Kearifan Lokal di Semagung Lestari: Dusun Pabrik Pastor, Suster, dan Bruder dekat Sendangsono

1
553 views
Imbauan publik "Stop Piknik" menjadi salah satu informasi advokasi publik di Semagung. (Ist)

KEPUTUSAN pemerintah telah memberlakukan protokol kesehatan. Mewajibkan setiap orang mengenakan masker, rajin cuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, hindari kerumunan. Semua ini merupakan pilihan cara untuk mencegah meluasnya pandemi Covid-19.

Pandemi ini sudah terjadi sejak enam bulan lalu. Tidak saja  berdampak pada suasana hati dan perilaku seseorang menjadi sedih, cemas, bosan sampai pada hilang akal. Tetapi juga mengubah cara berinteraksi antarsesama.

Baik  secara individu, cara interaksi  dalam suatu kelompok baik pada kelompok  non formal maupun pada kegiatan lembaga formal. Seperti saat ini masih berlangsung kegiatan belajar mengajar di sekolah dilaksanakan secara daring, rapat, pertemuan virtual.

Dalam hal interaksi antarindividu, silahturahmi antaranggota keluarga juga terganggu. Kunjungan keluarga pada masa liburan tidak dapat dilakukan. Upaya untuk saling melepas kangen antara orangtua dengan anak atau cucu yang berada di perantauan dengan bertatap muka  tidak dapat terwujud.

Namun semua ini terjadi semata-mata sebagai bentuk partisipasi masyarakat yang dengan sadar ingin agar pandemi segera dapat dikendalikan. Di kota maupun di desa, pedalaman. Demikian situasi tersebut dialami pula oleh keluarga-keluarga asal dusun Semagung, Kalibawang, Banjar Oyo, Kulon Progo, Jawa Tengah.

Yang menetap di dusun itu atau mereka yang berasal dari daerah itu dan tinggal di perantauan.

Dusun Semagung dapat dikategorikan sebagai dusun pedalaman, sepi, jauh dari keramaian dan rumah-rumahnya terletak di lereng-lereng bukit.

Hunian di lereng bukit

Dusun Semagung terletak di kawasan Perbukitan Menoreh, DIY. Rumah-rumah keluarga di dusun ini bertebaran di salah satu lereng yang sebagian besar miring ngetan. Sebutan masyarakat setempat dengan arti  “menghadap ke sebelah Timur”. Permukiman penduduk ini berada dalam satu lokasi dengan Gua Maria Sendangsono.

Rumah di lereng-lereng bukit. (Tony Warsito)
Pemandangan indah di lereng bukit seberang Gua Maria Sendangsono. (Mathias Hariyadi)
Tekstur tanah berundak-undak di kompleks Gua Maria Sendangsono namun dibuat indah oleh almarhum Romo Mangunwijaya Pr. (Mathias Hariyadi)

Gua Maria juga menghadap ke timur. Terletak di lereng bagian bawah. Sedangkan bagian paling bawah lereng ini ada sungai. Menjadi batas dari dua bagian lokasi gua. Di lereng di seberang gua yang menghadap ke barat juga terdapat  sebuah dusun. Menempati lereng  bagian atasnya.  

Wilayah Perbukitan Menoreh ini sejak zaman dahulu telah menjadi permukiman penduduk. Ada tujuh dukuh berdekatan dengan Gua Maria Sendang Sono.

Rumah–rumah penduduk di pedukuhan ini juga terletak di lereng-lereng. Sedemikian rupa sehingga lereng satu dengan lereng lainnya menjadi “bertetangga”. Terletak sebelah menyebelah. Menjadi tempat hunian warga dari dusun yang berlainan. 

Kurun waktu sampai tahun 1980-an, keluarga yang ingin mendirikan rumah tempat tinggal harus mempersiapkan tempat dengan membuat baturan. Ini sebutan untuk sebidang tanah rata yang sengaja dibuat dari lereng yang berundak-undak, sesuai ukuran rumah yang akan dibangun.

Pekerjaan itu dilakukan secara manual menggunakan cangkul dan egreg. Inilah sebuah tempat pengangkut tanah galian yang dibuat dari anyaman bilah bambu.

Namun sejak tahun 2.000-an ribuan hal itu jarang dilakukan karena rumah rumah dibangun sesuai dengan bentuk kontur tanah dan hasilnya lebih indah. Seperti yang terlihat dari beberapa bangunan di sekitar Gua Maria Sendangsono saat ini.

OMK Sendangsono mengusung patung Bunda Maria dalam rangka menyambut peserta Asian Youth Day 2017. (Mathias Hariyadi)
Kontingen dari Malaysia, Korea, dan lainnya mengunjungi Sendangsono dalam rangka 7th Asian Youth Day 2017. (Mathias Hariyadi)

Tim relawan lingkungan

Sebagai upaya mendukung program pemerintah mengendalikan penyebaran Covid-19 di lingkungannya, serta usaha menanggung bersama beban hidup warganya, Yohanes Pius N. Jati, Ketua Lingkungan Dusun Semagung berinisiatif membentuk tim relawan. Terdiri dari keluarga muda dan pemuda.

Melalui aplikasi WhatsApp, Mas Pius – demikian warga lingkungannya biasa memanggilnya- memaparkan tim relawan saat ini berjumlah 25 orang. Tim ini bekerja secara sukarela atas dasar kesadaran dan kepercayaan. Bahwa beban berat yang dialami oleh keluarga-keluarga di lingkungannya pada masa sulit ini akan menjadi ringan, apabila warga saling mendukung dan menjaga satu dengan lainnya.

