Kamis, 4 Maret 2021: Ingat Sebelum Telat

0
377 views
Ilustrasi - Sombong. (Ist)

Kamis, 4 Maret 2021

Bacaan I: Yer 17:5-10
Injil: Luk 16:19-31

“KANCIL itu lari sekencang-kencangnya, namun setiap kali dia teriak, “Keong kamu sampai mana?”

Keong yang jauh di depan Kancil selalu menyahut, “Aku sudah sampai di sini,” cerita seorang bapak menghantar tidur anak-anaknya.

“Kancil yang licik dan sombong itu dikalahkan oleh kekompakan Keong, binatang yang dihina Kancil sebagai binatang yang lambat dan pemalas,” lanjut bapak itu.

Ketika cerita itu selesai anak-anak telah tertidur pulas.

“Usahakan tidur, Mas. Nanti jam tiga subuh kita berangkat,” kata bapak yang saya ikuti selama masa orientasi sosial sebagai pemulung.

“Ya, pak,” jawabku, berusaha memejamkan mata di sudut bedeng beralaskan tikar, dengan ditemani racun nyamuk bakar di dua tempat; satu dekat kepala dan satu dekat kaki.

Mungkin karena menghirup racun nyamuk itu atau karena penat seharian jalan ikut mulung, saya pun tertidur pulas.

“Bangun, Mas, mari kita berangkat,” kata bapak itu sambil menyiapkan karung dan alat jepit.

Mataku masih terasa berat, namun sejuknya udara pagi itu membuat saya merasa cepat segar.

“Mas nanti kumpulkan saja bekas botol plastik sejenisnya, biar kardus dan kertas yang lain bapak yang ambil,” katanya.

“Ya, pak,” jawabku.

Selama tiga pekan saya ikut jadi pemulung. Bapak yang saya ikuti tinggal di gubug kecil, dengan isteri dan tiga anaknya yang masih kecil.

Setiap malam, saya dengarkan cerita pengantar tidur yang menuntun saya menyusuri kisah-kisah masa kecilku.

Anak-anak ini sangat beruntung bahwa mereka masih mendengarkan dari mulut bapak atau ibunya cerita keindahan hidup.

Cerita yang setiap malam disampaikan bukan hanya sekedar penghantar tidur, tetapi ajaran moral, kisah persahabatan, pantang menyerah pada keterbatasan, dan inisiatif untuk mencari jalan sebagai pemenang.

Dalam cerita itu bapak dan ibu menitipkan mimpi dan harapan pada anak-anaknya untuk hidup lebih baik dari mereka saat itu.

Melalui cerita itu, bapak dan ibu ingin anak-anaknya hidup lebih bahagia dan tidak menderita seperti mereka.

Hari ini kita dengar dalam bacaan Injil, ”Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu Bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingatkan mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka kelak jangan masuk ke dalam tempat penderitaan itu.”

Betapa sedihnya orang kaya itu, karena penyesalan tidak ara guna lagi. Dalam deritanya dia ingin saudaranya yang masih di bumi ini hidup berbeda dengannya supaya tidak mengikuti jejaknya dan masuk dalam tempat penderitaan.

Bapak dan ibu pemulung telah berjuang memperbaiki nasib dan masa depannya khususnya anak-anak yang dipercayakan Tuhan pada mereka.

Dengan segala kemampuan, mereka telah memberi dasar hidup bagi anak-anaknya supaya kelak dalam situasi apa pun tidak menjadi orang yang arogan, sombong dan tidak peduli dengan sesama.

Kemiskinan dan keterbatasan yang mereka alami telah mengajarkan tentang perjuangan hidup yang senantiasa harus dilakukan setiap waktu.

Tidak ada yang bisa mengubah masa depan mereka kecuali diri mereka sendiri.

Bagaimana mengingatkan orang yang sombong dan angkuh supaya menjadi rendah hati?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here