Katedral Pontianak Face-off karena Tuntutan Zaman

1
2,450 views

MENARA setinggi 22 meter itu pun perlahan-lahan runtuh. Dan saya terkesiap menyaksikan peristiwa “hilangnya” salah satu ikon penting di Pontianak: bangunan Katedral Santo Yosep Pontianak harus mengalami face-off alias dirombak total untuk diganti bangunan baru atas nama tuntutan zaman dan kebutuhan riil.

Bunyi martil yang menghantam bangunan tembok tua itu berpadu dengan suara kendaraan yang lalu-lalang di Jl. Pattimura, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (13/6/11). Sisa-sisa beton yang dulu begitu kokoh, kini tinggal menjadi bongkahan-bongkahan material yang terjun dari ketinggian 22 meter, lalu terjerembab menubruk bumi! Setiap terdengar suara ketokan martil, saat itu juga disusul bunyi material yang runtuh.

Siang itu udara cukup terik menyengat Pontianak yang sering disebut Kota Khatulistiwa. Tak banyak yang peduli dengan kegaduhan di bangunan yang berusia lebih dari satu abad itu. Seakan kejadian itu tak lebih dari perobohan bangunan biasa. Padahal, proses lenyapnya satu ikon kota yang amat penting tengah terjadi. Ya, itulah suasana pembongkarang bangunan tua Kathedral Santo Yosep Pontianak.

Di menara setinggi 22 meter itu, sebelumnya tergantung sebuah lonceng besar. Juga ada jarum jam raksasa di sudut-sudutnya  yang bisa menjadi patokan pengguna jalan yang tergesa mengejar jadwal masuk kerja. Atau di malam hari, dentang yang terdengar berat dan menggema, ikut mewarnai suasana kota. Teng, teng, teng…

Penancapan tiang pertama

Sesungguhnya, proses pembongkaran sudah dimulai dalam sebulan belakangan. Hanya saja belum terlalu terasa, karena –seperti kata Uskup Agung Pontianak Mgr. Hieronymus Bumbun OFM Cap beberapa waktu lalu—proses pembongkaran itu dimulai dengan “yang kecil-kecil dulu”.

Tetapi siang di hari itu, aktivitas di tempat para imam Kapusin dari Negeri Kincir Angin yang memulai karyanya di Pontianak sekitar 100 tahun lalu itu terasa agak berbeda dari hari-hari biasanya. Pagar seng telah dipasang mengitari gereja dan pastoran sekaligus perisai seng itu lalu menghalangi pandangan ke dalam. Dari beberapa celah, terlihat para pekerja cekatan menyusun berbagai material, mengangkut ke suatu tempat dengan gerobak dorong, dan sebuah alat berat yang menderu-deru.

Minggu (12/6/11) lalu, Gubernur Kalimantan Barat Cornelis telah melakukan penancapan tiang utama. Tanggal 1 Mei 2011 malam, Monsinyur Bumbun juga telah memimpin misa perpisahan di gedung tua itu. Selama 14 pekan ke depan, perayaan ekaristi dialihkan ke Aula Pasifikus Santo Yosep Katedral yang berlokasi di belakang bangunan gereja tua itu.

Beda tafsir

Menyaksikan Gereja Katedral Pontianak yang sudah tua namun bersejarah itu yang perlahan-lahan mulai diambrukkan itu telah menimbulkan perasaan tersendiri. Khususnya, saya warga Pontianak.  Pemerintah setempat pernah mengklaim bangunan gereja katedral ini sebagai warisan budaya yang tidak boleh dibongkar. Namun, klaim itu hanya berhenti sampai pada tingkat pernyataan, karena toh juga tidak pernah ada upaya konkret bagaimana seharusnya bangunan sejarah ini mesti dirawat.

Di sisi lain, kebutuhan umat akan gedung baru tak bisa dimungkiri, terlebih dengan bertambahnya jumlah umat katolik di Kota Pontianak. Menurut catatan, gedung gereja katedral yang sudah berumur ini hanya sanggup menampung 1.100 orang. Rencana gedung baru berarsitektur gaya ghotic dengan kubahnya yang megah didesain bisa menampung tiga kali lipat dari kapasitas gedung lama.

Dengan dana tak kurang 45 miliar, wajah Katedral Pontianak yang baru nanti diharap bisa face off dan syukur-syukur bisa sedikit menyerupai kemegahan Basilika Santo Petrus di Vatican City. Ada kemegahan, kerja keras terpatri di tiang-tiang utama, suasana kebersamaan dan kepedulian ikut terangkum di dalamnya.

Program face off sudah digelar dan atap-atap sirap yang terbuat dari kayu ulin berbentuk tipis namun kokoh sedikit demi sedikit mulai dilepas. Petugas bertopi pengaman tampak nangkring di ketinggian, menantang tajamnya sinar matahari. Suara luruhnya material bangunan berpadu dengan deru alat berat yang membantu pekerjaan mereka. Alat berat yang bagai pancing bergerak perlahan namun pasti memindahkan bagian-bagian yang tak terjangkau oleh tenaga manusia.

Bangunan tua itu memang harus menyerah menghadapi tantangan zaman. Dia harus berkorban, meski banyak cerita kehidupan yang menyertainya untuk digantikan dengan bangunan baru yang modern dan kukuh.

Kembali saya teringat ucapan Monsinyur Bumbun yang saya temui suatu sore di halaman katedral itu.  “Rasa sayang pada bangunan lama … Itu artinya bangunan ini harus kita pelihara dan dibangun kembali sehingga menjadi lebih kokokh dan kuat. Itu wujud rasa sayang.”

Severianus Endi, wartawan di Pontianak, Kalimantan Barat; penulis blog http://www.kilodua.com

Photo credit: Severianus Endi

1 COMMENT

  1. Wah, sedikit terkejut dengan berita ini. Saya termasuk orang yang senang mengikuti misa di Gereja Katedral ini saat bertugas di Pontianak. Salah satu yang berkesan ya bangunan Gereja yang terbuat dari Kayu Ulin. Sangat khas Kalimantan dan unik. Semoga bangunan Gereja yang baru nanti, dapat terus mengantar umatnya untuk terus memuliakan nama Tuhan, dan tidak berhenti hanya pada kebanggaan fisiknya saja.

    AMDG.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here