Penyemprotan disinfektan.

Kegiatan tim relawan antara lain melakukan sosialisasi “pola hidup bersih dan sehat”;  mewajibkan setiap orang dalam keluarga menyediakan tempat cuci tangan di depan rumah; mewajibkan setiap orang sering-sering cuci tangan dengan sabun; mengenakan masker setiap kali keluar rumah.

Secara berkala tim relawan melakukan penyemprotan desinfektan di setiap rumah keluarga. Meski terlihat bahwa kegiatan-kegiatan tersebut seperti kegiatan fisik semata, di sisi lain kegiatan mendatangi rumah-rumah ini menjadi salah satu bentuk sapaan dan peneguhan kepada penghuni rumah.

Meyakinkan mereka tidak sendirian. Ada bentuk penguatan. Terutama kepada mereka yang sudah sepuh atau mereka yang tinggal sendirian.

Tim relawan juga membantu memfasilitasi keperluan-keperluan pelaksanaan pola hidup bersih dan sehat di setiap rumah.

Timoteus Warsito, Ketua RT 65 dusun ini, memberitahukan jumlah penduduk Semagung ada 166 jiwa. Terdiri dari 77 KK (Kepala Keluarga).

Per Kepala Keluarga, rata-rata tinggal berdua; bapak dan simbok. Beberapa rumah  hanya ditempati satu orang, beberapa lagi bahkan tidak ada penghuninya, kosong. Lantaran  anak–anak atau generasi mudanya, dengan berbagai sebab, lebih banyak  menetap di luar wilayah itu. Seantero kota di seluruh Indonesia.

Pabrik pastor, suster, dan bruder

Panggilan hidup sebagai biarawan atau biarawati yang berasal dari dusun ini. Terhitung banyak. Jumlahnya mencapai paling sedikit 23 orang sebagai romo, suster, dan bruder. Mereka tinggal di luar daerah, menyebar di kota–kota. Bahkan beberapa menjadi misionaris di luar Indonesia.

Mereka tinggal sangat berjauhan. Namun sebagai orang rasal dari dusun sama, ikatan kekeluargaan antarwarga dapat dikatakan masih erat. Saling kenal dan saling tahu siapa nenek, kakek, bapak, simbok, anak atau cucu siapa.

Semagung Lestari

Pius mencoba mengkomunikasikan kegiatan-kegiatan di lingkungan Semagung untuk para perantau asal lingkungan Semagung melalui WA Group “Semagung Lestari” dan Instagram Lingkungan Semagung.

Rasa rindu pada tanah kelahiran bagi mereka di perantauan, atau rasa kangen bapak, simbok kepada anak dan cucu yang tinggal di perantauan dapat sedikit terobati. Berkat informasi-informasi lewat WA Group atau video-video pendek yang diunggah lewat Instagram Lingkungan Semagung.

Mas Pius menyampaikan berikut.

 “Tujuan wadah ini –WA Group Semagung Lestari dan Instagram Lingkungan Semagung– sebagai sarana berbagi informasi. Tentang apa dan bagaimana geliat lingkungan Semagung serta bagaimana keadaan, kondisi para perantau.”

Melalui Instagram Lingkungan Semagung ini, Mas Pius mengunggah kegiatan-kegiatan tim relawan seperti usaha ketahanan pangan dengan budidaya ikan lele, kegiatan penyempotan desinfektan ke rumah-rumah, serta pesan bapak dan simbok untuk anak dan cucunya di perantauan.

Kegiatan sukarela di kalangan pemuda.

Pesan telah disampaikan oleh, misalnya, keluarga Widyoprasetyo, Edy Wiyanto, dari keluarga Purwanto, dan dari keluarga T. Warsito. Keluarga–keluarga itu menyampaikan salam kepada anak cucu dari ‘pawon’; dapur di rumahnya masing-masing, dekat ‘luweng’, tungku tradisional yang terbuat dari tanah dengan bahan bakar dari kayu.

Tungku dari bahan semen untuk memasak ini biasa disebut “luweng”. (Tony Warsito)

Sambil ‘nggodhok wedang’, merebus air untuk membuat teh atau kopi. Dengan berbagai kirim pesan agar:

  • tetap ‘dongo dinongo, saling berdoa;
  • ‘jogo kuwarasane’, jaga kesehatan dan kabar bahwa ‘bapak simbok nang kene diparingi bagas waras, bapak dan simbok dalam keadaan sehat;
  • serta ‘podho sing tenang lan terus nyenyuwun marang Gusti supoyo pageblug iki enggal lungo’,  harapan agar tetap tenang menghadapi situasi sekarang ini;
  • terus  berdoa kepada Tuhan, agar pandemi ini segera berakhir.

Menanggapi keberadaan WA Group Semagung Lestari ini, Sr. M. Martina di Tuban, Jawa Timur, menulis demikian. “Saya senang dapat berjumpa sanak saudara lewat medsos ini.”

Sedangkan Sr. Hedwig AK (Abdi Kristus) yang tinggal di Bali, menulis: “Saya senang dengan WA grup ini, meski jauh tahu kiprah desa tercinta, saya dukung dengan doa.”

Pontianak, 21 September 2020

Br. Dinus Kasta MTB — putera asli Semagung.

PS: Kredit foto Tony Warsito & Yohanes Pius.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here