Jangan Mudah Menghakimi

0
482 views
Ilustrasi: Memasuki pintu biara.

Senin, 20 Juni 2022

  • 2Raj. 17:5-8.13-15a.18.
  • Mzm: 60:3.4-5.12-13.
  • Mat. 7:1-5.

DALAM hidup ini tentu kita sering bertemu dengan orang-orang yang dari segi penampilan berbeda-beda satu dengan yang lainnya.

Kita terkadang tanpa sadar maupun sengaja, memberi penilaian terhadap orang lain di sekitar kita. Menurut ukuran atau standar kita sendiri dan pendapat orang lain.

Perlu dipahami bahwa menilai seseorang tidak menentukan siapa mereka. Hal itu justru menentukan siapa diri kita.

“Aku bahagia sudah bisa berdiri di tempatku saat ini,” kata seorang biarawan mengawali syeringnya.

“Untuk sampai pada kehidupan seperti saat ini ini telah banyak jalan yang aku lalui dan selusuri, dengan keringat dan bahkan airmataku,” lanjutnya.

“Pada awal aku melangkahkan kaki keluar rumah untuk mewujudkan cita-citaku menjadi seorang biarawan tidak sedikit orang yang meragukanku,” kenangnya.

“Pilihanku untuk menjadi biarawan telah mengagetkan banyak orang, kaum kerabatku dan juga teman-temanku,” lanjutnya.

“Orang-orang tidak yakin akan pilihanku, mereka meragukanku, bahkan sempat aku dengar omongan mereka yang sangat tidak mengenakkan; saya dituduh hanya mau cari hidup enak, mau mencari sekolah gratis, mau menaikan gengsi keluarga,” kenangnya.

“Semua omongan itu sama sekali tidak aku masukan ke dalam hati. Aku hanya berdoa semoga aku bisa melangkah dengan baik dan benar,” lanjutnya.

“Jika aku berhenti dan mengurusi omongan orang, mungkin aku sudah selesai dan tidak pernah bisa sampai pada kehidupan seperti yang saya hidupi saat ini,” tukasnya.

“Orang menilaiku kadang sesuai dengan pikiran dan pengetahuan mereka, bahkan mereka menilai atas dasar omongan orang yang mereka dengar,” paparnya.

“Maka kadang yang kita dengar bukan semata-mata apa yang sebenarnya terjadi dan tengah kita hidupi namun soal rasa penasaran dan ingin tahu orang lain atas diri kita,” sambungnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.

Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Yesus menegaskan bagaimana kita harus bersikap jujur dan terbuka dengan sesama.

Menghakimi dan melihat segala kesalahan atau kelemahan orang lain, meski itu sekecil kuman, adalah pekerjaan yang paling mudah dilakukan. Sedangkan yang paling sulit adalah melihat kesalahan diri sendiri meski kesalahan itu begitu besar.

Larangan menghakimi bukan dimaksudkan agar kita berhenti menilai, melainkan harus menggunakan patokan yang jelas.

Ukuran untuk menilai harus objektif, artinya berlaku untuk semua termasuk diri si penilai.

Janganlah nilai buruk kita jatuhkan pada seseorang, sementara kita sendiri meleset dari standar yang berlaku untuk penilaian itu.

Hendaklah kita tidak jadi orang yang munafik, bisa omong dan menasihati orang lain, namun untuk diri sendiri kita tidak melakukan berbagai tuntutan yang kita minta kepada orang lain.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku dengan sadar dan dengan hormat menyampaikan kekurangan yang aku lihat pada diri sesamaku?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here