Jalan Kasih di Tengah Penolakan

1
415 views
Ilustrasi: Peletakan batu pertama untuk pembanguna gedung Gereja St. Fransiskus Xaverius Fatuoni, TTU. (Ist)

Selasa, 27 September 2022

  • Ayb. 3:1-3,11-17,20-23.
  • Mzm. 88:2-3,4-5,6,7-8.
  • Luk. 9:51-56.

KITA semua pasti pernah mengalami penolakan dalam hidup ini. Bahkan jika kita menilik banyak orang sukses sekalipun di awal perjuangannya mengalami penolakan berkali-kali.

Tidak ada orang yang ingin ditolak oleh orang lain. Entah dalam urusan pendidikan, karir, pertemanan bahkan percintaan, kita seringkali berusaha menghindar dari rasa ditolak.

Ini semua karena penolakan sering dianggap sebagai sebuah kegagalan yang bisa membuat mental down.

Akhirnya secara tidak langsung, kita takut menghadapi respon negatif orang lain ketika ditolak. Dampak panjangnya, kita akan terbiasa untuk bersikap perfeksionis dan defensif melihat pendapat orang lain.

Sebagai pengikut Yesus yang hidup di bumi Nusantara. Sering kali kita mengalami perlakuan diskriminatif, penolakan.

Sebuah kejadian yang penolakan baru-baru ini menyentak rasa keadilan kita bersama.

Telah terjadi penolakan pendirian gereja di salah satu kota di bumi Nusantara ini.

Bahkan para pejabat ikut menandatangani penolakan rencana pendirian gereja di depan massa yang menolak.

Meski sudah mengikuti semua langkah dan prosedur sesuai dengan ketentuan pemerintah rencana pembangunan gereja itu tetap ditolak.

Pejabat kota itu dalam keterangan tertulisnya mengatakan, penandatangan bersama yang dilakukan sehari sebelumnya, hanya memenuhi keinginan massa.

Penandatangan penolakan adalah memenuhi keinginan masyarakat daerah tertentu tersebut.

Pemerintahan yang tidak bernyali, hingga bertindak diskriminatif karena tekanan sebagian masyarakat, tanpa mempedulikan rasa keadilan masyarakat lainnya.

Perlakuan diskriminatif dengan merestui penolakan ini, telah mengoreskan kekecewaan yang mendalam, bagi banyak orang yang ingin keadilan dan toleransi ditegakkan.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem.

Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?

Akan tetapi Ia berpaling dan menegor mereka.”

Teguran Yesus kepada kedua murid-Nya tidak berarti bahwa Ia menyetujui perbuatan orang Samaria yang menolak-Nya.

Tetapi, dibalik sikap-Nya itu, Yesus memberikan teladan dalam mengatasi permasalahan.

Kedua murid diajar untuk melihat realitas penolakan dan bertindak sebagai pengikut Yesus yang sabar-bersedia menjalani kesulitan.

Ditolak, dihina, dan dibenci adalah hal-hal yang akan menjadi bagian penderitaan Yesus sebelum mati di salib. Para murid juga akan mengalaminya.

Yesus Kristus tidak pernah mengajar kita untuk membalas kejahatan dengan kejahatan.

Sebaliknya, Yesus mengajarkan kesabaran, kasih, dan kebaikan kepada semua murid-Nya.

Perbuatan jahat akan menuai hasilnya nanti. Sebab itu, kita dipanggil untuk mengembangkan cinta kasih hingga berani mematikan keinginan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku membalas kejahatan dengan kebaikan?

1 COMMENT

  1. Memang realita kehidupan ini bahwa kejahatan akan di balasnya…., Tetapi jika ada kejadian seperti itu hati ini sering bergejolak dan mengatakan bahwa Tuhan Yesus tidak menghendaki kita membalas mereka dengan hal yang tidak baik, tetapi justru Yesus menghendaki balas lah dengan kebaikan dan hal itu yang sering menjadi berkecamuk di pikiran.
    Semoga Tuhan Yesus terus mendampingi kami agar tetap sabar dengan belas kasih tuhan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here