Indah Rencana-Mu Tuhan

0
232 views
Ilustrasi: Para suster PMY dengan tokoh umat Paroki Jombor Klaten, Jateng. (Dok. Kongregasi PMY)

UDARA pagi di awal bulan Juli dingin sangat menusuk, hingga menembus selimut tebal yang kupakai. Akhir-akhir ini, Wonosobo semakin dingin.

Berita yang beredar di grup WA menginformasikan suhu di Wonosobo mencapai minus 5, bahkan suhu di Dieng mencapai minus 10. Semua tanaman diselimuti es, entah berita itu benar atau tidak.

Aku lirik jam wekerku. Waktu menunjukan hampir pukul empat pagi. Di kejauhan  terdengar suara panggilan doa pagi berkumandang. Dekat biara kami. Membangunkan tetangga kami untuk melakukan ibadat subuh, segera aku beranjak dari tempat tidurku.

Biara induk kami terletak di kota yang dingin ini, terdiri dari beberapa bangunan tua peninggalan Belanda yang seolah bertengger di sebuah bukit kecil. Dari bangunan utama akan terlihat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang gagah, letaknya seperti mudah dijangkau dengan   selemparan batu.

Sudah delapan hari ini, aku berada di Wonosobo untuk mengikuti retet bersama para saudariku yang lain sebagai rangkaian perayaan peringatan kehidupan membiara dan lahirnya Kongregasi. Aku sedang merapikan jubahku, ketika pintu kamarku diketuk perlahan oleh seseorang di seberang pintu,

“ Petra, …Sis (panggilan akrab diantara para suster yang sebaya, diambil dari sister),” terdengar suara lirih Katarina memanggil di balik pintu

“Yo sediluk maneh, mengko tak susul,” sahutku.

Pagi ini aku, Katarina dan Marta janjian untuk mengucap syukur bersama di hadapan panutan hidup spritualitas Kongregasi biara kami, Santo Vincentius.

Semangat hidup rohani Santo Vincentius mengiringi langkah karya cinta kasih Kongregasi dalam melayani tanpa membedakan golongan atau agama orang yang dilayani.

Inilah yang menjadikan kami bertiga dan suster yang lain, tumbuh dan berkembang dalam semangat cinta kasih yang dilaksanakan dengan kasih sayang.

Entah sesering apa aku bersyukur di hadapannya, karena setiap komunitas pasti memajang patung Santo Vincentius.

Namun kali ini beda, karena aku melakukannya bersama dengan saudariku seangkatan, sebelum kami berkumpul di kapel dengan para yubilaris suster yang lain untuk melakukan perenungan akhir atas jalan panggilan kami masing-masing selama ini.  

Hari ini, beberapa dari kami merayakan kehidupan membiara, ada enam orang suster.

Suster Aufrida yang merayakan 50 tahun hidup membiara, Suster Helena dan Suster Serafin merayakan 40 tahun hidup membiara. Sedangkan, kami bertiga merayakan 25 tahun hidup membiara.

Dan ada tiga yunior kami, Suster Simona, Suster Martina dan Suster Desideria yang baru mengucapkan kaul kekalnya, serta Suster Pascalia dan Suster Aloysia dengan kaul perdananya.

Aku segera bergegas setengah berlari, sambil melipatkan kedua tanganku ke dada karena dingin, menyusul ke belakang halaman samping biara.

Pagi ini halaman biara masih ditutupi oleh kabut. Setelah melewati beberapa anak tangga di taman, tampak di hadapan patung Santo Vincentius telah duduk berdampingan kedua saudariku, Suster Katarina dan Suster Marta.

Bergegas aku segera duduk disamping Marta yang kosong. Kami segera melakukan doa syukur dalam hening.

Sudah setengah jam berlalu kami menyelesaikan doa kami, dan segera kami berjalan berdampingan menuju kapel biara yang letaknya di bangunan utama, tempat kegiatan operasional biara.

Sejak kedatangan kami ke Wonosobo, kami tidur di bangunan tua peninggalan Belanda di samping bangunan Novisiat yang hanya dibatasi oleh taman kecil, di belakang bangunan utama.

Sambil berjalan berdampingan karena masih dingin, aku melingkarkan tanganku di lengan kiri Marta. Begitu juga Katarina juga melingkarkan tangannya di lengan kanan Marta yang berada di tengah kami.

Dalam keheningan dan lamunan, kami bertiga mengenang kedatangan hari-hari pertama memasuki hidup membiara. Waktu itu, aku masih dipanggil Dian, sebelum mengambil nama biara Suster Petra. 

Baru lulus SMA dan berasal dari sebuah kota kecamatan di wilayah Kabupaten Klaten di Jawa Tengah.

