Inspirasi Hidup: Nenek Lidwina Bekikak Mau Mengaku Dosa (3)

1
348 views
Kakek dan nenek Hajang 2006. (Dok. Liem Tjay)

“PASTOR, nenek rindu sekali mengaku dosa, sekarang nenek jarang bertemu dengan Pastor. Nenek masih ingat dulu sering bertemu dengan Pastor dan mengaku dosa sebulan sekali.”

Nenek Lidwina Bekikak alias Hajang adalah salah satu umat yang rajin mengaku dosa setiap kali bertemu dengan Pastor. Menerimakan Sakramen Pengakuan Dosa adalah pelayanan yang sangat mendasar bagi seorang imam.

Inilah pelayanan sakramen yang pribadi dan memberikan rahmat penebusan, rahmat kelegaan dan pembebasan. Apalagi bagi umat yang jauh dari paroki dan jarang mendapat pelayanan dari seorang Imam, seperti Nenek Hajang.

Liem Tjay sadar akan tugasnya sebagai imam sebagai pelayan Sakramen. Namun apa boleh buat tenaga imam kurang, sehingga jarang ada pengakuan dosa.

Liem Tjay bertanya dalam hati: ”Atau memang saya sebagai imam kurang memperhatikan kebutuhan batin, kurang peka akan kerinduan umat untuk menerima daya kekuatan rohani Sakramen Pengakuan Dosa?

Liem Tjay merasa tersinggung terhadap keluhan nenek Hajang yang belum sempat mengaku dosa.

Dalam hati Liem Tjay mengatakan, ”Sangat disayangkan  dan berdosa, jika saya sebagai  imam dengan alasan sibuk sibuk, padahal  di balik kesibukan itu saya mencari kesenangan pribadi  dan malas, lalu memutuskan  tidak melayani umat yang minta pengakuan dosa.”

Mampir di Gubuk Nenek Hajang

Memang Liem Tjay sering lewat Kampung Sepan, di mana Nenek Hajang tinggal di pondok dan berkebun. Liem Tjay mampir sekedar menyapa, atau minta minum kopi sambil istirahat.

Namun, nenek Hajang tidak puas jika belum masak nasi dan sayur. Walaupun tengah malam, nenek Hajang tetap masak sayur hasil kebun sendiri. Masak dengan kayu menambah kelezatan sayur khas kampung Dayak.

Bila perjalanan turne dari Semoi, ITCI atau Jenebora terlalu malam, atau cuaca hujan, Liem Tjay selalu singgah dan tidur di gubuk Nenek Hajang yang mungil namun sangat tenang dan sepi karena ada di tengah hutan.

Suasana mistis di kampung Sepan, pemukiman orang Dayak Paser, asli pedalaman, sangat terasa kental dan khas yang mengantar Liem Tjay tenggelam dalam mimpi.

Pada saat itu, Liem Tjay masih ingat perjalanan dari pusat Paroki Penajam ke Kampung Sepan sangat susah ditembus. Jarak 54 km ditempuh dengan sepeda motor trail selama 4-5 jam pada waktu itu.

Jalan sangat susah, banyak lubang dan apalagi jika hujan, jalan menjadi kubangan, penuh dengan lumpur. Motor trail harus dituntun, berhenti sejenak untuk membersihkan ban dari lumpur yang melengket, lalu jalan lagi.

Turne melewati jalan penuh lumpur itu dibutuhkan kesabaran, ketekunan  melewati langkah demi langkah.(Berlanjut)

1 COMMENT

Leave a Reply to Murti Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here