“Ingin Besar, Jadilah Pelayan!” ; Ambruknya Teologi Istana (4)

0
1,317 views

Palungan Natal, tempat kelahiran Yesus, adalah simbol kesahajaan, bahkan penderitaan. Ia ruang hidup rakyat yang dimiskinkan dan ditindas. Palungan Natal bagi komunitas kristiani di Indonesia adalah lokasi-lokasi konflik kekerasan terhadap rakyat, seperti Papua, Mesuji, dan Bima.

Kita dapat menampilkan Yesus dan pewartaan Kerajaan Allah sebagai kontras terhadap praktek aparat negara yang membenarkan kekerasan dalam menyelesaikan konflik dengan rakyat dengan dalih rakyat telah menjadi perusuh keamanan.

Pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka.

Tidaklah demikian diantara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaknyalah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka diantara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.[15]

Dari Kitab Suci Kristiani, sebagai kontras dari Istana, penulis menemukan palungan sebagai simbol kehidupan rakyat. Palungan, tempat kelahiran Yesus, menyimbolkan kesahajaan, lebih jauh penderitaan rakyat beserta perjuangannya.

Palungan, ruang hidup rakyat yang dimiskinkan dan ditindas, menyimbolkan kehidupan mereka. Mendengarkan dan membaca kisah-kisah kemanusiaan Indonesia tahun 2011, penulis melihat Papua, Mesuji, Bima dan lokasi-lokasi konflik lainnya sebagai palungan-palungan saat ini.

Ketika pejabat negara menjauhi rakyat, banyak warga berharap salah satunya kepada pemimpin agama untuk merengkuhnya. Institusi agama harapannya menjadi simbol kontras dengan negara yang teologinya antikerakyatan.

Jika gereja-gereja yang bernaung di payung PGI dan KWI sungguh-sungguh menghidupi refleksi atas Yesus di palungan dalam pesan Natal bersama 2011 sebagai komitmen profetik dan solider dengan korban-penyintas, paguyuban korban-penyintas lintastragedi kemanusiaan menemukan kedua payung komunitas beriman kristiani berbela rasa dengan perjuangan mereka.

Di mata PGI dan KWI, kekerasan masih merupakan bahasa yang digemari guna menyelesaikan masalah relasi antar-manusia. Kecenderungan penyeragaman, ketimbang keanekaragaman masih merupakan pengalaman kita….

Penegakan hukum yang berkeadilan dan penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia masih merupakan pergumulan dan harus tetap kita perjuangkan. Pencemaran dan perusakan lingkungan yang menyebabkan bencana alam, seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya, tetap mencemaskan kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here