Kebahagiaan Sejati ala Kliwon

0
191 views
Ilustrasi (ist)

DI dalam system kalender tradisi Jawa, sepekan (sepasar) terdiri dari  lima hari. Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi. Dikenal sebagai Pancawara.

Hari-hari itu dulu sering dipakai untuk nama orang. Mungkin disesuaikan pada saat dia lahir.  Maka dijumpai nama Wage, Pon atau Kliwon.

Sayang, tradisi ini semakin langka. Jarang (sekali), bayi di era milenial diberi nama hari pasaran. 

Beruntung, saya masih mengenal seseorang bernama Kliwon.

Kliwon berasal dari Desa Gunung Wetan, Jati Lawang, Banyumas. Kami bertemu pertama kali sekira 27 tahun lampau. Kala itu, ia  sering bersepeda hilir-mudik di kampung kami.

Kliwon hidup seorang diri, tak punya isteri dan anak; juga tak ada keluarga lain. Pekerjaannya tak jelas, mocok sana, mocok sini.

Tempat tinggalnya tak menentu. Sering nongkrong di depan warung bubur atau kadang lesehan di lahan parkir sekolah.  

Kliwon hidup menggelandang.

Satu hal kadang menyulitkan, Kliwon tak mudah diajak berkomunikasi.

Pertama, pendengarannya lemah. Kedua, pemikirannya sederhana.

Beberapa tetangga menyebut, “Kliwon rak patio ganep”.

Suatu ketika, sekian puluh tahun lampau, tak ingat tepatnya, saya minta tolong Kliwon membersihkan halaman rumah kami. Bahasa kerennya, Kliwon saya tawarkan menjadi “tukang kebun”.

Ia langsung mengangguk setuju.

Singkat kata, kemudian, Kliwon bersama kami.

Tiap pagi ia datang, mulai menyapu, memotong rumput, memangkas daun, dan berbagai pekerjaan sejenis lainnya.

Sekira pukul 09.00, ia beristirahat sejenak untuk coffee break, atau kadang-kadang light breakfast, tergantung suplai dari dapur.

Setengah jam kemudian, Kliwon mulai bekerja lagi sampai lunch time.

Disambung tea afternoon dan sore hari Kliwon bersih diri untuk pulang; entah ke mana.

Dinner dilakukan di mana saja. Tergantung tempat yang dirasa nyaman. Kadang uang makan malam terpakai, tapi sering utuh karena dapat makan gratis dari pemilik warung.

Demikian sekilas kegiatan harian Kliwon, dari Senin hingga Sabtu. Minggu libur, istirahat, untuk mulai lagi di awal pekan berikutnya.

Kualitas pekerjaannya “biasa-biasa saja”.  Saya menyebutnya “It’s okay-lah”.

Bebannya tak berat-berat amat, upahnya pas-pasan, tempat tinggal tergantung di mana ia berkenan meletakkan badan dan kepalanya.

Beberapa kali saya tawari mau tinggal di rumah kami, tapi Kliwon menolak. Mungkin karena membuatnya tak bebas lagi.

Satu hal yang membuat saya salut adalah bagaimana Kliwon menjalani hidup ini.

Kliwon menapak hidup dengan sederhana.  Tapi saya tahu persis, ia bahagia.

Ia tak pernah marah atau kecewa. Wajahnya datar-datar saja. Tapi kewajibannya  dipenuhi sebaik-baiknya.

Uang bukan sesuatu yang membuat Kliwon satisfaction atau dissatisfaction. Dua kali saya mencobai dia dengan terlambat membayar upah bulanan. Kliwon bergeming.  Pekerjaaannya tak terusik. Business as usual.

Mungkin karena kebutuhan hidup dianggapnya sudah “terpenuhi”, ia tak pernah protes.

Semuanya dirasa cukup. Saya bisa menangkapnya saat Kliwon bekerja sambil rengeng-rengeng (bersenandung) dengan wajah ikhlas. Itu isyarat syukur yang senantiasa diucapkan dari dalam hatinya.

“Kebutuhan hidup” dia atur pas dengan apa yang tersedia dan dapat diraih.

Dibuatkan KTP, ia menggeleng. Dijelaskan tentang BPJS tak didengarkan.  Apalagi pesan tentang betapa mudah dan amannya ia menyimpan uang, bila mempunyai rekening bank dan kartu ATM.

Maka jurang menganga antara kebutuhan dengan apa yang diperolehnya tak pernah bercokol di hatinya.  Kesenjangan itu yang membuat manusia kecewa, stres atau frustasi.

Kliwon bukan Sultan Tangsel. Sangat jauh disebut crazy rich. Tak punya baju Burberry, jam Rolex atau cincin permata. Tapi hidupnya damai karena berkelimpahan berkat.

Kliwon adalah contoh nyata yang jarang ditemui bagaimana orang bisa memenuhi penggalan syair lagu Koes Plus dalam lagu Bujangan.

Hati senang walau pun tak punya uang.”

Meski sangat sulit mengikutinya, Kliwon layak menjadi alat peraga, bagaimana kebahagiaan sejati bisa diraih.

Manusia sering mengejar sesuatu dengan arah yang keliru, padahal hidup sekadar menjalankan rencana-Nya. Tak heran kalau Kliwon tak pernah sakit, tak pernah sedih, tak pernah menggerutu, tak pernah memusuhi orang lain.

Ia tak pernah meminta, meminjam atau menuntut apa pun, dari siapa pun. Yang ada di depan, dia jalani, yang tak ada tak dipikirkannya.

Itulah rahasia bagaimana Kliwon bisa hidup bahagia.

“Urip mung sakdermo nglakoni.”

@pmsusbandono

7 September 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here