Suster Katarina masih bernama Rina berasal dari kota kecil di perbatasan propinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dan juga baru lulus SMA.

Sedangkan Suster Marta sebelumnya biasa dipanggil Ima juga berasal dari Klaten, namun beda kecamatan denganku. Umurnya selisih lima tahun lebih tua dari kami berdua.

Karena setelah tamat SMA sempat bekerja di pabrik dan telah menyelesaikan sarjana di jurusan teknik industri.  Karena usianya yang lebih tua, kami memanggilnya “mBak” di depan nama panggilannya.

“Hai Petra, ingat tidak dua puluh lima tahun yang lalu,” tiba-tiba Katarina membuyarkan lamunanku, seolah dia membaca dan menyambung lamunanku.

“Tentu,” sahutku.

Marta juga mengangguk mengiyakan dan berkata, ”Ya kita telah melewati masa-masa bahagia dan sulit.”

Ya, memasuki kehidupan di Postulat dan Novisiat tidak mudah bagi kami. Teman-teman, lingkungan, aturan hidup dan sebagainya merupakan sesuatu hal yang sungguh baru bagi kami bertiga.

Lewat perjuangan dan jatuh bangun, kami menapaki jalan panggilan masing-masing. Kami selalu memohon untuk diberi kekuatan atas panggilan tersebut. Dan tentunya kami juga saling menguatkan dan bergembira bersama.

Sebagai Novis, kami belajar untuk hidup seimbang secara rohani, jasmani, pengetahuan dan rasa, begitu pula dalam berkomunikasi satu dengan yang lain juga memerlukan keseimbangan.

Keseimbangan itu dipraktikkan dengan belajar aturan Kongregasi, hukum gereja, spritualitas Vincentian, meditasi, keterampilan seperti belajar menari dan menyanyi, belajar bahasa asing dan tentunya melayani orang orang yang tidak beruntung dan sakit.

Pada waktu itu, yang tinggal di novisiat ada sepuluh gadis termasuk kami, dari mulai Aspiran sampai Novis tahun ke dua. Meskipun di awal kami belum saling kenal, tapi segera menjadi satu keluarga.

***

Suster Petra: Aku jadi ingat pertama kali mengenal biara ini, tanpa sengaja suatu hari aku dan beberapa teman mudika mendapat kesempatan untuk berkunjung ke sebuah sekolah asrama khusus anak tuna rungu di Wonosobo  atas ajakan Romo Pri, pastor di parokiku.

Aku ingat betul, bapakku nyeletuk, ketika aku meminta izin untuk kegitan itu.

“Nduk…ngopo to menyang Wonosobo, opo arep dadi suster,” kata bapak, ketika mengetahui tujuanku berkunjung ke sekolah asrama untuk anak tuna rungu yang dikelola para biarawati. 

Perkataan bapakku tidak aneh, karena di kotaku ada sekolah untuk anak cacat. Ini kok malah berkunjung ke sekolah yang letaknya cukup jauh..

Mboten pak, meniko program kunjungan sangking paroki,” kataku.

Ya program itu digagas oleh Romo Pri yang dekat dengan kami mudikanya.

“Ayo dolan mrono, ben ngerti kerjone  suster ning kono… ngopene, ngajari bocah bisu tuli,” sahut Romo Pri, ketika mengetahui bahwa Sabtu ini sekolah diliburkan karena ada pertemuan guru.

Rencana tersebut begitu saja mengalir, setelah kesediaan kami untuk berkunjung ke sana dan telah terkonfirmasi oleh suster di Wonosobo.

Pagi-pagi jam 05.30 WIB kami sudah ngumpul di depan pastoran yang terletak di di belakang sebelah kiri gereja.

Segera setelah sampai di Wonosobo, kami diajak keliling oleh salah satu suster ke asrama dan sekolah. Kami juga berinteraksi langsung dengan para siswa dari yang masih kecil sampai hampir seusia kami, meski kami agak bingung memahami apa yang mereka katakan, namun mereka menyambut kami dengan antusias.

Aku melihat suster dan guru dengan sabar mendampingi gadis kecil tuna rungu dan tuna wicara yang berlatih berbicara di depan cermin.

Setelah dari kunjungan tersebut, memang ada sesuatu yang membekas di hati yaitu perasan senang, damai dan bahagia saat bertemu dan bersama mereka. Namun itu pun hanya sebatas pada perasaan senang, belum membangkitkan keinginan untuk hidup membiara.

Ternyata di daerah pegunungan yang sejuk ada karya yang sangat luar biasa oleh para suster yang berjuang untuk mengajar, mendidik anak-anak tuna rungu supaya mereka mampu berbicara dan bersosialisasi dengan masyarakat luas.

