.

Pada hari Selasa 31 Januari 2017, ombak di Laut Arafuru semakin tinggi dan kondisi speedboat tanpa mesin menjadi ‘liar’ dan  tidak bisa dikendalikan lagi hingga akhirnya terbalik.

Ketiga penumpangnya mencoba bertahan dengan berenang di sekitar speed.

Namun malam itu kira-kira pukul 22.00 almarhumah Sr. Sisil sudah tidak kuasa lagi menahan kekuatan tubuhnya karena gempuran ombak laut sehingga ikatan talinya lepas dari speed dan meninggal dunia.

Sr. Labok TMM dan Pastor Sipri terhanyut oleh ombak menuju daratan dan selamat.

Kita tidak bisa membayangkan betapa pedih dan susahnya almarhum Sr. Sisilia TMM menyelamatkan diri dari bahaya ombak dan kemungkinan tenggelam di lautan. Namun, sesuai pengalaman penulis mengikuti turne ke beberapa lokasi di Keuskupan Agats beberapa tahun lalu, nyawa manusia sungguh tergantung pada tiga hal: kemurahan hati Tuhan yang  menjaga alam agar ombak tidak ’ngamuk’, tidak hujan deras yang bisa menghalangi jarak pandang, kelihaian motoris mengemudikan speedboat agar tidak salah arah jalan dan menabrak log kayu, persediaan BBM yang mencukupi dan mesin kapal yang prima.

Salah satu faktor muncul dalam perjalanan, maka hal itu sudah merupakan bahaya besar.

Uskup Keuskupan Agats-Asmat pernah berkisah kepada rombongan kecil KBKK (www.kbkkindonesia.org) dimana penulis juga ikut di situ, bahwa sekali waktu rombongan kecil Mgr juga terjebak dalam kebingungan untuk menentukan arah perjalanan menuju Atsj. Di muara sungai nan lebar –seluas 500 hingga 1.000 meter—rombongan tidak mampu memutuskan apakah harus belok ke kanan atau ke kiri di muara sungai tersebut.

Akhirnya salah arah dan malah menuju perairan laut, bukannya menuju ke aliran sungai yang dimaksudkan. Karena hari sudah malam dan minim penerangan, Uskup memutuskan rombongan berhenti di sebuah titik, menambatkan speedboat dengan tali ke pepohonan, dan memutuskan menginap semalam di muara sungai sampai esok harinya. Semua penumpang waktu itu dilarang turun dari speedboat karena di situ banyak buaya.

Dari pengalaman dan kisah kecil di atas, marilah kita menundukkan kepala mendoakan arwah almarhumah Sr. Sisilia TMM yang harus berkanjang dalam kepenatan dan kesusahan di laut untuk mencoba bertahan hidup.

Tuhan berkehendak lain: Sr. Sisilia TMM ‘menyerahkan nyawanya’ di tengah hempasan ombak Laut Arafura.

Tugas terakhir almarhumah Sr. Sisilia TMM sebelum meninggal adalah Kepala Sekolah TK Roh Kudus YPKK Yan Smith di Paroki Bayun.

9 COMMENTS

  1. Sr.Sesilia TMM sudah berada di RUMAH abadi, Mari kita selalu kenang dalam doa harian kita para Rasul yang bekerja di daerah – daerah yang sulit di seluruh Dunia. Nama Tuhan semakin dimuliakan. Amin

  2. Kok jadinya kebanyakkan penulis menulis tentang pengalaman jejak perjalanannya si penulis dibanding dg penulis tdk menulis & menceritakan kronologis kejadiannya secara detail. Aneh!! Selamat Jalan Suster Sr. Sisilia TMM. We all loving you always. 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here