Jaminan

0
147 views
Ilustrasi - Kantor makanan. (Ist)

Renungan Harian
1 Agustus 2021
Minggu Biasa XVIII

Bacaan I: Kel.16: 2-4. 12-15.
Bacaan II: Ef. 4: 17. 20-24.
Injil: Yoh. 6: 24-35.
 
BEBERAPA tahun lalu di suatu sore, saya kedatangan tamu seorang bapak. Setelah ia memperkenalkan dirinya ,sebentar dia menyampaikan maksud kedatangannya.

Bapak itu menyampaikan bahwa sekarang sedang kesulitan ekonomi, sehingga untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari amat sulit.

Melihat kondisi seperti itu maka kami memutuskan untuk membantu bapak itu. Kami memberi satu karung beras dan sejumlah uang untuk membantu bapak itu.

Harapan kami, selanjutnya bapak itu bisa mencukupi kebutuhannya.
 
Satu hari kemudian, bapak itu datang lagi dengan keluhan meminta pekerjaan karena sudah berusaha mencari kemana-mana tidak mendapatkan.

Saya agak bingung karena pastoran sudah tidak membutuhkan karyawan lagi. Setelah berbicara dengan pastor rekan, kami memutuskan memberi pekerjaan bapak itu untuk menyapu halaman dan menyiram tanaman.

Ketika saya beritahu pekerjaan yang kami tawarkan, bapak itu menolak karena tidak biasa dengan pekerjaan itu.

Bapak itu justru mau pinjam motor pastoran untuk ngojek. Sudah pasti saya tolak, karena motor pastoran bukan untuk itu.
 
Bapak itu kemudian mengatakan akan mencoba mencari pekerjaan lagi di luar. Namun, ia minta beras lagi dan sejumlah uang untuk makan keluarganya.

Di samping itu, bapak itu juga meminta sejumlah uang untuk kontrak rumah.

Saya terkejut dengan permintaan jumlah uang yang cukup besar untuk kontrak rumah. Karena karyawan pastoran yang kontrak rumah hanya seperempat dari yang diajukan bapak itu.

Bapak itu beralasan bahwa kalau rumah seperti karyawan pastoran itu tidak layak. Dan yang membuat saya lebih kaget bapak itu mengeluh tentang beras yang kami berikan.

Menurut bapak itu, berasnya tidak bagus. Ia minta yang lebih bagus. Sementara beras yang kami berikan adalah beras yang biasa kami gunakan di pastoran.
 
Melihat gelagat yang tidak baik, maka saya menolak semua permintaan bapak itu dengan permohonan maaf karena tidak bisa membantu.

Begitu saya menyampaikan penolakan itu bapak itu marah.

“Romo, saya rugi menjadi orang Katolik, kalau Gereja tidak bisa menjamin hidup saya sekeluarga. Saya ini menjadi orang Katolik karena dijanjikan hidup saya dijamin.

Sekarang saya ketemu Romo untuk minta bantuan ditolak.

Uang yang romo pegang itu uang umat, harusnya dibagikan ke umat, motor yang romo pakai itu adalah motor dibeli dari uang umat, harusnya ketika dipinjam oleh umat diberikan.”

“Bapak, kalau bapak menjadi Katolik karena agar hidupnya terjamin, dan Gereja memenuhi kebutuhan bapak, rumah yang layak dan makan yang enak, maka menurut saya bapak telah salah menjadi orang Katolik.

Seseorang menjadi Katolik, karena dia mencari jalan keselamatan. Seseorang menjadi Katolik karena mengimani Yesus Kristus yang adalah jalan keselamatan,” jawab saya.

Bapak itu pulang dengan marah.
 
Kiranya bapak itu telah salah memahami tentang iman. Dan ternyata bapak itu di kota lain juga meminta jaminan hidup dari paroki tempat dia pernah tinggal.

Ketika kemudian ditolak,  alu pindah.
 
Sebagaimana sabda Tuhan hari ini sejauh diwartakan dalam Injil Yohanes, orang yang mengikuti Yesus ditegur karena mereka mengikuti Yesus dengan pemahaman yang salah.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”
 
Bagaimana dengan aku?

Untuk apa aku mencari Tuhan?
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here