In Memoriam Tjipto Windoe, Dedikasi Tanpa Henti untuk GOTAUS

0
915 views
Almarhum Pak Tjpto Windoe bersama segenap pengurus GOTAUS dalam sebuah acara penggalangan dana di paroki dengan hadirrnya sejumlah Uskup. (Dok. GOTAUS)

SEBAGAI aktivis kelompok Semangat, almarhum Agustinus Tjipto Utojo Windoe yang sering disapa Pak Tjip termasuk salah satu pendiri GOTAUS (Gerakan Orangtua Asuh untuk Seminari). Sebagai komunitas peduli perbaikan asupan gizi para seminaris di seluruh seminari menengah di seluruh Indonesia, GOTAUS eksis sejak tahun 2001.

GOTAUS berdiri atas prakarsa  Uskup Emeritus Keuskupan Ketapang (Kalbar) Mgr. Blasius Pujaraharja yang bersama Kelompok Semangat dengan dua motor utama yakni Paul Soetopo dan HY Susmanto membidani lahirnya komunitas peduli Seminari Menengah ini.

Kelompok Semangat merupakan sekumpulan bankir Katolik yang di tahun-tahun sebelumnya telah tergerak hatinya untuk membantu seminari. Waktu itu, kegiatan amal awal  dimulai dengan membantu Seminari Menengah Mertoyudan di Magelang, Jateng.

Pak Tjip, selain aktif di Kelompok Semangat, kemudian ikut aktif juga dalam kegiatan-kegiatan GOTAUS. Lalu pada tahun 2014, Pak Tjip dipilih menjadi Ketua GOTAUS.

Setelah periode pertama kepengurusannya selesai, Pak Tjip terpilih kembali sebagai Ketua untuk periode 2017-2020.

Merto 55

Kepedulian Pak Tjip terhadap seminari tidaklah mengherankan, mengingat waktu muda belia Pak Tjip juga pernah ingin  menjadi imam sehingga  ia pernah menikmati hari-hari hidup di asrama dan menjalani model pendidikan calon imam di Seminari Mertoyudan. Walaupun kemudian tidak melanjutkan studi khusus untuk menjadi calon imam, namun kepeduliannya akan seminari dan Gereja Katolik di Indonesia tak pernah lekang dimakan usia.

Segenap pengurus GOTAUS dan sejumlah uskup usai gerakan penggalangan dana. (Dok. GOTAUS)

Kepala Dokpen KWI, Romo Adisusanto SJ,  adalah teman seangkatan dan kelompok ini sering menyebut diri Angkatan Merto 55.

Romo Adi  mengungkapkan,  kepemimpinan Pak Tjip telah terlihat sejak  mereka sebagai anak-anak usia muda sekolah di Mertoyudan. “Pak Tjip pernah menjadi Bidel (semacam Ketua OSIS, sebutan khas di Seminari Mertoyudan). Orangnya gesit dan cekatan, selalu aktif,” tutur Romo Adi yang beberapa tahun lalu telah  merayakan genap 50 tahun sebagai Jesuit.

Romo Adisusanto SJ juga terlibat di GOTAUS sejak awal komunitas peduli seminari ini eksis. Sejak awal, ia sudah melihat perubahan Pak Tjip yang terjadi pada diri kawan lama sejak tahun 1955 ini. Almarhum berubah menjadi lebih sabar dan terkadang terkesan sangat pelan dalam menjalankan roda organisasi GOTAUS yang dipimpinnya.  “Saking sabarnya ingin meladeni semua permintaan atau pernyataan di forum, maka rapat kadang maah menjadi panjang,” kata Romo Adi, mantan Rektor Seminari Mertoyudan usai pensiun sebagai dosen Ilmu Pendidikan Agama Katolik di PUSKAT.

Almarhum Pak Tjip dan Ketua Komisi Seminari KWI Mgr. Ludovicus Simanullang OFMCap. (Dok. GOTAUS)

Ketua Komisi Seminari KWI Mgr. Ludovicus Manullang OFMCap

Uskup Keuskupan Sibolga, Mgr. Ludovicus Manullang OFM Cap resmi menjabat Ketua Komisi Seminari (Komsem) KWI dalam dua tahun terakhir ini. Komsem menjadi mitra resmi GOTAUS.

Berikut ini, Mgr. Ludo mengungkapkan kesannya kepada Sesawi.Net tentang pribadi Pak Tjip.

“Saya sungguh kagum akan pribadi Pak Tjip. Orang yang rendah hati, optimis, berusaha menyenangkan orang lain, tidak mau merepotkan orang lain, beriman, cinta akan Gereja, loyal pada pimpinan Gereja, dan memberikan diri untuk GOTAUS sampai akhir hidupnya. Pasti masih banyak kebaikan beliau yang belum saya lihat. Beliau telah menjadi berkat bagi banyak orang,” demikian sharing Mgr. Ludo yang sebenarnya akan bertemu dengan Pak Tjip dalam acara pertemuan GOTAUS hari Jumat petang  ini (23/2) di Jakarta.

Sekretaris Komsem KWI Romo Josep Kristanto Suratman

Romo Josep Kristanto Suratman yang akrab dipanggil Romo Kris baru mengenal Pak Tjip, karena tugas barunya sebagai Sekretaris Komsem KWI per 15 Agustus 2017. Walau baru kenal beberapa bulan, Romo Kris mendapat kesan yang sangat positif tentang Pak Tjip lewat pertemuan-pertemuan GOTAUS yang sering dihadirinya.

Ketika ditanya Sesawi.Net, Romo Kris yang pernah menjadi Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Kentungan Yogyakarta dan Seminari Interdiosesan di Malang ini  lalu menulis delapan poin kesan atas Pak Tjip sebagai berikut.

