Jalan Terjal Pertobatan

0
503 views
Ilustrasi -Bertobat memperbarui diri. (Ist)

Kamis, 16 September 2021

1Tim. 4:12-16.
Mzm.11:7-10.
Luk.7:36-50

KITA bukan malaikat. Sebagai manusia biasa, pasti kita pernah berbuat kesalahan. Kita pernah berbuat dosa.

Namun banyak orang yang merasa suci seperti malaikat, merasa bersih dan lebih bersih daripada orang lain.

Apalagi jika di hadapannya terdapat orang yang pernah berbuat kesalahan dan diketahui orang banyak.

Label pendosa yang melekat pada seseorang tidak mudah untuk dihapus. Bahkan sampai mati pun, label itu tetap melekat padanya.

Banyak orang lebih mudah mengingat dosa dan kesalahan yang pernah diperbuat orang lain. Daripada melihat usaha dan perjuangan orang lain dalam meluruskan jalan hidupnya.

Perbuatan baik dan penuh kasih tidak kita lihat, karena pikiran kita tertutup oleh stigma yang ada dipikiran kita.

“Saya tidak bisa memaksa orang lain untuk menerima saya apa adanya. Apalagi untuk meminta menghargai usaha dan perjuangan saya menata hidup ini,” kata seorang bapak.

“Setiap orang berhak hidup dengan pikiran mereka sendiri dan memegang keyakinan masing-masing,” lanjutnya.

“Saya dicap sebagai seorang bajingan yang telah menelantarkan keluarga. Karena saya meninggalkan isteri dan anak-anakku 15 tahun yang silam,” ujarnya.

“Semua orang tidak akan pernah tahu dan tidak perlu tahu alasan mengapa saya terpaksa meninggalkan isteri dan anak-anakku,” lanjutnya.

“Minimal dari mulut saya sendiri, tidak akan pernah saya membuka masalah keluarga untuk komsumsi umum,” ujarnya.

“Biarkan saya, isteri dan anak-anak yang mengetahui masalah kami dan menjadi rahasia keluarga kami,” lanjutnya.

“Saya hanya akan berjuang memperbaiki hidupku, dan bertanggungjawab dengan anak-anak sesuai daya kemampuanku,” katanya

“Saya menghargai pernikahan Katolik dan janji-janji yang pernah saya ucapkan di depan altar. Untuk itu, saya masih hidup sendiri,” ujarnya.

Begitu kompleks masalah rumahtangga. Banyak hal yang tidak bisa begitu saja dinilai secara hitam putih.

Banyak peristiwa yang kita ketahui hanya merupakan akibat. Bukan akar masalahnya.

Maka, sangat tidak bijaksana, jika kita orang luar ikut menilai berdasarkan cerita sepihak. Atau berdasarkan yang kita dengar atau pengamatan kita dari jauh.

Dalam bacaan Injil kita baca,” Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa.

Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi.

Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.”

Perempuan dalam perikop di atas merupakan korban kekerasan. Yaitu kekerasan psikis di masyarakat. Oleh karena pekerjaannya sebagai pelacur atau perempuan sundal.

Karena pekerjaannya itu, maka ia dijauhi dari kehidupan sosial masyarakat.

Kita bisa membayangkan beban berat macam apa yang ditanggung oleh si perempuan itu dengan ‘label’ yang dia terima dari masyarakat waktu itu?

Mengetahui keberadaan diri kita yang berdosa saja sudah menjadi beban yang sangat berat. Apalagi ditambah dengan kata “terkenal” artinya semua orang tahu.

Sungguh beban yang teramat berat sehingga air mata yang keluar dari mata perempuan tadi cukup untuk membasuh kaki Yesus.

Namun keberaniannya menjumpai Yesus dan usaha pertobatannya membawa pengampunan atas dosa-dosanya.

Bagimana dengan diriku?

Apakah aku tetap mau berjuang di jalan pertobatan meski dipandang sebelah mata oleh sesama?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here