Inilah Kronologi Kasus Pemenggalan Kepala Patung Maria di Sendang Pawitra (5)

0
4,642 views

KARANGANYAR, SESAWI.net – Peristiwa perusakan patung-patung terutama pemenggalan kepala patung Bunda Maria di Gua Sendang Pawitra di Tawangmangu, Solo, Rabu (15/12) malam mengusik hati dan iman kita sebagai orang Katolik. Sayang, hingga kini, belum diketahui siapa pelakunya.

Menurut Rm. Yohanes Sunaryadi Pr –pastur Paroki Gereja Santo Pius X Karanganyar– tempat kejadian perkara (TKP) sudah diberi garis polisi.  Dia juga belum bisa memberi info secara detail karena masih dalam proses penyelidikan jajaran Polres Karanganyar.

Gua Maria Sendang Pawitra Sinar Surya Tawangmangu masuk dalam wilayah administratif Paroki Karangangyar.

Kronologi peristiwa yang diketahui Romo Sunar kurang lebih seperti ini:

Rabu, 14 Desember 2011
Pukul  20.00 dan pukul 22.00 WIB: Bapak Narto– penjaga Gua Maria– yang rumahnya tidak jauh dari Goa seperti biasa selalu menyempatkan diri ” menengok” Goa Maria. Di sana tidak ditemukan sesuatu yang mencurigakan. Pak Narto sendiri seorang muslim dan menjadi Ketua RW di tempat itu.

Pukul 23.30 WIB : Seseorang terlihat  menyalakan  senter di sekitar gua, namun tidak dihiraukan karena dikira peziarah yang sedang berdoa.

Kamis, 15 Desember 2011
Kira-kira pukul 10.00 WIB : Warga desa gempar menyaksikan suasana berantakan di Gua Maria yang biasa dilewati oleh beberapa petani menuju ladang mereka. Kejadian ini kemudian dilaporkan ke pengurus Lingkungan Tawangmangu dan diteruskan ke Kapolsek.

Kondisi kerusakan:
1. Patung Bunda Maria tanpa kepala (sampai saat ini potongan kepala tidak ditemukan, kemungkinan dibawa pelaku);
2. Salib Milenium setinggi 1.5 m hilang;
3. Patung keluarga kudus kecil hilang;
4. Patung malaikat dan bejana air suci dihancurkan;

“Pihak kepolisian, pemdes dan Kapolres secara bertahap akhirnya meluncur menuju lokasi gua, termasuk saya dan beberapa umat. Akhirnya diadakan olah TKP dan pencarian info-info dari warga seputar Goa Maria.
Jam 19.00 : Kapolres mengundang tokoh-tokoh agama Karanganyar untuk menghimbau agar warga tidak mudah terpancing oleh situasi ini. Besok penyelidikan masih akan dilanjutkan,” kata Romo Sunaryadi.

Sebagai gambaran, di seputar Lokasi Gua maria memang tidak ada satu pun umat Katolik. Namun warga desa sangat ramah dan terbuka terhadap adanya tempat ziarah itu. Ketika kejadian ini berlangsung, secara spontan warga juga ikut bersiap menjaga di seputar lokasi gua. Warga yang menyaksikan kehancuran patung-patung itu dengan kebersahajaannya juga kelihatan trenyuh. (Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here