Jalan Seolah Rata

0
145 views
Ilustrasi - Naik sepeda. (Ist)

TAK seperti biasa, Rabu sore kemarin, saya bersepeda bersama teman. Kami menyusuri jalur Tanggul-Sumber Baru-Sumber Agung-Rowo Tengah-Tanggul.

Jalur yang dipilih adalah jalur jalan di daerah datar. Kami tidak memilih jalur ke perkebunan.

Mengayuh sepeda di jalur datar sepertinya lebih mudah. Apalagi bagi yang terbiasa dengan medan terjal, naik turun di jalur pegunungan.

Di sepanjang jalur datar, pantang besar untuk turun dari sepeda dengan alasan medan sulit. Turun dari sepeda hanya untuk satu alasan: kerusakan ban atau onderdil lain

Di medan datar, tantangan pun tidak sedikit, bahkan bisa membuat celaka.

Jalan sering rusak karena tergenang air.

Rendaman air melepaskan aspal dan membuat lobang menganga. Tak hati-hati saat melintasi, pasti menimbulkan kecelakaan.

“Seminggu lalu saya melewati rel lori tebu di daerah Rejo Agung, dekat Pabrik Gula Semboro. Tiba-tiba ban kempes. Ternyata ban tertusuk potongan kawat,” kata Pak Willy, teman bersepeda.

Maka, ya, harus siap perlengkapan dan peralatan.

Jalur datar juga menawarkan panorama indah. Mata dimanjakan bentang sawah luas dengan horizon jauh berlatar semburat merah lembayung.

Saat indah untuk berhenti sejenak. Menikmati dan megagumi keindahan. Cermin Sang Keelokan.

Tapi, saat penat mengayuh, seteguk air dari sahabat di tempat jauh membawa kesegaran. “Gak ngiro pean mrene. Sore-sore, neh. Iki aku lagi entas nglebokne pitik. Ya, ming iki anane, pisang Karo banyu,” sambut Pak Kasiban dengan tawa lebar di Rowo Tengah. (Tak mengira berkunjung ke sini. Sore. Baru saja saya memasukkan ayam ke kandang. Hanya ini yang ada, pisang dan air minum.)

Sahabat, cave ne cadas, hati-hati supaya tak jatuh. Selalu ada keindahan dan persahabatan.

07.01.2021. bm-1982. ac eko wahyono.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here