Ingin Jadi Penulis Pencipta Konten Hebat, Suster dan Pastor Ikut Lokakarya “Dari Peristiwa Jadi Berita” (2)

0
48 views
Para suster, imam peserta lokakarya sehari bertema "Dari Peristiwa Jadi Berita" besutan Yayasan Karsa Cipta Asa (YKCA) di Kampus Unika Atma Jaya Semanggi Jakarta, Sabtu 25 Mei 2024. (Albertus Barsito)

MOTIVASI ingin ikut hadir di lokakarya sehari bertitel Dari Peristiwa Jadi Berita sungguh bermacam-macam.

Mau apa dan bagaimana caranya

“Saya punya dokumentasi ratusan foto dan banyak catatan peristiwa karya kerasulan. Mau diapakan dan bagaimana caranya, saya tidak tahu. Nah, kali ini saya ingin tahu hal itu,” tutur Sr. Stefani Rengkuan SJMJ, suster senior asal Manado – kini berkarya di Sekretariat Gender KWI.

Meski baru saja “mendarat” tiba kembali di Jakarta usai mengikuti rapat di Yogya, Sr. Stefani SJMJ yang suka sana-sini memotret berbagai peristiwa di lapangan tetap bersemangat ingin mengikuti lokakarya bertema Dari Peristiwa Jadi Berita tersebut. “Saya sedikit terlambat datang, tetap boleh ikut kan?,” tulisnya di seberang jalan.

“Ayolah datang saja ikut serta,” saya merespon omongan Sr. Stefani SJMJ sembari tetap memotivasi dia, setelah sedikit ragu karena nyatanya sudah terlambat datang.

Benar saja. Dengan masih sedikit ngos-ngosan karena ingin berburu waktu, Sr. Stefani SJMJ akhirnya masuk ruangan kelas. Tempatnya ada di Gedung Yustinus Lt 2 Kampus Unika Atma Jaya Semanggi. Persis di samping Kantor APTIK dan Yayasan Bhumiksara.

Dalam waktu singkat, suster biarawati Kongregasi Jesus, Maria, Joseph (SJMJ) ini langsung bisa tune in dengan ritme jalannya Program Jendela Hati besutan Yayasan Karsa Cipta Asa (YKCA).

Poster dengan pesan kegiatan acara Progam Jendela Hati besutan Yayasan Karsa Cipta Asa (YKCA) bertema “Dari Peristiwa Jadi Berita”. Acara dengan target audiens para suster biarawati, bruder, ini berlangsung di Kampus Semanggi Unika Atma Jaya Jakarta, Sabtu 25 Mei 2024. (Paulus Nugroho Wisnu Dharsono)

Memotivasi semangat

Apa disyeringkan Sr. Stefani di akhir sesi refleksi dan evaluasi pasca lokakarya sehari bersama para suster biarawati berbagai tarekat religius dan imam CICM sungguh menarik disimak.

Meski boleh dibilang umurnya sudah tak muda lagi, Sr. Stefani SJMJ sangat layak disebut “orang lapangan”. Saya mengenal dia di hari-hari sibuk gelaran Indonesian Youth Day ke-3 di Lotta Pineleng dan Kota Manado tahun 2016 silam.

Saat itu, dengan sangat pedenya, Sr. Stefani Rengkuan SJMJ terlihat turun di lapangan terbuka. Di bawah terik matahari super panas yang menghujam Kota Manado saat itu, ia berjalan sana-sini mengabadikan peristiwa parade para kontingen IYD 2026 dari setiap keuskupan – semua partisipan Temu Akbar OMK Indonesia kedua ini.

Dengan “senjatanya” berupa kamera, Sr. Stefani Rengkuan SJMJ aktif terjun ke Lapangan Koni. Meski di bawah terik matahari Kota Manado, suster biarawati Kongregasi Suster-suster Jesus Maria Joseph (SJMJ) ini tak kendor semangatnya memotret. Ia melakukan hal itu guna bisa mengabadikan momen gelaran parade para kontingen keuskupan peserta Indonesian Youth Day ke-3 yang berlangsung di Keuskupan Manado, 26-30 Juni 2016. Gelaran parade plus semua persiapan ini makan waktu lebih dari tiga jam. (Mathias Hariyadi)
Sr. Stefani Rengkuan SJMJ (kiri) berani ikut turun ke Lapangan Koni di Kota Manado, guna bisa meliput gelaran pesta akbar OMK Indonesia bertitel Indonesian Youth Day (IYD) ke-3 di Lota Pineleng dan Kota Manado, Sulawesi Utara, 26-30 Juni 2016. (Mathias Hariyadi)

Usai berkarya di Manado dan kemudian di Makassar, Sr. Stefani SJMJ lalu ditugaskan di Merauke. Belum setahun ini, ia “ditarik” dari Papua untuk memulai tugas baru di lingkungan KWI.

