Informasi – Formasi – Transformasi

0
204 views
Zakheus, turunlah. Aku akan singgah di rumahmu.", by Patrick Comerford.

Puncta 21.11.23
PW. St. Perawan Maria Dipersembahkan kepada Allah
Lukas 19: 1-10

TEMA Temu Pastoral di Keuskupan Agung Semarang tahun 2024 adalah “Tinggal dalam Kristus dan Berbuah: Formatio Iman Berjenjang dan Berkelanjutan.”

Fokus Pastoral tahun depan menggarap proses formatio iman dari Pendampingan Iman Usia Dini (PIUD) sampai Pendampingan Iman Usia Lanjut (PIUL).

Menurut Romo Bondan, proses pembentukan iman itu melalui tiga tahap.

  • Pertama, Informatio yang meliputi pengajaran, katekese, pengetahuan iman.
  • Kedua, Formatio yakni pembentukan diri, sikap, perilaku sebagai orang beriman.
  • Ketiga, Transformatio yakni pembaharuan hidup, pertobatan dan perubahan.

Katekese atau pengajaran iman diarahkan untuk mengenal pribadi Yesus. Pengenalan akan Yesus itu membuat orang ingin menjadi seperti Yesus. Bertindak dan berpikir seperti Yesus.

Hidup seseorang ditandai dengan nilai-nilai Yesus, menjadi “Alter Christi”. Selanjutnya hidup orang beriman mengalami transformatio, perubahan atau pertobatan diri.

Contoh yang bisa diambil dalam Kitab Suci adalah perjumpaan Zakheus dengan Yesus. Pada awalnya Zakheus ingin melihat orang apakah Yesus itu. Ini ranah pengetahuan atau wilayah katekese. Zakheus ingin mengetahui, mengenal siapa pribadi Yesus.

Perjumpaan dengan Yesus itu membentuk sikap dalam diri Zakheus. Yang awalnya sebagai pemungut cukai, ia menjadi pemurah hati. Ia mau berbagi kepada orang miskin. Ia menjadi orang yang peduli terhadap sesamanya.

Ada transformasi atau pertobatan dalam diri Zakheus. Ia berkata, “Tuhan, separuh dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin, dan sekiranya ada yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

Perjumpaan dengan Yesus membangun sikap baru dan pertobatan. Orang yang bertumbuh dalam iman mesti sampai pada pertobatan atau pembaharuan hidup. Ia tidak mandeg atau statis.

Ia terus mencari, bergerak maju dan membaharui diri. Inilah iman yang hidup dan dinamis.

Seperti Zakheus, ia berlari mendahului orang banyak. Bahkan ia tidak malu memanjat pohon. Ia ingin mengenal Yesus.

Ia merasa “welcome” saat Yesus datang ke rumahnya kendati ia dicap sebagai orang berdosa. Ia bercakap-cakap dan duduk makan bersama Yesus. Perjumpaan yang akrab dan mendalam inilah yang mengubah pribadi Zakheus.

Apakah kita punya waktu untuk bertemu secara personal dengan Tuhan? Apakah kita mengusahakan sungguh-sungguh bisa berjumpa dengan Tuhan?

Ataukah hanya sambil lalu sebatas kita ada waktu saja? Apakah perjumpaan kita dengan Yesus sungguh mengubah sikap, perilaku, tindakan dan keputusan-keputusan kita?

Jangan-jangan kita hanya tahu banyak tetapi tidak sungguh-sungguh mengenal siapa itu Yesus dalam hidup kita.

Naik kereta turun di Prambanan,
Menikmati sendratari di pelataran.
Kita tahu banyak tentang Tuhan,
Tetapi tidak sampai pada pertobatan.

Cawas, mengenal lebih mendalam
Rm. A. Joko Purwanto Pr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here