Kapel Unika Atma Jaya Terima Relikwi Santo Joseph dari Cupertino

0
2,416 views

SANTO Josep dari Cupertino, pelindung dan pendoa bagi para mahasiswa, khususnya bagi mereka yang kesulitan di dalam studi dan menempuh ujian, sekarang dapat ditemui di Kapel Albertus Magnus, Kampus Semanggi Unika Atma Jaya.

Pada 18 Maret 2016, Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo mempersembahkan misa pemberkatan relikwi tersebut di Kapel Atma Jaya yang terletak di lantai 13 Gedung Karol Woytla. Gedung ini dinamai dengan nama kecil Santo Paus Yohanes Paulus II karena memang diresmikan oleh Paus tersebut pada saat kunjungan bersejarahnya ke Indonesia pada 1989. Misa konselebrasi tersebut dipimpin Mg. Suharyo bersama Romo Hardijantan Derwaman Pr, Romo Kees Bertens MSC, dan Romo Benyamin.

Relikwi orang kudus tersebut diberikan kepada Unika Atma Jaya oleh Romo Salvatore M Sabato OFM Conv lewat perantaraan Bapak G. Hidayat Tjokrodjojo. Romo Salvatore pernah bertugas di Paroki St. Lukas Sunter, dan relikwi diberikan dalam rangka 50 tahun imamat Romo Salvatore.

Relikwi yang istimewa tersebut berisi bagian kecil tubuh Santo Josep dekat hati/jantung. Relikwi ini diletakkan di ruang kaca samping kanan Altar dalam kapel Albertus Magnus tersebut.

berita acara penyerahan relikwi
Naskah berita acara serah terima relikwi Santo Joseph dari Cupertino. (Royani Lim/Sesawi.Net)

Siapa Joseph dari Cupertino?

Joseph lahir di Cupertino, Lecce, Italia Selatan pada 17 Juni 1603. Ia berasal dari keluarga sederhana, ayahnya berprofesi sebagai tukang sepatu. Di sekolah ia dikenal bodoh dan lamban. Tugas-tugas sekolah yang paling mudah pun tak mampu diselesaikannya.

st joseph
Santo Joseph dari Cupertino konon bisa terbang. (Ist)

Kesehatannya terus bermasalah hingga usia 10 tahun. Berbagai macam penyakit menyerangnya sampai-sampai ibunya putus asa. Banyak uang telah dikeluarkan untuk biaya perawatannya. Sampai suatu ketika ibunya membawa Joseph kepada seorang pertapa yang tinggal tak jauh dari Cupertino untuk didoakan. Berkat doa pertapa tersebut dan iman ibunya, Joseph sembuh dari penyakitnya.

Joseph amat tertarik dengan cara hidup Santo Fransiskus Asisi. Pada usia 17 tahun ia diterima dalam novisiat bruder-bruder Kapusin. Joseph pemuda yang minder, kurang cerdas sehingga banyak tugas gagal dilakukan. Ia kerap menjatuhkan tumpukan piring dan lupa menunaikan tugas yang diperintahkan.

Relikwi dalam wujud potongan tubuh ragawi Santo Joseph dari Cupertino kini ada di Kapel Atma Jaya Jakarta. (Royani Lim/Sesawi.Net)

Joseph dikeluarkan dari biara setelah 8 bulan hidup di sana. Ia sedih namun tidak putus asa. Ia tetap teguh pada cita-citanya menjadi seorang biarawan. Pamannya, seorang imam Conventual, menolong Joseph sehingga ia diterima bekerja di biara Conventual dan ditugaskan menjaga kuda-kuda. Sesekali ia harus mengemis di kota untuk kepentingan biara. Dengan sabar dan penuh tanggung jawab Joseph lakukan tugas-tugas tersebut. Lama kelamaan ia malah dikenal sebagai seorang biarawan yang saleh baik oleh penduduk kota maupun oleh rekan-rekan di biara. Hidupnya yang suci menjadi teladan bagi yang lain.

Maka Joseph diizinkan memasuki masa novisiat Conventual. Ia banyak melakukan silih. Joseph diterima menjadi anggota Ordo Fransiskan dan mulai belajar untuk menjadi seorang imam. Ia mengalami kesulitan dalam studi namun dengan ketekunan dan pertolongan Tuhan, akhirnya ia lulus ujian akhir dan ditahbiskan imamat pada tahun 1628.

Walaupun Joseph masih kesulitan membaca teks teologi yang rumit namun uniknya ia dapat memecahkan masalah-masalah teologi. Joseph juga mendapatkan anugerah Allah dapat terbang. Banyak orang menyaksikan ia terangkat dari tanah ketika mempersembahkan Ekaristi atau berdoa. ia sering larut pula dalam pembicaraan dengan Allah. Ia juga mendapatkan karunia penyembuhan.

Tidak heran, saat itu Pastor Joseph menjadi terkenal dan dicari banyak orang. Rumah biara selalu dikerumuni banyak orang untuk menemui Pastor Joseph. Oleh sebab itu, pemimpin biara memindahnya ke biara terpencil selama 35 tahun hingga wafatnya. Bagi Joseph itulah kesempatan untuk bersama-sama dengan Kristus.

Pada tahun 1663 Pastor Joseph wafat dalam usia 60 tahun. Joseph dinyatakan kudus oleh Paus Clemens XIII pada tahun 1767. Ia adalah pelindung dan pendoa bagi para mahasiswa, khususnya mereka yang kesulitan di dalam studi dan menempuh ujian.

Homili Mgr. Suharyo

Mgr. Suharyo mengaitkan relikwi Santo Joseph dengan bacaan pada hari itu dalam homilinya.

Menurut Uskup Agung Jakarta sejak 28 Juni 2010 ini, pesan terakhir masa Pra Paska  adalah bahwa umat diajak makin mengenal siapa Yesus Kristus. Yaitu wajah Allah yang berbelas kasih, murah hati, dan maha rahim. Karena belas kasihnya Ia masuk dalam sengsaraNya. WafatNya bukanlah suatu kecelakaan, tetapi merupakan pilihan bebas. Hal ini menjadi panggilan kita sebagai murid Yesus untuk mengikuti Dia dalam sengsaraNya yang akan diperingati pada Jumat Agung.

“Relikwi bukan jimat atau jampi-jampi; relikwi adalah tanda kita dipanggil mencapai kesempurnaan kasih sebagaimana dicapai Santo Yoseph dari Cupertino. Penanda untuk terus mengikuti Yesus sampai kepada kepenuhanNya”, demikian tegas Uskup kelahiran Sedayu pada 9 Juli 1950 ini di akhir homilinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here