“Ia maunya naik sepeda motor saja dan kemudian bisa nyambung dengan KRL. Ia juga sudah naik bus Trans Jakarta ke semua rute; berangkat dari titik awal pemberangkatan sampai berhenti dan turun di ujung final di mana rute perjalanan itu berakhir. Lalu naik lagi kembali rute awal. Ingin pergi ke mana-mana guna mengenal lapangan Jakarta. Itulah yang khas pada Sr. Stefani SJMJ,” ujar para suster kolega sekomunitasnya di Ciputat, Tangsel, tentang “sepak-terjangnya” suster SJMJ di Sekretariat Gender KWI.

Tentu Sr. Stefani SJMJ punya banyak kisah menarik dalam hidupnya. Nah, karena ingin tahu bagaimana ratusan foto dan kisah-kisah hidupnya bisa terdomentasi dengan baik itulah, dia sangat bersemangat ingin mengikuti lokakarya sehari dengan YKCA.

Logo Yayasan Karsa Cipta Asa (YKCA).

Menemukan “bakat baru” yakni keterampilan menulis

Program Jendela Hati yang digelar hari Sabtu 25 Mei 2024 pekan lalu telah sukses berlangsung di Kampus Semanggi Unika Atma Jaya. Misinya jelas: memotivasi para suster biarawati lintas usia dan tarekat religius agar mereka bisa tumbuh berkembang menjadi penulis dan pencipta konten hebat.

Dengan harapan agar di kemudian hari para suster tersebut menjadi aset penting bagi tarekatnya masing-masing. Terutama keterampilan mereka meramu peristiwa jadi berita. Mampu kelola tugas penting di bidang karya komunikasi dan menangani tugas “pengarsipan” atas peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di tarekatnya masing-masing.

Mengapa demikian? Karena pengalaman pribadi dan catatan sejarah membuktikan hal itu sangat penting. Keberhasilan meraih temuan “bakat” baru bidang tulis-menulis telah dirasakan dan dialami sejumlah suster biarawati, imam, dan tokoh awam. Dalam perjalanan hidup dan karier mereka, lalu eureka…!: “Ternyata, saya mampu dan punya bakat: bisa menulis berita.”

Baca juga: Jakarta: 40 suore a scuola di formazione per raccontare l’apostolato sui media digitali

Sejumlah testimoni dari suster dan imam

Serangkaian kisah dan pernyataan testimonial ini disampaikan antara lain oleh:

  • Sr. Maria Seba SFIC dari Pahoman, Kalbar.
  • Romo Fictorium Natanael Ginting OFMConv, formator para frater calon imam Fransiskan Konventual (OFMConv) di Pematangsiantar, Sumatera Utara.
  • Romo Valentinus “Troy” Robi SDV, misionaris muda Indonesia yang kini jadi formator para frater calon imam Serikat Vokasionis di Ho Chi Minh City, Vietnam.

Ya menulis, ya di rumah sakit

Sr. Maria Seba SFIC, misalnya, dalam satu penggalan sejarah hidupnya pernah “diperebutkan” antara Keuskupan Agung Pontianak yang menginginkan dia berkarya purna waktu di Komisi Komsos KAP. Sementara, Provinsial Kongregasi Suster SFIC tetap ingin dia berkarya untuk tarekatnya.

Sr. Maria Seba SFIC) dari Kongregasi Suster-suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah (SFIC) dari Pahoman, Kalbar. (Sesawi.Net)

Meski demikian, berkat temuan “bakat” barunya di bidang tulis-menulis tersebut, Sr. Maria Seba SFIC tetap bisa aktif berkarya di “dunia” pelayanan berbeda. Hari-hari biasa ia bekerja di RS Santo Vincentius Singkawang, sebelum akhirnya pindah ke RS Laverna Singkawang dan kini berkarya di Pahoman, Kalbar.

Sementara hari-hari khusus, beberapa tahun silam, ia tetap beraktivitas sebagai penulis produktif untuk Komisi Komsos Keuskupan Agung Pontianak.

Untuk “bakat” barunya di bidang tulis-menulis tersebut, sampai-sampai Sr. Maria Seba SFIC pernah diutus Uskup KAP Mgr. Agustinus Agus untuk hadir mengikuti rapat Signis Indonesia di Sumba dan Padang.