Entah mengapa dan  kapan, kunjungan yang pada awalnya hanya menimbulkan rasa senang dan damai itu menjadi sesuatu yang sulit di ungkapkan, menggugah rasa perasaan dan hati, mungkin karena keramahan para suster dan begitu sabarnya mereka mengajari para siswi tuna rungu belajar berbicara, sungguh menyentuh.

Kunjungan itu semakin lama terpatri dalam hati dan pikiranku. Setelah pengumuman kelulusan SMA, aku membulatkan tekat ku untuk minta izin dan restu kepada orangtuaku untuk menjadi suster di Wonosobo.

***

Suster Marta. Penampilan sekelompok suster yang menampilkan nyanyian dengan gerak tari yang sederhana namun bermaknamendapat sambutan para umat di paroki terutama kaum mudanya. 

Kebetulan liburanku ke rumah orangtua berbarengan dengan Minggu Panggilan yang dihadiri oleh belasan suster dari salah satu Kongregasi suster.

Mereka live in di paroki ku sudah tiga hari lamanya, namun kedekatan umat dengan mereka sudah terlihat akrab. Ternyata mereka sudah berkarya cukup lama di kotaku, namun di paroki yang berbeda dengan paroki di mana orang tuaku tinggal.

Komunitas tempat mereka tinggal, berjarak 20 kilometer dari paroki asalku. Terus terang aku  baru mengetahui ada komunitas suster di desa dan berbaur dengan masyarakatnya.

Aku memang tidak tinggal di kota ku, karena aku kerja di sebuah pabrik di luar kota.  Perjumpaanku selanjutnya terjadi tiga pekan kemudian, ketika aku mengiyakan teman mudika dulu menelpon dan mengajak untuk berkunjung ke komunitas para suster di kecamatan sebelah.

Saat kami tiba disana, ternyata di susteran sedang ada pertemuan antar kelompok petani muda yang berasal dari beberapa desa di sekitar komunitas mereka.

Komunitas yang merupakan tempat tinggal suster ini hanya ditinggali oleh dua suster saja. Pada waktu mereka live in di paroki ku suster yang lain berasal dari komunitas di kota yang berbeda.

Rumah komunitas suster seperti kebanyakan rumah pada umumnya yang ada di desa, namun dengan bangunan yang lebih besar.

Dengan satu ruang utama yang cukup besar berada di bagian depan, yang sekarang menjadi tempat pertemuan para kelompok petani muda. 

Belakangan baru kuketahui bahwa tempat tinggal para suster merupakan pusat kegiatan para penduduk desa tersebut maupun desa-desa sekitarnya, baik untuk pertemuan para kelompok petani, ibu-ibu PKK dan kegiatan desa yang lain.

Karya suster disini, memang pendampingan dan pemberdayaan masyarakat desa, di samping membantu mengajar di sekolahku dulu. Pendampingan nya bukan hanya di desa d imana mereka tinggal, namun juga di desa lain di kecamatan yang sama.

Karya pemberdayaan ini yang menarik perhatianku, karena sejak dulu aku sangat  menaruh perhatian pada pemberdayaan masyarakat kecil.

Ketika mendekati semester akhir, setiap kampus melaksanakan kegiatan pengabdian ke masyarakat yang lokasinya di desa. Kami membantu memberdayakan masyarakat desa untuk membuat sesuatu dari lingkungan mereka menjadi suatu produk yang layak untuk dijual.

Pengalaman inilah yang membekas, hingga ketika bekerja di pabrik pengolah hasil pertanian, aku dipercaya memegang CSR yang sering berhubungan dengan masyarakat desa.

Perusahaanku bekerjasama dengan kelompok petani untuk memenuhi kebutuhan bahan baku seperti jagung, kedelai dan kacang kacangan yang diolah  menjadi makanan kemasan.

Sedangkan limbahnya seperti bonggol jagung dikembalikan ke masyarakat untuk dibuat kerajinan. Kami membantu dalam design dan pemasaran sebagai salah satu CSR perusahaan. 

Selama pertemuan itu, aku memperhatikan suster begitu lihai dan mantap dalam memberikan pencerahan, motivasi bagi kaum muda desa. Saat ini, banyak kaum muda desa yang lebih memilih kerja di luar desa bahkan kotanya, padahal banyak potensi yang bisa digali dari desa.

Singkatnya tanpa kusadari, ketertarikan ku untuk menjadi seorang suster timbul dan akhirnya mengantarku untuk bergabung dengan kongregasi ini.

Mungkin inilah yang disebut panggilan Tuhan, pengalaman sederhana mampu mengubah haluan dari perjalanan hidup yang sudah sekian tahun saya jalani.

