Kapel untuk Suster Lansia, Impian Enam Tahun Silam

0
90 views
Kapel untuk para suster lansia di kompleks Rumah Retret Laverna Padangbulan, Lampung. (Sr. Fransiska FSGM)

SIAPA sangka mimpi Sr. M. Julia Juliarti enam tahun yang lalu menjadi kenyataan berkat uluran kasih banyak orang. Mimpi membangun kapel untuk para lansia di RR La Verna, Padangbulan.

Pemberkatan kapel

Kapel lansia yang diberi nama Santo Fransiskus Assisi itu diberkati oleh Romo Petrus Subowo SCJ dalam Perayaan Ekaristi, Senin, 8 Juni 2020, sekaligus mengawali retret para suster.  

Pemberkatan kapel diadakan internal, karena wabah pandemi Covid-19 masih meraja lela dan semua orang harus menaati protokol kesehatan.  Pembatasan jarak dan jumlah orang berkumpul.

Hadir Pemimpin dan Wakil Provinsial, Sr. M. Aquina dan Sr. M. Albertha. Selain itu, hadir pula arsitek sekaligus pengawas pembangunan Edy Sumitro beserta isteri, para suster komunitas La Verna dan suster peserta retret.

Mewujudkan mimpi

Ide membangun kapel lansia ini berawal dari keprihatinan karena kurangnya tempat gazebo untuk diskusi atau syering kelompok bila ada pertemuan besar.

Seiring munculnya ide itu, suatu hari Sr. M. Claudia melihat beberapa pondasi yang mangkrak. Letaknya di seberang ruang makan RR La Verna. Selidik punya selidik, ternyata pondasi itu sudah dibangun enam tahun yang lalu oleh Sr. M. Julia, yang waktu itu menjabat sebagai pemimpin provinsi.

Prosesi pemberkatan kapel. (Sr. Fransiska FSGM)

Kala itu Sr. M. Julia mempunyai mimpi membangun sebuah kapel atau ruang doa bagi para lansia. Ia sering memperhatikan para romo, suster, dan peziarah yang datang mau berdoa di kapel harus naik ke lantai tiga atau turun menuju kapel bawah dengan melewati banyak anak tangga, karena kontur tanah rumah retret ini berbukit-bukit. Sayang mimpi itu tidak terwujud karena masalah dana yang belum mencukupi. Akhirnya pondasi itu dibiarkannya hingga enam tahun berlalu.

Dua hal itu, ada pondasi mangkrak dan kebutuhan akan suatu tempat untuk para tamu, membuat Sr. M. Claudia berani menyampaikan idenya itu kepada Sr. M. Aquina dalam suasana santai.

Arah pembicaraan semakin jelas, ketika Sr. M. Aquina mengajukan pertanyaan yang membuat seseorang berfikir yang lebih luas lagi, “mungkinkah jika di atas tanah yang sudah ada pondasinya itu dibuat sebuah kapel atau ruang doa bagi para lansia sesuai harapan dan impian awal Sr. M. Julia?”

Mendengar itu Sr. M. Claudia berfikir, membangun kapel bagi lansia toh juga untuk pelayanan. Selain itu, juga tempat untuk memuji Tuhan, tentu banyak orang akan mendukung dan membantu. Ia yakin bahwa Tuhan akan mengutus para malaikat untuk membantu menyelesaikan proyek ini.

Selesai tepat waktu

Mulailah berbagai upaya dilakukan. Ekonom Propinsi, Sr. M. Ferdinande, menghubungi Edy Sumitro untuk menggambar bangunannya, mencari tukang bangunan dan para ahlinya.

Tim RR La Verna mulai bergerak mencari dan mengumpulkan dana. Mereka mencoba menghubungi para donatur dan pemerhati karya dan pelayanan FSGM. Selain itu, membuat video yang mengungkapkan kerinduan dan harapan untuk mewujudkan suatu mimpi enam tahun yang silam. Lalu disyeringkan kepada tamu dan peziarah yang datang.

Prosesi dan pemberkatan kapel secara internal di tengah badai covid-19. (Sr. Fransiska FSGM)

Awal mula datanglah 160 sak semen, di mana ketika itu belum memiliki apa-apa. Malah beberapa dermawan ada yang menelpon menawarkan bantuan. Satu demi satu bahan bangunan datang, seperti: plafon, atap, AC, mimbar, monstran, tulisan kapel, keramik lantai dll. Pembangunan berjalan setahap demi setahap.

Ketika bangunan kapel ini selesai, datanglah virus pandemi Covid-19. Para suster dan tim bangunan semakin yakin, bahwa Tuhan menghendaki adanya kapel bagi para lansia. Ia yang memulai, Ia pula yang menyelesaikannya. “Cara Tuhan bekerja sungguh luar biasa,” ujar Sr. M. Claudia.      

Kapel untuk suster lansia berdiri di atas tekstur tanah miring. (Sr. Fransiska FSGM)

Tuhanku, Segalaku

Kapel St. Fransiskus Assisi ini letaknya strategis dan kontur tanah datar. Lokasinya, dekat dengan kamar penginapan, ruang makan, ruang pertemuan. Jadi, tidak membutuhkan banyak jalan untuk menuju ke ruang doa itu.

Meski kapel ini dibangun untuk para lansia, namun tidak menutup kemungkinan bagi yang bukan lansia, jika mau menggunakan kapel itu, dengan syarat tidak dipakai oleh kelompok lansia atau kosong.

Menurut Romo P. Subowo SCJ, kapel lansia ini sebagai bentuk pelayanan memperhatikan orang yang tak berdaya, di mana kekuatan dan kesehatan seseorang telah menurun. Ia memohon agar para suster dan tamu yang datang menimba dari hati-Nya yang Maha Kudus di tempat ini.

Sr. M. Aquina mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu dalam bentuk apa pun sehingga kapel ini selesai tepat waktu.

Semoga semakin banyak orang hadir untuk memuji Tuhan di atas bukit ini dan mengalami perjumpaan dengan Tuhan seperti yang dialami Santo Fransiskus. Deus Meus et Omnia, Tuhanku Segalaku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here