Menghadiri rapat nasional Signis Indonesia di dua lokasi berbeda itu sungguh merupakan dua pengalaman istimewa, karena untuk pertama kalinya pula Sr. Maria Seba SFIC boleh terbang tinggalkan sejenak Kalbar menuju NTT dan Sumatera Barat.

Menulis buku

Pengalaman Romo Fictorium Natanael Ginting OFMConv dan Romo Troy Robi SDV juga tidak kalah hebatnya. Berkat temuan “bakat” baru di bidang menulis, dua imam muda dari Fransiskan Konventual dan Serikat Vokasionis masing-masing sudah berhasil menerbitkan buku.

  • Romo Fictorium Natanael Ginting OFMConv telah membukukan prestasinya dengan menulis buku terbitKCA dengan titel Santo Fransiskus Assisi: Inspirator Dialog Iman, Persaudaraan, Cinta Sesama dan Semesta (2021).
  • Sedangkan, Romo Valentinus “Troy” Robi SDV dalam waktu dekat ini akan membakukan prestasinya di bidang menulis melalui sebuah buku bertitel Kata Bertuah Paus Fransiskus yang dirilis YKCA.
Dua buku hasil karya dua imam muda dari Romo Fictorium Natanael Ginting OFMConv dari Ordo Fransiskan Konventual dan Romo Valentinus “Troy” Robi SDV dari Serikat Vokasionis. Kedua imam penulis buku ini mengaku termotivasi aktif menulis karena sering mengirim laporan berita di Sesawi.Net. Buku karya dua imam muda tersebut diterbitkan oleh YKCA. (Paulus Nugroho Wisnu Dharsono)
Dua suster biarawati yang produktif menulis laporan berita dan foto untuk Sesawi.Net: Sr. Kresensia Yati SMFA (kiri) dari Kongregasi Suster Misionaris Fransiskan Santo Antonius Pontianak, Kalbar, dan Sr. Fransiska Agustin FSGM (kanan) dari Kongregasi Suster-suster Fransiskan St. Georgius Martir, Keuskupan Tanjungkarang, Lampung. (Dok. Sesawi.Net)

Semula malu-malu, kini super pede

Sr. Maria Ludovika OSA dari Ketapang yang aktif ikut pastor atau uskup bilamana melakukan perjalanan turne masuk hutan di Keuskupan Ketapang, Sanggau, dan Sintang – ketiganya wilayah ini berada di Provinsi Kalbar. (Sesawi.Net)

Masih banyak suster biarawati yang dulunya merasa “malu-malu” menulis. Namun, kini mereka itu ibarat kata sudah menjadi aset penting di bidang Komunikasi untuk tarekatnya masing-masing.

Sebut saja misalnya Sr. Fransiska Agustin FSGM sehingga publik jadi tahu aneka peristiwa yang terjadi di wilayah pastoral Keuskupan Tanjungkarang, Lampung

Lalu juga Sr. Kresensia Yati SMFA di Pontianak, Kalbar. Meski yang dia tekuni masalah keuangan di Keuskupan Agung Pontianak.

Namun berkat tulisannya umat Katolik Indonesia menjadi tahu apa dan bagaimana Kongregasi Suster Misi Fransiskan Santo Antonius (SMFA) yang sering disebut “Suster Rakyat” ini.

Beberapa waktu lalu di wilayah pastoral Keuskupan Ketapang, Kalbar, ada penulis dari Kongregasi Suster-suster Santo Agustinus dari Kerahiman Allah (OSA). Namanya Sr. Maria Ludovika OSA – kini berkarya di lembaga pendidikan Keuskupan Sintang, Kalbar.

Sr. Maria Ludovika OSA yang boleh dibilang masih muda ini sangat aktif menulis pergumulan batinnya sebagai religius. Ia tanpa henti rajin mencatat kisah-kisah eksotik pengalaman perjalanannya menjalani turne masuk pedalaman.

Dalam menulis luapan emosinya, Sr. Maria Ludovika OSA mewujudkannya dalam bentuk tulisan dan foto; disertai caption (keterangan peristiwa).

Kegiatan kerjasama

Program Jendela Hati lokakarya sehari untuk memantik motivasi keterampilan menulis dan membuat konten kreatif ini didesain oleh Yayasan Karsa Cipta Asa (YKCA).

Dikerjakan dalam bingkai kerjasamanya dengan Bimas Katolik Kemenag Kantor Wilayah DKI Jakarta. (Berlanjut)

Baca juga:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here