***

Suster Katarina: Setelah lulus SMA, aku memutuskan masuk biara. Rencanaku sempat tidak mendapat restu dari orangtuaku, maklum aku anak perempuan satu satunya. Untunglah, bapak mengizinkanku untuk menjadi suster.

Keinginanku menjadi seorang suster tidak ujug-ujug, tapi telah melewati jalan yang telah diatur oleh Nya. Ketika memilih kongregasi ini, banyak orang heran dengan keputusanku. 

Ya memang Kongregasi ini kecil dari jumlah anggotanya, tapi aku berkeyakinan aku akan tumbuh dan berkembang menjadi seorang suster yang betul-betul melayani dengan cinta dan kasih.

Dan betul, dalam Kongregasi ini, sebagai ciptaan Allah, aku disadarkan untuk selalu bersyukur bahwa aku diciptakan baik adanya, sesuai dengan citra Allah. Aku juga menemukan dan mengalami kebesaran Allah di antara yang kecil.

Karya kongregasi ini, kebanyakan karya pendidikan asrama khusus anak tuna rungu dan tuna wicara, serta tuna netra. Dalam mendidik dan mendampingi anak-anak dengan kebutuhan khusus seperti itu, bukanlah perkara mudah.  

Banyak tantangan yang harus dihadapi, karena keterbatasan komunikasi dan masalah emosional para siswi tuna rungu, kadang kami merasa tidak mengetahui apa yang diinginkan atau dibutuhkan anak-anak ini.

Memang aku belum punya pengalaman bergaul  dengan anak-anak tuna rungu dan tuna netra sebelum masuk biara. Aku dididik untuk menemukan Kristus dalam diri mereka. Di sinilah aku bersyukur atas semua pengalaman dan percaya bahwa tugas perutusannya merupakan panggilan Tuhan atas dirinya.

***

Dari tahun ke tahun kehidupan membiara menjadi semakin menarik dan menjadikan kami semakin berkembang dalam banyak tugas perutusan. Ketika memasuki masa junior tahun kedua, kami memulai tugas perutusan untuk menempuh pendidikan sarjana di kota yang berbeda.

Marta mendapat tugas untuk menempuh pendidikan S1 pendidikan untuk anak SLB dan itu sangat cocok dengan dirinya yang sabar dan ngemong, meski sebetulnya telah memperoleh gelar sarjana sebelum masuk biara.

Katarina tugas belajar di jurusan teologi yang dirasakan cukup berat, sedangkan aku mendapat perutusan di jurusan akuntansi yang bagiku juga sangat berat, karena aku orangnya tidak rapi cenderung amburadul.

Namun akhirnya aku bersyukur mendapat tugas ini, karena menjadikan diriku menjadi rapi dan teliti.

Selama menempuh pendidikan sarjana, kami bertiga jarang bertemu, kecuali pada waktu libur  semester. Itu pun kalau kami tidak mendapat tugas di  komunitas lain untuk membantu karya di sana.

Selepas kuliah, kami mendapat tugas di tempat berbeda, Marta kembali ke Wonosobo untuk menjadi guru di SLB. Aku mendapat tugas pengutusan di komunitas Yogyakarta. Sedangkan Katarina mendapat tugas di Komunitas Klaten.

Dengan berjalannya waktu, hingga ulang tahun hidup membiara kami yang ke dua puluh lima tahun ini, kami bertiga silih berganti berpindah tugas dan komunitas sesuai dengan kebutuhan kongregasi.

Saat ini, Marta mendapat tanggungjawab yang lebih besar lagi di sekolah, Katarina juga telah menyelesaikan tugas pendidikan lanjutan dan menjadi pembimbing para Novis.

Aku mendapat tugas misi di SLB Asrama yang baru didirikan sekitar lima tahun lalu oleh Kongregasi di negara tetangga. Kongregasi membentuk kami untuk selalu belajar dan belajar, melayani dan melayani.

Tanpa disadari kami bertiga telah sampai di depan pintu kapel dan saling memandang satu sama lain. Rupaya kami bertiga hanyut dalam kenangan masa lalu masing-masing.

Akhirnya kami tahu rencana Mu, yang awalnya sulit untuk dimengerti dan dirasa berat.

Kini k bahagia, seturut bait-bait nyanyian indah, mengiringi langkah kami untuk terus bersyukur atas pilihan hidup ini.

Indah rencanamu Tuhan di kala hidupku Walau ku tak  tahu dan ku tak mengerti semua jalanku Dulu ku tak tahu Tuhan berat kurasakan

Hati menderita dan ku tak berdaya menghadapi semua Kini ku mengerti sekarang kau tolong padaku Kini ku melihat dan ku merasakan indah rencana Mu 2x,

Terngiang di kepala dan telinga. Mengiringi kami memasuki kapel.

Selamat HUT PMY ke-200

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here