Kebangkitan Nasional, Kesadaran Baru sebagai Bangsa

0
139 views
Ilustrasi: Cinta Tanahair Indonesia dengan melantunkan lagu nasional "Padamu Negeri" (Romo Titus Jatra Kelana Pr)

Puncta 12.04.21
Senin Pekan Paskah II
Yohanes 3: 1-8

PADA tanggal 20 Mei kita selalu memperingati hari Kebangkitan Nasional. Tanggal itu adalah lahirnya Boedi Oetomo, sebuah organisasi mahasiswa STOVIA pada 1908.

Wahidin Soedirohoesodo adalah penggagasnya.

Ada kesadaran baru para pemuda agar rakyat jelata juga bisa mengenyam pendidikan tinggi. Semboyan mereka adalah Indie Vooruit (Hindia Maju), bukan Java Vooruit. Ini adalah sebuah kesadaran baru.

Sukuisme berubah jadi nasionalisme.

Dalam diskusi selanjutnya, muncul Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang pro perjuangan. Ia memberi roh baru dalam perjuangan kaum muda.

Ia mulai memperkenalkan kata “Tanah Air Indonesia” sebagai nafas perjuangan. Gerakan ini tidak hanya aksi kultural memajukan pendidikan, tetapi berkembang menjadi gerakan politik memperjuangkan kemerdekaan.

Ini sebuah langkah maju buah nasionalisme.

Maka lahirnya Boedi Oetomo dipandang sebagai lahirnya kesadaran baru tentang nasionalisme. Dimulainya semangat Kebangkitan Nasional.

Istilah “Tanah Air Indonesia” menumbuhkan kesadaran untuk merdeka. Perjuangan kemerdekaan itu melahirkan sebuah bangsa baru yakni Bangsa Indonesia, ketika Soekarno memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Inilah babak baru lahirnya sebuah bangsa.

Nikodemus, seorang Farisi terkemuka, datang waktu malam dan berbicara dengan Yesus. Malam hari adalah waktu yang cocok untuk syering iman. Tapi bisa jadi ada nuansa takut ketahuan sesama Farisi, karena ia mendatangi Yesus, pihak seberang.

Pembicaraan mereka sangat berbobot dan mendalam. Nikodemus punya kesadaran pribadi yang baru.

Ia berbeda dengan orang Farisi lainnya. Ia menerima bahwa Yesus adalah guru utusan Allah.

“Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya.”

Yesus mengajak Nikodemus melangkah lebih jauh, masuk ke dalam kesadaran baru. Untuk melihat tanda-tanda hadirnya Kerajaan Allah, orang harus dilahirkan kembali.

Nikodemus semakin ingin tahu, penasaran.

Bagaimana bisa lahir kembali, kalau ia sudah tua?

Nikodemus masih berpikir “cethek”, dangkal atau di tataran fisik material semata.

Masuk ke dalam rahim seorang ibu dan lahir kembali.

Yesus memasuki tataran lebih dalam yakni lahir bukan secara kedagingan, melainkan dari air dan Roh.

Kelahiran baru itu bukan kelahiran daging, melainkan kelahiran Roh.

Roh Kudus menerangi kita dan memberi kesadaran baru dan eksistensial.

Saya membayangkan Nikodemus itu seperti Douwes Dekker. Ia berani melahirkan pemikiran “Tanah Air Indonesia”.

Pemikiran itu lalu dilahirkan kembali dalam wujud kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan teman-temannya.

Nederland Indie lahir baru menjadi Indonesia.

Kelahiran dari air dan Roh itu adalah kesadaran baru, semangat dan keyakinan baru yang memerdekakan kita menjadi anak-anak Allah.

Jika kita mau menerima Yesus, kita akan punya kelahiran baru, kesadaran baru yang memerdekakan.

Bunga-bunga bermekaran,
Menghiasi taman dengan indah.
Karena rahmat pembaptisan,
Kita lahir baru sebagai anak-anak Allah.

Cawas, selalu bersyukur…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here