Ingin Misa tapi Toko tak Bisa Ditinggal dan Rajin Kolekte “Buang Sial”

0
268 views
Ilustrasi.

BAPERAN – BAcaan PERmenungan hariAN

Selasa, 12 Oktober 2021.

Tema: Nuansa iman.

  • Rom..1: 16-25.
  • Luk. 11: 37-41.

KITA beriman lewat dan di dalam Gereja. Dan Gereja yang didirikan oleh Yesus adalah Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik. Lih. Yoh 17.

Apa pun perjalanan Gereja di dalam dunia, termasuk masa-masa sulit dan gelap, bagaimana reaksi dunia dan aksi sejarah manusia terhadap Gereja, tetaplah kita berhimpun dalam kesatuan Gereja-Nya.

Cara terbaik menyakini bahwa perjalanan iman kita sesuai rancangan-Nya adalah dengan menimbang-nimbang sejauh mana hidup kita diperbarui dalam terang belas kasih.

Belas kasih adalah inti hati Allah Bapa kepada kita. Sekaligus kriteria yang memastikan siapakah anak-anak Bapa – murid Yesus sesungguhnya. Tentu dalam konsep belas kasih ini, keadilan dan kebenaran tidak dapat diabaikan.

Itulah iman kita.

Setiap akhir tahun, saya selalu menjumpai satu keluarga yang jarang saya lihat ke gereja. Tetapi, mereka selalu pasti memberi donasi untuk gereja.

Terdorong ingin mengenal mereka, saya datang berkunjung.

Suami-istri, dua-duanya bekerja di toko yang berbeda. Toko sembako. Saya pun pernah ke toko mereka masing-masing. Sangat ramai.

Setelah mengantar anak mereka ke sekolah, mereka langsung masing-masing ke toko mereka. Baru bisa pulang ke rumah sekitar pukul 18.00 sore.

Anak-anak diasuh oleh bibi yang sudah lama bekerja pada orangtua mereka. Dipercaya dan sungguh merawat anak mereka.

“Maaf Romo, kami benar-benar jarang ke gereja,” kata mereka.

“Hari Minggu, toko kami tetap buka. Justru pada hari Minggu itu, banyak pelanggan dari pulau seberang mengambil barang-barang yang bisa mereka dagangkan lagi. 

Tidak tega harus tutup toko. Mereka hanya bisa datang ke sini pada hari minggu. Hari yang dirasa cukup untuk perjalanan pulang dan pergi mereka. Jadi, kami memutuskan hari Minggu, toko tetap buka. Akibatnya, kami jarang ke gereja. Kecuali, Natal dan Paskah. Namun, kami tidak lupa memberi kolekte setiap Minggunya.

“Anak-anak gimana?” tanyaku.

“Ada bibi yang baik di rumah. Mereka di sekolah Katolik yang rutin mengadakan perayaan ekaristi sebulan sekali. Kadang, kami juga bingung bagaimana mengatur waktu Romo,” ungkap mereka.

Saya mencoba memahami. “Yang penting menyadari bahwa kita adalah anak-anak Tuhan; diminta berhimpun merayakan Ekaristi. Di situlah secara iman dan sosial, kita disatukan dalam Kristus dan dianugerahi rahmat yang dibutuhkan untuk hidup sebagai anak-anak Tuhan. Dalam Ekaristi Tuhan sendiri hadir dan menguduskan,” kataku meneguhkan.

“Iya, Romo. Saya harap nanti kalau anak-anak sudah besar, kami akan bergantian menjaga toko, supaya kami pun sering ke gereja ber-ekaristi bersama,” paparnya.

“Ini romo ada sesuatu untuk Gereja,” katanya, sembari muncul keinginan mau memberi sesuatu.

 “Apakah ini?”

“Bagaimana ngomongnya ya, Romo. Kami diajari oleh orangtua. Karena hidup kami berdagang mungkin tanpa sadar kami melakukan sesuatu yang tidak elok. Orangtua menyarankan setiap tahun, harus istilahnya, ‘buang sial’. Artinya kami terhindar dari hal-hal yang bisa menyusahkan dan menghambat usaha kami.

“Kenapa disebut ‘buang sial’?”

“Mungkin setahun ini, kami berucap salah atau mencari untung yang berlebihan. Bahkan saat-saat tertentu sedikit menambah keuntungan lebih,” terang mereka.

“Apakah pernah kesulitan dalam berusaha?”

“Pernah Romo. Beberapa langganan yang kami percaya menghilang begitu saja. Meninggalkan utang cukup besar. Memang mereka selalu membeli dengan jumlah yang banyak dan mereka selalu menepati pembayaran yang sudah disepakati.

Kami kelimpungan. Sejak itu, saya ingat kata almarhumah mama papa, tentang ‘uang sial’ dan kami ingin melakukannya,” jelasnya.

Saya pun coba memahami. Mereka baptis dewasa. Di saat perjumpaan dan berbicara dengan mereka saya hanya ingat kata Yesus, “Berbahagia lah orang yang murah hatinya karena mereka akan mengalami kemurahan.” Lih Mat. 5: 7.

Mencoba memahami pergulatan iman umat, menyadarkan saya betapa umat ber-jibaku di dalam dunia yang sangat riil. Bekerja serius dan bergiat mengais rezeki bagi keluarganya, tetapi tetap setia melakukan kebaikan.

Apa pun latar belakang dan istilahnya.

Dan saya bangga. Di meja kasir mereka, ada benda rohani kecil: salib dan patung Bunda Maria.

“Don’t look the book by its cover,” begitu kata pepatah lama. Jangan liat orang hanya dari penampilan fisiknya semata.

Karena, setiap orang beriman pastinya berusaha menghindar dari kesalahan ajaran, Tetapi selalu setia ingin berbuat baik.

Tuhan, sertailah lika-liku peziarahan umat-Mu. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here