“Jason Bourne”, Gagal Berdamai dengan Masa Lalu

1
780 views
Matt Damon memainkan peran Jason Bourne alias David Webb. (Ist)

SETIAP orang punya kilas sejarahnya masing-masing ketika harus menoleh ke belakang. Kali ini, Jason Bourne (Matt Damon) gagal meraih kedamaian, ketika setengah dipaksa oleh rekan sesama agen CIA bernama Nicky Parsons (Julia Stiles) harus menelan kenyataan sangat pahit. Ternyata, almarhum ayahnya sendiri Richard Web adalah sang pemrakarsa black ops bersandi Threadstone dengan tugas merekrut anaknya sendiri: David Webb yang kemudian harus berganti identitas diri sebagai Jason Bourne.

Ingatan masa lampau ini rupanya terlalu menyakitkan. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri di Beirut, ketika ayahnya menjadi korban black ops oleh petinggi CIA Robert Dewey (Tommy Lee Jones) bersama agen komplotannya Malcolm Smith karena dianggap akan menggagalkan Treadstone. Gagal berdamai dengan masa lalunya berikut pedih menerima fakta dirinya anak Richard Web inilah yang membuat peta konflik batin dalam diri Jason Bourne semakin menjadi-jadi.

Moralitas

Amarah Jason Bourne sedemikian kencang meletup, setelah mendapati Nicky Parsons mati kena tembakan jarak jauh oleh ‘mesin pembunuh’ CIA bernama sandi The Asset (Vincent Cassel), sisa masa lalu dalam black ops Blackbriar. Dari sinilah, sekali lagi seperti sekuel film-film sebelumnya, Bourne mesti bertangan besi dan tak kenal ampun menghadapi gerombolan para pembunuh dari Langley –markas besar CIA di Virginia—kiriman Dewey.

Lazimnya labirin sebuah kejahatan, maka di situ ada pula orang yang masih punya ‘nurani’.  Adalah agen CIA perempuan bernama  Heather Lee (Alicia Vikander) –kepala desk cyber ops—yang semula juga berniat menangkap Bourne, namun belakangan ‘nuraninya’ malah tergelitik ingin menyelamatkan Bourne, musuh ‘dari dalam’ dan buruan nomor satu CIA. Alasannya bernafas moral, karena Dewey sudah mulai merancang program black ops lanjutan pasca Threadstone yakni Iron Hand. Atas pertimbangan inilah, Lee memutuskan ‘melawan’ institusi.

Jason-Bourne
Jason Bourne alias David Webb (Matt Damon) ngebut di jalanan Ibukota Athena di Yunani memboncengkan Nicky Parsons (Julia Stiles) namun berakhir menyedihkan: motornya jatuh dan Nicky tewas kena tembakan jarak jauh bidikan The Asset. (Ist)

Lahir sebagai gagasan cemerlang dari novel Robert Ludlum dan kemudian dibesut sutradara Paul Greengrass, Jason Bourne 2016  ini  merupakan sekuel film kelima dengan punya nafas cerita berbeda dibanding sekuel ke-4 film sebelumnya: The Bourne Legacy dengan bintang utamanya Jeremy Renner. Ketiga sekuel film sebelumnya mengambil Matt Damon sebagai pemain intinya dengan jalinan kisah bertema sama. Yakni, Jason Bourne yang telah kehilangan memori masa lampau, jago kepruk, sangat licin ditangkap dan tidak kompromi terhadap kekerasa, sekalipun harus melawan komplotan jahat kiriman Langley, Virginia.

Baca juga:   “The Bourne Legacy”, Bourne tanpa Bourne

Selain Parsons dan Lee di tubuh internal CIA, maka di luarnya juga ada sosok bermoral lainnya yakni  Aaron Kaloor (Riz Ahmed), pemimpin kelompok bisnis sosmed Deep Dream. Tak banyak diketahui publik, bisnis ini ternyata didanai CIA namun melalui saluran operasi gelap (black ops) dengan tujuan mengoperasikan program black ops lanjutan bernama Iron Hand.

Membaca jalinan kisah masa lalu Bourne dalam Jason Bourne 2016 memanglah tidak mudah. Sebuah labirin sangat rumit mulai terkuak satu per satu dan sepanjang masa menguak memori masa silam inilah adegan baku tembak dan kekerasan mewarnai film sepanjang dua jam lebih ini. Kesannya agak rumit memang, belum lagi ada introduksi di awal film yang sama sekali tidak relevan untuk konteks cerita secara keseluruhan: Bourne menjadi seorang petarung di Albania,  tak jauh dari garis perbatasan Yunani.

Yang suka dengan kekerasan dan kebut-kebutan bisa terhibur, ketika Jason Bourne bersama Nicky Parsons harus berlari kencang dengan sepeda motor polisi guna menghindari sergapan The Asset. Yang lebih suka dengan operasi-operasi intelijen akan terhibur dengan dunia teknologi informasi modern yang kian cepat memindai keberadaan manusia entah kapan dan dimana pun berada.

Hilangnya privasi

Masa lalu setiap orang, apalagi di zaman internet ini, bisa jadi kini sudah kehilangan privasinya lantaran bisa dipindai oleh cakapnya mesin-mesin teknologi informasi.

Pun pula nasib malang yang telah menimpa Jason Bourne. Dulu, ia aslinya bernama David Webb. Namun, berkat kecanggihan teknologi modern, identitasnya ‘dilenyapkan’ untuk kemudian mengambi nama baru sebagai Jason Bourne.

Ketika masa lalunya terkuak, Jason Bourne alias David Webb berontak karena ternyata rentetan sejarah masa silamnya itu tidak lebih dari sebuah rekayasa  sejarah. Karena itu, sulit bagi Bourne alias David Webb bisa berdamai dengan masa lalunya sendiri, apalagi ketika tahu bahwa ayahnya telah menjadi korban operasi black ops dari sebuah rekayasa yang lahir dari otaknya: Threadstone.

1 COMMENT

  1. Menurut saya Heather Lee jg cacat moral pada saat bagian akhir..dia tetap ingin membunuh Bourne jika ybs tidak mau kembali ke CIA…
    Buat saya Jason Bourne tidak bisa digolongkan sebagai orang yg gagal berdamai dgn masa lalu…kondisi real yg membuat dia harus terus berlari dibandingkan harus mengkhianati hati kecil nya sendiri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here