Kebahagiaan Muncul Setelah Penderitaan

0
468 views
Ilustrasi - Buat hadiah kejutan untuk bahagia. (Ist)

Jumat, 27 Mei 2022

  • Kis. 18:9-18.
  • Mzm. 47:2-3.4-5.6-7.
  • Yoh. 16:20-23a

TIDAK ada suatu kebahagiaan di mana pun yang datang dengan sendirinya. Selalu ada proses dan perjuangan yang mestinya dijalani sebelum kita mencium kebahagiaan.

Kebahagiaan tidak datang menjemput kita, jika kita hanya ongkang-ongkang kaki, diam menanti.

Kebahagiaan atau sukacita harus dilalui dengan perjuangan berat seperti bunyi pepatah: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”.

Perjuangan menjadi harga yang mesti kita bayar, sebelum kita bisa merasakan sukacita atau kebahagiaan.

“Banyak orang mengira kamu sudah tidak akan kembali lagi, setelah dipermalukan oleh mertuamu,” kata seorang bapak kepada temannya.

“Kalau menuruti perasaan dan gengsi, saya pasti sudah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi,” jawab temannya tu.

“Namun yang aku tahu, bahwa hidup tidak hanya berdasarkan perasaan, namun juga pertimbangan pikiran dan hati,” lanjutnya.

“Maka selama ini, saya berusaha menyingkirkan rasa marah, kecewa, saya ingin menunjukkan kepada mertua dan saudara lain serta kepada anak dan isteriku, bahwa saya tidak seperti yang mereka sangka selama ini,” imbuhnya.

“Kata-kata mereka saya jadikan energi positif dalam hidup, hingga mendorongku untuk bertobat dan memperbaiki jalan kehidupanku,” sambungnya.

“Setelah lima tahun, saya sudah tidak lagi jadi benalu di dalam keluarga, saya punya usaha bengkel sendiri, dan dari tabungan usaha itu saya bisa membeli rumah meski sederhana,” tugasnya.

“Hidupku dulu yang ditentang mertua sudah saya tinggalkan, dan kini justru mereka sendiri yang memintaku mengambil isteri dan anak-anakku untuk tinggal bersamaku,” lanjutnya.

“Ini memang menjadi kisah rumahtanggaku, saya harus diusir dan dimarahi mertua untuk masuk dalam pertobatan dan menemukan pembaharuan hidup,” ujarnya.

“Kadang konflik, bahkan penderitaan dan kesulitan harus kita alami sebelum kita menyentuh hidup yang diwarnai sukacita dan kebahagiaan,” sambungnya.

“Penderitaan bukan akhir segalanya namun kadang justru awal lahirnya kemungkinan baru yang penuh kebahagiaan,” tegasnya.

Dalam bacaan Injil hari ini kita dengar demikian,

“Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.”

Dalam hidup ini, sering terjadi peristiwa-peristiwa yang membuat kita begitu menderita, mengalami kesedihan, dukacita yang mendalam, merasa tidak bahagia dsb..

Entah karena berpisah dengan orang yang kita cintai, karena kegagalan dalam usaha atau mengalami ketidakberdayaan karena difitnah dan diperlakukan sewenang-wenang dan tidak adil.

Entah konflik dengan pasangan, mertua dan bahkan dengan anak-anak.

Bagaimana pun keadaan kita, macam apa pun situasi ketidakpastian yang terjadi dalam hidup kita.

Ingatlah janji Yesus dan yang sudah digenapi-Nya. Yesus mati disalib, namun Dia bangkit dengan mulia.

Dia pergi meninggalkan murid-murid-Nya namun Dia datang kembali melihat mereka.

Berhadapan dengan dinamika hidup beriman yang demikian, kita harus tetap setia dan berpengharapan bahwa Tuhan tetap menyertai.

Kita harus percaya bahwa “tidak pernah ada yang sia-sia dari sebuah kesetiaan akan janji Tuhan”.

Bagaimana dengan diriku?

Apakah aku teguh dalam berjuang dan tidak gampang mutung?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here