Jangan Takut Berteman dengan Orang yang Dianggap Salah

0
387 views
Ilustrasi: Merasa berdosa. (ist)

Sabtu, 15 Januari 2022

1Sam. 9:1-4.17-19; 10:1a.
Mzm: 21:2-3.4-5.6-7.
Mrk. 2:13-17

AJA cedhak kebo gupak nasehat kuno dari Jawa, yang berarti jangan berdekatan dengan kerbau kotor.

Maknanya, dalam bergaul, carilah teman yang baik, hindari berteman dengan orang yang tidak baik.

Orang yang tidak baik wajib dihindari.

Waktu kecil orangtua kita selalu mengingatkan untuk tidak bermain dengan teman yang nakal.

Konsep ini seringkali mewarnai diri kita hingga kita dewasa.

“Apa pun yang terjadi, tidak akan membuatku meninggalkanmu,” kata seorang bapak.

“Banyak hal miring yang saya dengar tentangmu. Itu membuatku sedih dan berharap itu tidak terjadi padamu,” lanjutnya.

“Saya hanya bisa membantumu dalam doa supaya berita yang saya dengar tidak benar. Namun jika pun benar, sikapku padamu tidak akan berubah. Kamu tetaplah sahabatku,” ujar bapak itu.

“Saat ini, aku tidak bisa bicara apa pun tentang diriku sendiri. Juga tentang permasalahan yang tengah saya hadapi,” kata sahabat itu.

“Biarlah kebenaran menampilkan wajahnya tanpa harus saya cemari dengan kata-kataku yang tentu hanya akan membela kepentinganku,” lanjutnya.

“Aku kasihan padamu, aku tidak sampai hati mendengar caci maki, dan kata-kata penuh ejekan, hinaan, yang ditujukan padamu,” kata bapak itu.

“Situasi seperti ini, saya diam salah, bicara pun lebih salah lagi,” sahut sahabatnya.

“Jika banyak teman meninggalkanku dan memandangku dengan sinis, saya bisa menerima dan maklum,” lanjutnya.

“Memang tidak ada untungnya bagi mereka tetap bersamaku saat ini,” lanjutnya lagi.

“Namun betapa berharganya ketika ada orang sepertimu yang tetap setia menjadi sahabatku,” ujar sahabat itu.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian.

“Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”

Tindakan Yesus, yang makan bersama pemungut cukai mendapat tanggapan negatif dari kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat.

Karena pemungut cukai dianggal sebagai orang berdosa, maka harus dijauhi.

Maka jangan makan bersama mereka, sebab itu memalukan, menjijikkan, dan membuat diri sendiri menjadi najis.

Namun Tuhan Yesus bertindak lain karena memang Dia datang untuk orang yang berdosa, orang yang malang, orang yang sakit dan orang yang tersingkir untuk dirangkul dan diangkat kembali supaya punya masa depan yang baru.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku ikut menyingkirkan orang yang dianggap bersalah atau mau menemani untuk bangkit dari kesalahannya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here