Dalam usianya yang baru saja genap 76 tahun, Pak Tjip masih:

  • Energik dan semangat mengabdikan diri dalam karya Gereja (GOTAUS).
  • Disiplin: bila rapat atau pertemuan selalu datang awal, walau rumahnya berlokasi di kawasan Cinere, jauh dari pusat dan dari lokasi rapat – Gedung KWI Jl. Cut Meutia. Namun, beliau selalu datang rapat mengalahkan rasa malas karena terhadang kemacetan. Ia sering datang ke KWI diantar anak atau naik taksi sendiri.
  • Memiliki kepemimpinan yang sabar, tegar, dan bijaksana.
  • Tetap berupaya mencari dana untuk GOTAUS dengan sistem one on one. “Saat mendiskusikan topik tersebut, saya merasakan semangatnya. Ketika saya tanya apa yang membuatnya bersemangat tinggi, ia menjawab sebagai mantan bankir, ia punya kenalan-kenalan dan jejaring yang luas,” demikian jawabnya mantap.
  • Selalu hadir dan menyampaikan laporan GOTAUS dalam pertemuan pengurus Komsem KWI. Termasuk dalam rapat Komsem tanggal 31 Januari 2018, Pak Tjip memberi laporan di hadapan para pengurus Komsem KWI di Rumah Doa Maria Guadalupe, Duren Sawit.
  • Selalu mengusahakan hadir dalam misa-misa GOTAUS di paroki dan di kantor-kantor. Misa terakhir yang dihadirinya adalah Misa Rabu Abu, 14 Februari 2018 siang di kantor PT Gajah Tunggal di Jl. Hayam Wuruk, Jakarta Barat. Beliau tidak mengeluh walau kena macet dalam perjalanan ke lokasi.
  • Perhatian pada GOTAUS sangat total. Pertemuan pengurus rutin dibuat dan dihadiri.
  • Beliau selalu menganjurkan pertemuan rutin utk menjaga kelangsungan Gotaus dan juga menjaga keuangannya.

Penuh perhatian

Pak Tjip terkenal memiliki perhatian tinggi terhadap tiap anggota GOTAUS terutama pengurus dan aktivisnya. Setiap bertemu, ia selalu menyapa dan menanyakan kabar.

Hal itu diceritakan oleh Arnold Darmanto, Wakil Ketua GOTAUS “Karena tahu saya dan isteri sama-sama berasal dari Semarang, maka setiap bertemu,  Pak Tjip selalu bertanya kepada kami ‘Ora bali Semarang?’”

Nia, staf Sekretariat GOTAUS di KWI, juga mengungkapkan hal yang sama. “Pak Tjip selalu memberi perhatian terhadap semua orang di GOTAUS. Kadang sampai bikin nggriseni buat yang belum kenal, padahal maksud beliau baik.”

Nia bercerita bahwa sehari sebelum meninggalnya, Pak Tjip masih membicarakan tugas GOTAUS via telepon dengannya.

Diany yang menjabat sebagai Bendahara GOTAUS 2017-2020 memuji dedikasi Pak Tjip sebagai orang yang totalitas dalam melakukan tanggung jawabnya. “Selaku ketua, Pak Tjip tidak hanya menunjuk tetapi turun tangan membantu. Hal-lain yang bagus adalah beliau tidak berbicara di belakang, tetapi di depan kita,” kata Diany mengenang gaya kepemimpinan Pak Tjip.

Menjaga persatuan

Mengenai kepemimpinan Pak Tjip, Arnold Darmanto angkat topi terhadap upaya Pak Tjip menjaga persatuan para pengurus dan aktivis GOTAUS yang seperti organisasi mana pun juga kadang ‘berisik’.

Penulis yang pernah aktif dalam kepengurusan GOTAUS 2014-2017 sebagai bendahara juga mendapat kesan yang sama. Pak Tjip selalu berusaha sejauh mungkin mengakomodir kepentingan semua anggota supaya gerak GOTAUS tetap lancar dan dinamis.

Sebagai Ketua dan senior, Pak Tjip menyediakan telinga dan hati untuk  mendengarkan suara-suara dari anggota termasuk yang junior.

Dari semua anggota, mungkin yang paling dekat dengan Pak Tjip adalah Sjenny Handoyo selaku Sekretaris GOTAUS. “Paling tidak sepekan sekali Pak Tjip mampir di kantor saya untuk bincang-bincang tentang banyak hal, terutama tentang GOTAUS,” demikian ungkap Sjenny yang berkantor di Gedung Manggala Wana Bhakti ini.

Disiplin dan taat azas

Menurut Sjenny, Pak Tjip orang yang disiplin dan konsisten. Selalu hadir dan tepat waktu dalam acara-acara dan rapat-rapat GOTAUS. “Pak Tjip selalu menjemput saya di kantor supaya saya tidak ada alasan malas ikut acara,” kenang Sjenny.

Dalam hal keuangan GOTAUS, Pak Tjip juga sangat ketat mengawasi.

Requiescat in pace.

“Ini uang umat,” demikian sering diungkapkan dalam rapat-rapat.  Taat azas juga termasuk keutamaan Pak Tjip. Setiap membuat keputusan didasari dengan aturan yang ada atau dibuat aturan dulu baru diputuskan.

Kepergian mendadak Pak Tjip mengagetkan banyak sahabatnya. Seperti diungkapkan Paul Soetopo mewakili Kelompok Semangat.

“Kami merasa kehilangan teman diskusi dan sahabat sejati yang sangat rendah hati. Selamat jalan Pak Tjip. Selamat bertemu Tuhan, Bunda Maria dan Ibu Tjip di surga. Selamat jalan sahabatku.”

Requiescat in pace et vivat at aeternam.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here